Rabu, 04 November 2020

SEPASANG SAYAP ITU BERNAMA KHAUF DAN RAJA'


 

Secara bahasa khauf berarti ‘takut’. Secara istilah khauf adalah pengetahuan yang dimiliki seorang hamba di dalam hatinya tentang kebesaran dan keagungan Allah serta kepedihan siksa-Nya. Khauf merupakan rasa takut yang mencegah seseorang berbuat maksiat atau mendorongnya untuk taat. Kurang khauf menyebabkan seseorang lalai dan berani bermaksiat, tetapi khauf yang berlebihan akan menjadikannya pesimis dan mudah putus asa.

Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya:

1. Pengetahuan seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya

2. Pembenarannya akan ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan

3. Mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.

Seorang hamba yang mengetahui bahwa jika Allah sudah menghancurkan seluruh alam ini, tidak ada yang dapat mencegah-Nya, sehingga muncullah khauf (takut). Saat seseorang mulai melakukan kezaliman kemudian ia mengingat ancaman Allah akan balasan/azab yang kelak ditimpakan kepadanya, seketika itu muncul rasa khauf sehingga ia pun meninggalkannya. Ia tidak sempat memikirkan hal lain karena sibuk memusatkan perhatiannya kepada muroqobah (pengawasan) Allah, muhasabah (perhitungan diri), dan mujahadah (penggemblengan mental), sehingga tidak menyia-nyiakan umur untuk hal-hal yang tidak berguna dan menahan pandangannya dari dosa. Keadaan orang yang diliputi rasa khouf seperti berada di dalam rumah yang kebakaran, takut tertimpa atap penuh api, takut jasad habis terbakar, dan takut mati.

Adapun raja` secara bahasa artinya harapan atau cita-cita. Menurut istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Raja’ merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah SWT. Raja` juga bisa dimaknai sebagai berprasangka baik kepada Allah karena mengetahui luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi raja` dalam 3 bagian. Dua bagian termasuk termasuk raja` yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja` yang tercela. Yaitu:

1. Seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya

2. Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.

3. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela ialah seseorang yang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan. Raja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah: 218)

 Seorang mukmin memiliki rasa takut (khauf) terhadap ancaman, azab dan hukuman dari Allah Ta’ala. Namun di sisi lain, dia juga mengharapkan (raja’) kemurahan rahmat, kasih sayang dan ampunan Allah Ta’ala.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 90)

Namun, rasa takut (khauf) tidak boleh menyebabkan seseorang berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Selama dia bertaubat dengan benar dari dosa-dosanya maka dia yakin bahwa Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya. Misalnya, saat melaksanakan salat lima waktu kita harus takut atau cemas, jangan-jangan salat lima waktu kita tidak diterima. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga harus memiliki raja’, berharap kepada Allah semoga Allah menerima salat lima waktu kita.

Misalnya lagi, orang yang takut salatnya tidak diterima oleh Allah pada akhirnya membuat dia tidak semangat salat. Dia akan berpikir, salatnya tidak akan diterima, jadi buat apa salat. Hal ini merupakan keadaan orang yang putus asa dari rahmat Allah. Akhirnya, dia tidak mau bergerak, kemudian benar-benar gagal.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddinnya mengumpamakan orang yang memiliki Raja’ (harapan) ini seperti petani. Jika ada orang menanam benih di tanah yang bagus, tanahnya berpotensi untuk ditumbuhi tanaman. Lalu petani itu menyirami tanamannya dan menyingkirkan hama dan gulma. Lalu, dia berharap hasil panennya melimpah. Maka dialah pengharap yang benar.

Ada pula petani yang menanam benih di tanah yang bagus tetapi tidak disiram, dia hanya menunggu hujan padahal pada waktu itu bukan musim hujan. Dia juga tidak menyingkirkan penyakit-penyakit tanaman. Lalu, dia berharap panennya melimpah. Maka, orang tersebut termasuk pengharap yang bodoh karena panjang angan-angan.

Artinya, orang yang berharap dengan benar itu tidak hanya berharap. Akan tetapi, juga berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Jika tidak ada usaha, maka harapannya sia-sia.

Imam Al-Ghazali mengutip sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Orang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah agar mendapatkan surga.”

Khauf mendorong seseorang untuk bekerja dan beribadah dengan ihsan, sekaligus menundukkan nafsunya dari kecenderungan terhadap dunia.

Ah, betapa sering kita melalaikan salat, menunda-nunda salat, padahal Allah SWT telah berfirman, “Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai terhadap salatnya…” (Al-Maun: 4-5) Mungkin kita sering kali membanggakan amalan kita, menyebut-nyebutnya, padahal sungguh Allah membenci perbuatan sombong dan riya. “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali diniatkan ikhlas kepada-Nya dan mengharap wajah-Nya.” (HR. Abu Daud).

Abu Ali ar-Rudbary berkomentar, “Khauf dan raja’ adalah seperti sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang, si burung pun akan terbang dengan sempurna dan seimbang. Keduanya akan mengantarkan kita pada sikap waspada sekaligus penuh harap, waspada dari api neraka dan berharap masuk surga.

Abdul Qasim Al-Hakim bertutur, “Siapa yang takut terhadap sesuatu, ia akan lari darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Allah ia justru lari mendekati-Nya.”  Subhanallah, rasa takut kepada Allah tidak akan membuat kita jauh dari Allah, tapi kita justru semakin dekat kepada Allah.

Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah Saw bersabda,”Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan keyakinan hamba-Ku kepada-Ku. Aku juga bersamanya jika ia menyebut-Ku. Jika ia menyebutku  dalam dirinya. Akupun akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di suatu tempat, maka Aku menyebutnya di tempat yang lebih baik darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepada-Nya satu lengan. Jika ia mendekat kepada-Ku satu lengan, aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia mendatangiku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Imam Ahmad)

Duhai Rabb pemilik seluruh alam, Duhai yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Mengetahui segala isi hati, sungguh kami menyadari betapa banyak kesalahan, aib, dosa, dan perbuatan maksiat kami kepada Engkau, Kami telah berbuat  zalim dan aniaya terhadap diri kami, sementara kebaikan, amal shalih, dan ketaatan kami teramat sedikit.

Duhai Rabb yang Maha Pengampun, Maha penerima taubat, ampunilah kami, terimalah taubat kami, sungguh kami takut dan tak sanggup akan murka, siksa dan azab-Mu yang sangat keras. Duhai Rabb yang menguasai setiap hati, hujamkanlah rasa khauf ke dalam hati kami, curahkanlah rahmat dan petunjuk-Mu yang lurus kepada kami, sehingga kami selalu dalam ketaatan kepada-Mu, istiqamah di jalan-Mu, hingga kelak saat menghadap-Mu kami dalam keadaan khusnul khatimah dan Engkau ridha terhadap kami. Wallahu a’lam.

 

 


Referensi

Faridh, Ahmad. 1996. Pembersih Jiwa. Bandung: Penerbit Pustaka.

https://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2011/04/26/3650/antara-khauf-dan-raja-manakah-yang-kita-pilih.html diakses pada 4 November 2020 pukul 22.56.


 

Senin, 02 November 2020

KEGIATAN AKSI NYATA CGP Rina Rachmawati Kab.Bogor

 

Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata

Judul Modul             : Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara            Instruktur        : Dr. Achyar, M.Pd

Nama     Peserta       : Rina Rachmawati, S.P                                         Pendamping    : Dr. Wulan Widaningsih, M.Pd


Latar Belakang

Dalam proses pendidikan terdiri dari beberapa komponen, komponen yang paling utama adalah pendidik/guru dan peserta didik/ siswa . Selama ini dalam proses pembelajaran masih banyak yang didominasi oleh guru karena beranggapan bahwa siswa hanyalah obyek dalam pembelajaran. Semua kegiatan pembelajaran sebagian besar siswa yang mengikuti kehendak guru. Siswa harus mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah dirancang oleh seorang guru sehingga proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah . Siswa belum mendapatkan kemerdekaan dalam belajar.

Tujuan

1.       Menciptakan pembelajaran yang berpihak pada siswa

2.       Mewujudkan merdeka belajar di kelas

3.       Menggali potensi siswa melalui karya dan pemikiran

Tolak Ukur

1.     Adanya rancangan rencana pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pembelajaran yang berpihak pada siswa (RPP menerapkan 5 konsep KHD)

2.       Adanya rancangan kesepakatan pembelajaran dengan siswa dan disosialisasilakn kepada siswa

3.       Adanya dokumentasi berupa hasil karya siswa atau dokumentasi pemebelajaran lainnya

4.       Adanya dokumentasi kegiatan yang mencerminkan 6 karakter pelajar Pancasila (berdoa, sholat berjamaah, jumat bersih, presentasi , penelitian, pentas seni, wirausaha , 5S 


Lini Masa Tindakan

Perencanaan (28-31 oktober 2020)

1.        Membuat rencana pelaksanaan program pembelajaran (RPP) yang berisi 5 konsep pemikiran KHD yaitu menuntun, guru sebagai petani, bermain, budi pekerti dan menghamba kepada murid

2.        Membuat rancangan kesepakatan dengan murid terkait kegiatan pembelajaran

3.        Membuat program kegiatan  yang mencerminkan 6 karakter pelajar Pancasila baik dalam kegiatan pembiasaan, kegiatan tahunan ataupun dalam pembelajaran

Pelaksanaan (2-22 november 2020)

1.        Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat yang memuat 5 konsep KHD

2.        Membuat kesepakatan pembelajaran dengan siswa secara bersama dan diketahui oleh kepala sekolah

3.        Mensosialisasikan program pembiasaan yang mencerminkan 6 karakter pelajar Pancasila kepada kepala sekolah dan siswa  dan melaksanakannya

4.        Mendokumentasikan seluruh program dan kegiatan pembelajaran

Evaluasi (23-30 november 2020)

1.        Melakukan evaluasi program dengan melibatkan kepala sekolah dan   siswa , keberhasilan dan kegagalan

2.        Membuat perbaikan perbaikan


 Dukungan yang dibutuhkan

1.                                       Dukungan dari Kepala sekolah selaku pengambil kebijakan

2.                                       Dukungan dari rekan sejawat dan warga sekolah

3.                                       Dukungan dari siswa , orang tua , masyarakat

Alat dan bahan yang dibutuhkan

1.       RPP

2.       Alat untuk dokumentasi dan membuat karya

3.       Lembar kesepakatan dengan siswa

4.       Bahan bahan untuk membuat karya siswa (karton,spidol dll)


Artikel Penerapan Pemikiran Ki Hajar Dewantara di Kelas dan Sekolah

Oleh : Rina Rachmawati

CGP-SMPIT Al Kahfi -KAB.Bogor

 

Menggali Potensi Siswa dengan Pembelajaran Yang Berpihak Pada Siswa dan Kegiatan  Pembiasaan Berbasis Karakter

 

Pendahuluan

            Dalam proses pendidikan terdiri dari beberapa komponen, komponen yang paling utama adalah pendidik/guru dan peserta didik/ siswa . Selama ini dalam proses pembelajaran masih banyak yang didominasi oleh guru karena beranggapan bahwa siswa hanyalah obyek dalam pembelajaran. Semua kegiatan pembelajaran sebagian besar siswa yang mengikuti kehendak guru. Siswa harus mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah dirancang oleh seorang guru sehingga proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah .

            Anggapan bahwa siswa adalah obyek pembelajaran ternyata menjadikan siswa menjadi pribadi yang kurang kreatif , tidak bisa tergali semua potensinya karena sudah terpaku dengan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Siswa jarang ditanya apa yang mereka rasakan dalam proses pembelajarana, apa keinginan mereka dan bagaimana agar pembalajran menyenangkan tetapi mampu menggali semua potensi , bakat dan minat mereka sebagai seorang siswa . Sehingga wajar jika pembelajaran terkesan monoton, membuat lelah dan jenuh,  bahkan siswa terlihat terpaksa mengikuti setiap pembelajaran.. Terkadang guru menganggap bahwa pembelajaran adalah hak guru dengan berbagai macam alasan kekhawatiran  seperti ketuntasan  kurikulum, target ketercapaian pemebelajaran , melakukan penilaian dan lain sebagainya sehingga menjadikan siswa sebagai obyek dalam pembelajaran dan bukan subyek . Sehingga siswa belum mendapatkan kemerdekaanya dalam belajar . Kurangnya kegiatan pembiasaan menjadikan siswa menjadi kurang tergali potensinya .Walaupun tidak dominan hal ini dialami juga oleh siswa di SMPIT Alkahfi .siswa merasa belum bisa tergali potensinya karena hanya mengikuti rutinitas pembelajaran dan kegiatan keseharian sehingga perlu ditemukan solusi untuk menggali potrensi siswa .

Pembahasan

A.    Filososfi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Berdasarkan Pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa terdapat lima konsep utama dalam proses pendidikan . Kelima konsep tersebut adalah :

1.      Menuntun. Menuntun yaitu menuntun anak agar sesuai dengan kodratnya, sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pendidik berkewajiban menuntun  anak didiknya agar sesuai dengan kodratnya .

2.      Pendidik adalah petani. Pendidik adalah petani yang mempunyai beraneka bibit (peserta didik). Tugas petani adalah membuat bibit tersebut tumbuh sesuai kodratnya. Menyiram , memupuk dan menyiangi termasuk membasmi hamanya. Melalui tangan pendidik yang telaten maka peserta didik akan dapat tumbuh dengan baik sesuai kodratnya .

3.      Budi pekerti

Budi pekerti merupakan perpaduan antara pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang akan menimbulkan semangat . Hal itu akan melahirkan keseimbangan dan keselarasan hidup

4.      Bermain.

Bermain adalah kodrat anak. Aktifitas bermain merupakan bagian dari dinamika belajar terpadu yang ada pada setiap tumbuh kembang anak.

5.      Pendidikan yang berpihak pada anak

Bebas dari segala ikatan, bukan untuk meminta hak kepada anak tetapi menghamba (melayani ) dengan tulus, ikhlas dan cinta kasih  yang tak terbatas.

Berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut dapat dikatakan bahwa dalam proses pembelajaran seorang pendidik atau guru adalah fasilitator bagi siswa untuk dapat tumbuh sesuai kodratnya . Pembelajaran harus menyenangkan dan membuat siswa menjadi subyek atau pelaku utama dalam pembelajaran . Paradigma bahwa siswa hanyalah obyek dalam pembelajaran harus diubah karena secara kodrat siswa adalah kertas bergaris dan tugas seorang guru menebalkan garis kebaikan tersebut dan menipiskan garis keburukannya bahkan menghilangkannya. Pembelajaran harus membuat siswa sebagai pribadi yang merdeka dalam artian siswa dapat terfasilitasi untuk mengembangkan segala potensinya, mengatur dirinya sendiri tetapi tetap dalam bingkai tertid dan damai dan terhindar dari kebebasan tanpa batas.

B.                      Kegiatan Pembelajaran yang Berpihak Pada Siswa dan Kegiatan Pembiasaan Berbasis                   Karakter Untuk Menggali Potensi Siswa

Untuk menggali potensi siswa di SMPIT Alkahfi maka dilakukan beberapa langkah yang dimulai dengan perubahan dalam bidang pemebalajaran dan penerapan kegaitan pembiasaan . Maka melalui beberapa diskusi dan sharing dengan siswa maka ditemukan beberapa hal yang harus diubah .




Hal – hal yang harus diubah dalam proses pembelajaran diantaranya adalah :

a.       Pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran  yang berpusat pada siswa

b.      Pembelajaran yang hanya menjadikan siswa sebagai obyek menjadi pembelajaran yang menciptakan iklim nyaman dan menyenangkan pada siswa

c.       Mengubah suasana kelas yang monoton menjadi yang dinamis dengan pembelajaran yang menghargai segala hasil karya dan hasil pemikiran siswa

d.      Penilaian bukan hanya berbasis kognitif angka tetapi berbasis karya dan budi pekerti

e.       Pembelajaran yang belum merdeka menjadi merdeka belajar

Secara konkrit hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut ini :

a.       Memulai merancang pembelajaran yang berpihak pada siswa dengan menerapkan konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara (menuntun, petani, bermain, budi pekerti dan berpihak pada siswa )

Pembelajaran dirancang  dengan menerapkan 6 profil pelajar pancasila  yaitu beriman dan bertaqwa, gotong royong, mandiri, kebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif) melalui kegiatan pembiasaan seperti (berdoa, sholat berjamaah, jumat bersih, presentasi , penelitian, pentas seni, wirausaha , 5S, sambut siswa  dll) Dan tertuang didalam RPP

b.      Meminta dukungan rekan sejawat dan pihak sekolah ( kepala sekolah  dan warga sekolah ) untuk menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran

c.       Melibatkan siswa dalam mewujudkan merdeka belajar dengan membuat kesepakatan dengan siswa dan memperbanyak sharing pembelajaran yang menurut siswa menyenangkan, memunculkan kreatifitas dan percaya diri  sehingga terlihat potensi/keunikkan pada diri siswa

d.      Merancang penilaian yang menekankan pada pembentukan karakter siswa dan berbasis penghargaan terhadap siswa

e.       Menghargai hasil karya siswa dengan memasangnya di ruang belajar

f.        Siswa diberikan kebebasan memilih untuk menuangkan hasil keratifitasnya sesuai dengan potensi/bakat dan minatnya

A.    Hasil Kegiatan  Pembelajaran Yang Berpihak Pada Siswa  Dan Kegiatan Pembiasaan Berbasis Karakter

Hasil yang didapatkan  dari penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dilakukan adalah a.) terwujudnya pembelajaran yang berpusat pada siswa , siswa menjadi subyek dalam pembelajaran yang berperan penting dalam sebuah proses pembelajaran. b.) Terwujudnya merdeka belajar di kelas dimana siswa dapat merasakan pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan yang dia inginkan , siswa dapat mengeksplore segala pemikiran dan karyanya .siswa tidak merasa takut salah saat menyampaikan pendapat dan dapat mengekspresikan segala bakat dan minatnya c.) Tergalinya segala potensi siswa melalui karya dan pemikiran . Karya siswa dapat dipajang di dinding-dinding kelas , dijadikan sebagai media dalam pembelajaran . d.) terwujudnya kegiatan pembiasaan yang mencerminkan pendidikan karakter bagi siswa dan guru seperti budaya berdoa sebelum dan setelah memulai kegiatan,  5S, budaya hidup bersih , budaya disiplin, ekspresi seni , sambut siswa dan kegiatan lainnya . Seperti yang diungkapkan oleh Haura Syarifah siswi kelas 9 SMPIT ALKAHFI yang merasakan pembelajaran yang menyenangkan setelah guru menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa ., belajar menjadi lebih semangat . Begitu pula yang dialami oleh Calista Zalfa siswi kelas 9 , Calista merasa lebih berani mengungkapkan pendapat karena diberikan banyak kesempatan untuk menyampaikan gagasannya dalam kegiatan pembelajaran . Berbeda dengan Haura dan Calista , Raisa siswi kelas 9 merasakan lebih tergali potensinya melalui kegiatan pembiasaan seperti kegiatan pentas seni dan kompetisi .

 

B.     Pembelajaran Yang Didapat Dari Kegiatan Pembelajaran Ynag Berpihak Pada Siswa dan Kegiatan Pembiasaan Berbasis Karakter

Melakukan Kegiatan Pembelajaran yang mengacu pada filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas maupun di sekolah banyak memberikan pelajaran berharga diantaranya adalah terbentuknya kondisi  kelas  yang merdeka dalam belajar , siswa dapat berekspresi menciptakan pembelajaran yang menyenangkan menurut mereka, adanya pola hubungan kedekatan yang terbina antara guru dan siswa karena adanya sikap saling menghargai. Siswa menjadi pribadi yang berani untuk mengemukakan gagasan dan berekspresi dalam bentuk pemikiran maupun karya sehingga menjadi lebih produktif, terciptanya lingkungan sekolah yang nyaman dengan budaya –budaya kebaikan seperti budaya 5S, budaya religius. Siswa memiliki wadah untuk berekspresi melalui kegiatan-kegiatan seperti pentas seni, kompetisi antar kelas dan kegiatan lainnya .

Akan tetapi dalam pelaksanann  beberapa hal masih belum terlaksana secara optimal seperti kegiatan pembelajaran di kelas yang berpusat pada siswa belum dapat menjangkau seluruh siswa dengan berbagai macam karakteristik atau kekhasan individu , masih terdapat siswa yang belum bisa aktif dalam pembelajaran . Kegiatan aksi nyata  yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak bisa jika hanya dilakukan oleh beberapa orang saja perlu kekompkan dari semua pihak agar merdeka belajar dapat terwujud di sekolah . Sehingga dibutuhkan sosialisasi pada seluruh warga sekolah

 

C.    Rencana Perbaikan Untuk Masa Mendatang

Kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang berpihak pada siswa sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara disosialisasaikan terlebih dahulu kepada pihak tetkait bukan hanya Kepala Sekolah tetapi seluruh warga sekolah agar pembelajaran yang mengacu pada konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara yang berpihak pada siswa dapat dilaksanakan dan diterapkan secara menyeluruh sehingga hasil yang dicapai dapat lebih optimal

Kegiatan pembiasaan siswa lebih ditekankan lagi pada pembentukan profil pelajara Pancasila dan dijabarkan lebih detil dan mendalam kegiatan-kegiatan yang dapat dilkakukan untuk mencapai profil pelajar Pancasila tersebut

Kesimpulan

                  Dalam proses pembelajaran siswa adalah subyek dalam pembelajaran , siswa harus memiliki kemerdekaan dalam pembalajaran agar dapat tergali segala potensi kebaikannya dan menjadikannya sebagai profil pelajar Pancasila. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran yang perpihak pada siswa, menghargai hasil karya dan pemikiran siswa dan menerapkan kegiatan pembiasaan yang dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila yang merupakan cerminan pemikiran KiHajar Dewantara.


DOKUMENTASI KEGIATAN

Kegiatan Pembelajaran yang Berpihak Pada Siswa (menuntun), Siswa Berkolaborasi










Rabu, 16 September 2020

BELAJAR MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Tatap dirimu sendiri di depan cermin untuk meminta maaf kepada dirimu sendiri, untuk segala keputusan yang sempat salah kau ambil di masa lalu dan kau berulangkali memarahi diri sendiri di kala itu. Meminta maaflah kepada dirimu sendiri, atas perkataan menyakitkan yang kau lontarkan kepada dirimu sendiri berulang kali selama bertahun-tahun.

Sebelum tidur, kau bisa mengunci pintu kamar (agar tidak ada yang sembarangan masuk dan kaget melihatmu sedang bicara sendiri), kemudian menarik nafas panjang, mengangkat tangan kananmu menyentuh posisi jantung berdetak. Lalu katakan kepada dirimu sendiri,

“Maafkan aku (sebut namamu sendiri) karena selalu menyalahkanmu. Kamu padahal tak salah apa-apa, tetapi selalu kusalahkan terus. Dari aku lahir sampai sekarang, kamu selalu ada untukku tetapi kamu adalah satu-satunya yang paling sering aku hina-hina. Aku minta maaf ya, (sebut namamu sendiri). Aku sadar sekarang, bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadaku entah itu negatif atau positif, kata Allah itu yang terbaik. Sekarang, aku sedang berusaha untuk tidak menyalahkan kamu lagi, ini bukan salahmu. Aku akan berlatih lebih bersyukur lagi, sekarang aku lagi latihan bilang “Alhamdulillah ‘ala kulli hal’ yang artinya ‘Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan’. Aku sayang kamu, (sebut namamu sendiri). Terima kasih karena selalu menemaniku melewati hari-hari. I love you.”

Lakukan itu setiap hari sebelum kau tidur dan rasakan perubahan yang terjadi dalam hidupmu. Kehidupanmu akan berubah menjadi lebih tenang, saat kau mulai untuk menyayangi dirimu sendiri. Self-love itu penting, sayangi dirimu sendiri sebagaimana kau menyayangi orang lain.

(Tulisan ini repost dari tulisan teman, Bu Astriarini)

Selasa, 11 Agustus 2020

Topik Potensial untuk Dijadikan Tulisan

 

Tulisan yang baik adalah tulisan yang mudah dipahami pembaca, bukan yang bertabur istilah hingga pembaca harus mengernyitkan dahi/berpikir keras sambil menerka-nerka. Tulisan yang baik menurut saya adalah tulisan yang bermakna. Orang dapat mengerti tulisan kita dan dapat menginspirasi/mencerahkan jiwa dan pikiran pembaca, membuka wawasan, dan dapat mendorong pembaca untuk memperbaiki dirinya.


Belakangan ada penulis yang mengeluhkan mengapa tulisannya minim like dan komentar. Sebaiknya hal itu tidak membuat penulisnya kapok, gondok, dan mogok, tetapi teruslah menulis sambil memperbaiki kualitas tulisannya. Berikut saya tuliskan beberapa topik yang sebenarnya menarik untuk diolah menjadi sebuah tulisan. 


1. Budaya unik di kampungnya

2. Pengalaman budidaya ternak/tanaman

3. Pengalaman berkesan mengabdi di pesantren

4.Pengalaman sukses di kejuaraan/olimpiade/kompetisi masak

5. Pengalaman pertama memasak bareng suami

6. Pengalaman pertama menolong malah dapat rezeki

7. Pengalaman menjadi dropshiper barang dagangan

8. Pengalaman mengajar di pedalaman/daerah perbatasan

9. Pengalaman mengajak ngobrol turis dengan bahasa asing

10. Pengalaman mendaki gunung

11. Pengalaman menyapih anak

12. Pengalaman membiasakan anak untuk toilet training

13. Ilmu parenting

14. Kultum ramadan

15. Kenangan bersama almarhum ayah/ibu

16. Tak apa menjadi orang biasa (tidak punya prestasi)

17. Kebaikan adalah Prestasi

18. Nilai kejujuran 

19. Nilai Ketulusan

20. Pengorbanan dan cinta kasih 


Silakan kembangkan sendiri menjadi tulisan untuk membantu menyebarkan semangat positif. Selamat menulis, kawan-kawan.

Minggu, 09 Agustus 2020

MENGOLAH TULISAN "SAMPAH" MENJADI AUTOBIOGRAFI


Begitu saya "nyemplung" ke grup Komunitas Bisa Menulis, seneng sekaligus kaget dong, kok isinya gado-gado sih? Dari ngomongin istri kedua, politik, agama, dll. Kalau saya amati, kok banyak emak2 nulis berdasarkan pengalaman pribadinya (kayak saya). Wuih, jadi tambah seneng kan jadinya. Tapi, maaf, banyak yang nulis "sampah". Eits, jangan tersinggung dulu, mak. Yang saya maksudkan di sini adalah sampah emosi yang bikin pembacanya terbakar. Betul, gak?


Ada yang menulis disertai lirik lagu, "Kumenangiiis membayangkan...betapa kejamnya..."

Akan tetapi, saya mengambil hikmah dari tulisan itu. Saya belajar dari pengalaman orang lain, bahwa kenyataan hidup tak semanis harapan. Di situlah saya mengetahui bahwa dengan menulis, wanita bisa menyalurkan "sampah-sampah" emosinya sebagai healing, obat bagi rapuhnya jiwa setelah penat dengan segala beban rumah tangganya. Ini salah satu manfaat menulis.


Mengenai lagu, saya juga ingin menuliskan bahwa tidak perlu lagu itu enak didengar karena bagi wanita, asalkan lirik lagu itu bisa mewakili perasaannya, pasti wanita itu suka dan menyanyikannya, kalau perlu orang yang membuatnya kesal itu mendengarnya, berharap ia sadar akan perbuatannya (menyindir menggunakan lagu). Jangan salah, laki-laki juga kalau sedang ditinggal pulkam istrinya suka juga nyanyi, "Masak-masak sendiri, cuci baju sendiri...". Pada suka amat ya mengasihani diri sendiri? Tidak, itu cara menghibur diri dan itu boleh.


Kemarin, saya "dicemplungin" ke forum diskusi zoom oleh seseorang di grup WA, topiknya menulis autobiografi. Ternyata, saya baru tahu mengapa menulis auto/biografi itu oke juga. Mengapa emak-emak cenderung menulis pengalamannya sendiri. Jawabannya, karena emak-emak suka bergosip dan suka kepo, menaruh perhatian pada urusan orang lain. Aih...ngeri-ngeri sedap, mak. 


Ternyata, yang senang bergosip bukan cuma wanita, pria juga! Lihatlah buku-buku sejarah, buku shiroh nabawiyah, buku novel sejarah, penulisnya didominasi pria. Apa pasal? Memang di situ konsentrasi kaum pria. Termasuk obrolan politik, para pria yang suka bergosip. Amatilah bapak di samping kita. Padahal, tidak menutup kemungkinan, ada juga wanita yang suka mengobrol  urusan politik dan sejarah. Kaum wanita zaman now melek politik, dong. Betul, gak?


Mengapa emak-emak di KBM menulis tentang panci, wajan, ompol anak, ingus, mertua, sampai urusan ranjang? Karena hal-hal ini tidak tampak dan tidak dianggap penting oleh penulis pria. Jadi, wanita sangat detail jika menuliskan deskripsi yang mendukung ceritanya. Anak-anak akan bilang begini, "Kalau tanya ayah, gunting kuku/tusuk gigi di mana, gak bakal ketemu. Tapi kalau tanya Bunda pasti ketemu. Bundaku penemu yang hebat!" 

Nah, wanita cocok untuk menjadi penulis autobiografi dan biografi tokoh wanita juga. 


Dapatkah kita menulis biografi lintasgender? Bisa saja, tetapi tidak bisa mendetail. Misalnya, perempuan akan sulit mendeskripsikan perasaan pria yang baru dikhitan. Sebaliknya, laki-laki sulit menggambarkan dengan kata-kata pengalaman wanita yang baru menstruasi atau baru melahirkan. 


Bagaimana penulis dapat menulis biografi jika tokohnya pria atau sebaliknya? Bisa dengan wawancara dan pengamatan. Yah, menulis memang butuh riset/penelitian. Itu kalau mau bagus ceritanya.


Bagaimana kalau saya masih pemula? Ikuti kata Aa Gym, mulailah dari yang paling mudah, mulai dari diri sendiri, dan mulai aekarang juga. Mulai dari pengalaman sehari-hari, misalnya selipkan di dalam cerita ada cara mengempukkan daging kambing, cara menghilangkan gosong di maaf, pantat panci, cara membagi waktu untuk bebenah rumah, dll. Mulailah dari yang kita suka, misalnya kita suka jeruk, tulislah tentang jeruk, apa yang bikin kita suka banget sama jeruk. Terakhir, mulailah menulis sekarang juga. Makanlah bakso atau seruputlah kopi selagi hangat, begitu datang ide langsung menulis. Kalau lagi di jalan bagaimana, tulislah inti-intinya dulu, edit belakangan.


________

Ditulis dengan Gaya Bahasa Lisan.

Jumat, 31 Juli 2020

TENANG BERSAMA ALLAH



Tsiqoh (rasa tenang karena percaya) kepada Allah itu seperti bayi yang dilempar oleh ibunya ke atas tetapi ia tetap tertawa, karena ia yakin sang ibu pasti akan mendekapnya dan tidak membiarkan ia jatuh terpelanting.

Lihatlah bagaimana Allah menguji Ibunda Nabi Musa, ketika ia takut anaknya akan dibunuh oleh Firaun, Allah berfirman kepadanya,

“Apabila kamu kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah ia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu dan akan menjadikan sebagai salah seorang dari para rasul (Al-Qashas 28:7)

Ibu manapun di dunia ini tidak akan tega menghanyutkan buah hatinya ke sungai kalau bukan karena tenang dengan perintah Allah, begitu pula Ibu Musa tidak akan melakukannya.

Namun, Allah mengembalikannya, ketika pihak Istana Firaun mencari ibu susu untuk bayi Musa, Musa tidak mau menyusu kecuali dengan ibu kandungnya.

Contoh lainnya adalah ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya, Bunda Hajar dan bayinya  di sebuah padang pasir yang tandus. Namun ketika ia mendengar dari suaminya bahwa Allah yang memerintahkan maka ia pun mencoba untuk menenangkan perasaannya.

Begitu juga dengan Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail, walau berat ia rasakan, tetap ia lakukan dan ia tsiqoh bahwa apa yang Allah perintahkan pasti menyimpan jutaan hikmah di dalamnya. Saat nyaris mata pisau itu menyentuh leher Ismail, Allah ganti dengan domba. Ternyata, Allah ingin menguji sejauh mana kecintaan Ibrahim kepada-Nya dan itulah yang disebut dengan tsiqoh.

Maka, tsiqohlah dengan semua perintah dan larangan Allah walau kita belum bisa memahaminya, karena semua perintahnya akan berbuah manfaat.

Selasa, 21 Juli 2020

Sapardi dalam Kenangan, Sebuah Obituari


Semalam Bu Suzi mengundangku mengikuti Obituari Sapardi Djoko Damono melalui zoom yang dipimpin Pak Arcana dalam rangka mengenang sosok Sapardi Djoko Damono, penyair kondang. Penyair yang terkenal dengan larik "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" itu pun menutup mata karena banyaknya lendir dalam paru-parunya. Batuk yang parah sudah dirasakan sejak beberapa hari sebelumnya dan selama itulah beliau dirawat di rumah sakit. Dalam kondisi yang payah, beliau masih sempat melontarkan humor, "Aku tidak mau dikuburkan di Depok karena pemakaman di sana sudah padat. Aku tidak mau kuburanku diinjak-injak orang." Akhirnya, beliau dimakamkan di daerah yang disebutkannya sebelum wafat, masih pemakaman keluarga. Meskipun gejalanya mirip, beliau wafat bukan karena virus korona karena jenazahnya tidak diperlakukan seperti pasien covid-19.

Beliau selalu berpikir dalam bahasa Jawa kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya, kata-kata yang dituangkannya menjadi larik-larik puisi terasa sederhana. Dan yang paling nyambung (paham) dengannya adalah Putu Wijaya.

Alih-alih dikatakan sebagai penyair tanpa kaidah, beliau mengajarkan kepada kita agar menulis puisi dengan gaya sendiri. Dari testimoni orang yang pernah menjadi mahasiswanya, beliau dikatakan bukanlah sosok yang ingin dilihat, "Ini saya, seorang penyair, Sapardi." Akan tetapi, beliau begitu bersahaja, memotivasi mahasiswanya agar menjadi diri sendiri.