Kamis, 30 Januari 2020

ASEP SUPARMAN UBAH SISWA TAWURAN MENJADI BERPRESTASI



Hari ke-14, 30 Januari 2020
Workshop Menulis Bersama Om Jay
Narasumber: Asep Suparman
Disusun oleh: Rosiana Febriyanti
================================

Bapak Asep Suparman memulai karirnya di dunia pendidikan dengan menjadi guru kontrak yang diangkat Direktur Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Depdiknas tahun 2004 yang ditempatkan di SMKN Lubuk Ubar, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu melalui program SMK Kecil di SMP.

Pada akhirnya tanggal 14 Februari 2014 hingga sekarang (2019) beliau diberi amanah mulia menjadi kepala sekolah di sekolah yang dirintisnya.  Beliau adalah kepala sekolah yang ketujuh di sekolah tersebut.



Selain sebagai kepala sekolah, beliau juga sejak tahun 2015-2017 aktif sebagai asesor Akreditasi Sekolah/Madrasah yang tergabung dalam Badan Akreditasi Provinsi Bengkulu; aktivitas lainnya juga aktif menjadi Ketua pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Rejang Lebong; dalam organisasi profesi guru, penulis juga aktif sebagai sekretaris Pengurus Kabupaten PGRI Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Di sela-sela rutinitas padatnya aktivitas kesibukan, beliau meluangkan waktu untuk menulis best practice, artikel Pendidikan dan buku non fiksi. Beberapa buku dan karya tulis yang telah ditulis di antaranya berjudul: Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Outcome untuk SMK Maju; Sukses Story Kepala SMK; Revolusi Mental Warga Sekolah untuk SMK Maju; Peningkatan Prestasi Sekolah Sarpras Terbatas dan Mayoritas Siswa Quadran IV; Penerapan Manajemen Prosi Plus Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Sekolah di SMKN 3 Rejang Lebong; Manajemen Berbasis Prosi Mengubah Pasir Menjadi Mutiara; Biografi Perjalanan Guru Kontrak Menjadi Kepala Sekolah Berprestasi.

Perjalanan hidup sejak dari guru kontrak bermetamorfosis menjadi guru CPNS, guru PNS/ASN hingga menjadi kepala sekolah berprestasi sekaligus penulis dan aktivis PGRI merupakan anugerah yang sangat berarti bagi beliau. Dari setiap episode kisah pengalaman hidup membutuhkan kesabaran dan kegigihan dalam perjuangan. Mulai dari episode pertama sebagai guru kontrak (2004 – 2006) dengan pola kontrak 3 tahun, honorarium Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) per bulan yang bersumber dari APBN. Karena penulis sebagai guru perintis pada sekolah yang baru berdiri maka beliau mengajar beberapa mata pelajaran dan mencari siswa sendiri ke setiap desa di sekitar sekolah. Basic beliau adalah guru mata pelajaran kejuruan perikanan. Sebelum dikirim menjadi guru kontrak, penulis mendapatkan Training of Trainer (TOT) Guru kejuruan perikanan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Guru Kejuruan Pertanian di Cianjur Jawa Barat selama lebih kurang 192 jam pelatihan. Selain itu di Rejang Lebong penulis juga mengambil pendidikan akta IV pada salah satu perguruan tinggi yang ada di Rejang Lebong Bengkulu.

Perjuangan mendirikan sekolah baru di daerah yang dilakukan adalah pada tiga tahun pertama, semua siswa di sekolah yang dirintis tidak dipungut biaya apapun yang penting mau sekolah. Pada episode sebagai guru kontrak, beliau mendapatkan honorarium satu juta per bulan dari APBN.

Beliau berasal dari Pamanukan Kabupaten Subang Jawa Barat dan mengabdikan diri sebagai guru kontrak pusat di salah satu SMK Rintisan di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

Pada tahun 2006 beliau mengikuti tes CPNS dari formasi honorer dan dinyatakan lulus. Dari sisi berorganisasi, sejak tahun 2004-2007 beliau aktif di forum komunikasi guru bantu (FKGB) Kabupaten Rejang Lebong, kemudian 2007 – 2009 aktif di anak lembaga PGRI yaitu menjadi pengurus Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Kabupaten Rejang Lebong, kemudian pada konferensi kabupaten tahun 2009 mulai masuk menjadi pengurus harian sebagai wakil sekretaris PGRI Kabupaten Rejang Lebong masa bakti 2009-2014 dilanjut masa bakti 2014-2019 menjadi sekretaris PGRI Kabupaten Rejang Lebong.
Pada episode kedua ini penulis menjadi guru CPNS dan menjadi PNS/ASN. Setiap kegiatan sekolah penulis dituntut paling aktif dalam mengabdikan diri di sekolah hingga diamanahi sebagai wakil kepala sekolah di sekolah yang dirintis tersebut.

Mulai Februari 2014, beliau diamanahi sebagai kepala sekolah oleh Bupati Rejang Lebong. Awal memimpin sekolah keadaan sekolah serba terbatas dan mayoritas siswa berasal dari kalangan keluarga secara ekonomi tidak mampu dan secara kemampuan akademik siswa lemah. Atas kerjasama yang baik dan doa semua warga sekolah beliau mengubah sekolah yang kurang diminati hingga meningkatnya animo masyarakat melalui penerapan manajemen berbasis problematika dan solusinya (prosi) mampu meningkatkan prestasi siswa dan sekolah.

Pada masa peralihan PNS SMA/SMK ke Provinsi, pada bulan Januari 2017 beliau dikukuhkan kembali sebagai kepala sekolah oleh gubernur Bengkulu. Sejak 2017-2019 sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah model Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), mulai tahun 2019 menjadi sekolah rujukan dan di akhir 2019 terpilih menjadi sekolah yang akan direvitalisasi pada tahun 2020. Sejak tahun 2019 lulusan sekolah yang beliau pimpin diterima di negara Jerman dalam program magang kerja sambil kuliah.



Beberapa prestasi yang telah diraihnya di antaranya adalah: mendapat penghargaan Gubernur Bengkulu sebagai guru berdedikasi tinggi tahun 2011; Juara I Guru SMK Berprestasi Tingkat Kabupaten Rejang Lebong tahun 2012; Juara I Guru SMK Berprestasi Tingkat Provinsi Bengkulu tahun 2012; Finalis Guru SMK Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2012; Menjadi perintis pendirian Akademi Komunitas Negeri (AKN) Rejang Lebong tahun 2012; Finalis Review dan Diseminasi Hasil Penulisan Best Practice Guru tahun 2013; Juara I Lomba Inovasi Pengelolaan Satuan Pendidikan SMK Tingkat Regional Sumatera tahun 2015; Finalis Seminar Hasil-hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan Tingkat Nasional tahun 2015; Penulis selaku Kepsek sejak Maret 2015 kerjasama dengan Kodim 0409/Rejang Lebong dalam Pendidikan Karakter dan Bela Negara; Juara I Lomba Pemilihan Kepala SMK Berprestasi Tingkat Kabupaten Rejang Lebong tahun 2017; Juara II Lomba Pemilihan Kepala SMK Berprestasi Tingkat Provinsi Bengkulu tahun 2017; Finalis Lomba Simposium Nasional Kepala Sekolah dan Pengawas Tahun 2017; Juara II Lomba Best Practice Kepala Sekolah Tingkat Nasional Tahun 2018; Juara I Lomba Pemilihan Kepala SMK Tingkat Kabupaten Rejang Lebong (2018); Juara I Lomba Pemilihan Kepala SMK Tingkat Provinsi Bengkulu (2018); Juara 5 Besar Lomba Pemilihan Kepala SMK Tingkat Nasional (2018) dan Juara III Lomba menulis buku non fiksi Tingkat Nasional tahun 2019 yang diselenggarakan PB PGRI dalam rangka HUT ke 74 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2019..


Buku beliau memperoleh sambutan dari Gubernur Bengkulu.



Awal beliau diamanahi sebagai Kepsek, beliau hampir setiap hari melerai anak tawuran karena rata-rata guru SMK itu banyak didominasi ibu-ibu, tidak berani menindak jika ada anak berkelahi. Pernah guru juga diajak berkelahi oleh siswa. Maka beliau sebagai kepala sekolah dituntut berani menindak siswa di lapangan. Walaupun belum pernah berkelahi saat menjadi siswa, tetapi saat menjadi kepsek beliau dituntut oleh keadaan, jadi harus berani menghadapi siswa-siswa yang agak nakal membawa senjata tajam. Bahkan, saat itu di sekolah tidak ada OSIS, yang ada adalah organisasi siswa preman. Alhamdulillah, berkat Kolaborasi sekolah dengan Kodim dan Polres, sekarang tidak ada lagi. Adapun pola kolaborasi dengan Pemangku Adat setempat sudah pernah diterapkan, tetapi kurang efektif. Maka beliau mendatangi Komandan Kodim untuk diajak MoU.



Di Bengkulu juga sangat memegang adat, terhadap pelanggar hukum adat ada sanksi adatnya juga. Untuk menuntaskan permasalahan kenakalan remaja usia SMK lebih cocok menggunakan pola Taruna.

SMK juga menerapkan sistem ketarunaan (termasuk kegiatan apel pagi dan sore) untuk setiap siswa baru wajib ikut Latsar Disiplin taruna baru selama 3 bulan.

Beliau juga berbagi tips dalam menangani siswa yang berkebutuhan diperhatikan:
1. Guru mapel, Wali Kelas dan Guru BK harus berkolaborasi dalam menangani anak berkebutuhan tersebut.
2. Perlu ada home visit
3. Monitor dan komunikasi terus wali kelas dengan Wali siswa di dalam wadah paguyuban ortu.

"Saat saya ikut lomba kepsek SMK Berprestasi Tingkat Nasional, di hadapan seluruh Tendik, saya ditanya bagaimana mewujudkan Kolaborasi Guru dan Tendik di sekolah?
Maka saya jawab saat itu,
Membangun komitmen bersama warga sekolah dlm mewujudkan visi misi sekolah dan memberikan hak dan kewajiban yang proporsional sesuai tupoksi. Serta kita anggap semua warga sekolah itu mempunyai peran yang sama pentingnya, walaupun seorang penjaga sekolah, ibarat pentil ban, walaupun kecil, tetapi sangat besar pengaruhnya, coba mobil bannya tanpa pentil bisa jalan apa tidak?" jelasnya.

Beliau tidak menggunakan istilah "anak nakal". Yang beliau maksudkan berkebutuhan khusus di sini hanya pinjam istilah saja, sebenarnya anak yang nakal itu hanya butuh perhatian lebih saja.

Menghadapi pihak-pihak yang tidak menyukai kita, kiatnya adalah tidak perlu dibuat konflik, kita membutuhkan orang-orang seperti itu untuk melihat sisi yang tidak bisa kita lihat.


Sebagai penutup, beliau tak lupa memberikan kesimpulan dari diskusi malam ini.

Menulis Best Practice (praktik baik) bagi siapapun (guru, kepsek, pengawas) bisa, asal mau terus belajar dan tetap semangat membahana๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Ž๐Ÿ‘.

Best Practice itu yang jitu dan keren berisi pengalaman menarik beraroma inovatif solutif.

Untuk menjadi sebuah karya, praktik baik tersebut harus sudah dipraktikkan selama kurun waktu tertentu, misal minimal 2 tahun secara terus-menerus dan ada hasil berupa dampak positif yang signifikan terasa perubahannya.

Dari awal kita melakukan terobosan-terobosan berupa inovasi solutif dalam menghadapi keseharian kita maka bisa kita tuliskan pengalaman tersebut menjadi sebuah karya tulis best practice. Kemudian dari best practice bisa kita kembangkan lagi menjadi buku yang bisa diterbitkan.


Selamat mencoba dan terus mencoba, sukses buat kita semua.๐Ÿ™๐Ÿ˜

4 komentar:

  1. Bagus ,Bu , oke Bu, menyuarakan, SMK yg sekarang ini, terus berbenah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Bu. Ini perlu menjadi inspirasi bagi SMK-SMK lain agar image "anak nakal" bisa berganti menjadi "anak dengan segudang prestasi"

      Hapus
  2. Lengkap sekali reportase dan resumenya. Luar biasa!

    BalasHapus