Jumat, 24 Januari 2020

BINCANG HANGAT BERSAMA BU EMI, PERAIH JUARA I INOBEL



Hari ke-8 Workshop Menulis Bersama Om Jay
23 Januari 2020
Narasumber: Emi Sudarwati

====================


Pada tahun 2016, penulis ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Sebenarnya saat itu sudah untuk yang ke dua kalinya.  Karena banyak guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya penulis ditugaskan lagi.  Ternyata tidak sia-sia.  Karena bisa menduduki juara ke tiga dari tiga puluhan peserta.
Pada tahun yang sama, penulis kembali mengirimkan karya inobel.  Kali ini bukan atas inisiatif  bapak kepala sekolah, tetapi keinginan penulis sendiri.  Karena pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi.  Kali ini bukan karya baru.  Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri.  Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal).
Tidak lama seusai lomba, penulis mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda.  Belajar sistem pendidikan di negri kaum penjajah yang super maju itu.  Berkunjung ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden.  Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik, yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.  Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.
Sepulang dari Belanda, masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali.
Lagi-lagi, di samping belajar juga bisa berwisaya keliling kota terindah di negeri ini.  Kali ini, semua peserta mendapat materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.  Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional.  Nama jurnalnya adalah DEDAKTIKA.

TAHUN 2019
Penulis mengawali terbitnya buku Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku.  Karya ini ditulis berdua dengan suami.  Semoga dengan lahirnya buku tersebut, ikatan pernikahan penulis dengan suami semakin bahagia.
Selanjutnya, di tahun yang sama.  Penulis ingin menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa jawa, yaitu pengalaman selama haji dan umrah.  Sedangkan buku tunggal yang ke dua adalah ini,  Menulis dan menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.  Alhamdulilah impian ini bisa menjadi nyata.
Adapun untuk patungan, seperti biasa saja.  Yaitu menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Patungan Buku Inspiratif.  Juga menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang.

TAHUN 2017
Tidak berhenti sampai di situ.  Beberapa bulan berikutnya.  Penulis diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatka kesempatan, beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Sehari di kota lion, melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.
Bukan aji mumpung atau apa, hanya tidak ingin melewatkan kesempatan baik.  Kapan lagi seorang guru bisa jalan-jalan ke Singapura, kalau bukan memanfaatkan kesempatan baik tersebut.
 Kebetulan juga bertepatan dengan liburan sekolah, jadi sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
Paska menyandang predikat juara I inobelnas, penulis belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama.  Tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu, penulis tidak ingin kesepian.  Lalu mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Penulis menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.
Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Namun saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).

TAHUN 2018
Ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif.  Karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup dirubah.  Yaitu menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Beberapa undangan dari daerah-daerah lain mulai berdatangan.  Misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta dan lain-lain. 
Akhirnya penulis berinisiatif, hanya menerima undangan sebagai nara sumber pada Hari Sabtu-Minggu atau Jumat sore.
Sedang di Bojonegoro sendiri, penulis aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar Guru (PBG).  Setiap saat harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan.  Juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru.  Tempatnya bisa di PBG pusat atau di PBG kecamatan.
Selain di PBG, juga penulis juga aktif di PGRI.  Yaitu sebagai juri lomba Guru menulis dan pelatihan meulis buku.  Memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif dalam menulis. 
Mengimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Jangan berharap sekali kirim pasti tayang atau dimuat.  Namun harus bersabar, terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga.
Bukan karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula.  Dari proses tersebut kita belajar.  Belajar meminimalisir kekesalahan.
Demikian penjelasan dari Om Jay untuk memperkenalkan narasumbernya malam itu.

Saya langsung bertanya pada Bu Emi, "Maaf, Bu, bisa diceritakan waktu ikut lomba inobel, ibu membuat inovasinya apa? Sangat keren, saya belum punya keberanian untuk ikut inobel."

Tanpa disangka-sangka ternyata Bu Emi tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan saya yang to the point. Tulisan beliau berjudul "Pembelajaran Menulis Cerita Cekak (Cerita Pendek) dengan Media SMSHP (Selfie, Media Sosial dan Hubungan Pertemanan)", lalu sambungnya,
"Sebenarnya inovasi biasa saja.  Tapi karena hasilnya adalah karya siswa yang diterbitkan menjadi sebuah buku ber-ISBN, itu yang menarik bagi juri."

Dalam beberapa tulisan di blog beliau, lebih banyak berisi opini pribadi tentang berbagai fenomena di tengah kehidupan sehari-hari.

Kemudian peserta lain menanyakan bagaimana mengembangkan tulisan itu agar lebih berbobot dan menarik. Menurut beliau, tidak ada teori yang paling baik dan khusus  untuk itu. Kecuali banyak membaca, membaca dan membaca.
Lalu menulis, menulis dan menulis.  Sampai menemukan ciri khas kita sendiri.

Hal yang menginspirasi beliau untuk selalu menulis ternyata berasal dari lingkungan di sekitar,  terutama siswa.  Hampir setiap hari beliau berjumpa dengan 900-an siswa dengan berbagai karakter.

"Mantra" beliau adalah Baca, baca, baca. Lalu tulis. Semua pasti mengalami itu.  Sampai saat ini, beliau juga masih minder jika tulisannya bersanding dengan tulisan Om Jay dll., tetapi beliau selalu yakinkan pada diri sendiri, bahwa pasti ada yang butuh tulisan beliau, dan ada yang butuh tulisan Om Jay.  Jadi, tulis dan lupakan. Jangan dipikirkan lagi. Lalu tulis dan dan terus menulis.

Lantas Om Jay menanyakan kesulitan apa yang beliau pernah alami dalam menerbitkan buku karya siswa dan guru.
Bu Emi mengungkapkan  masalahnya terletak pada keuangan karena sejak awal beliau membiayai penerbitan itu sendiri. Dari uang TPP.
Akhirnya, mendapat penghargaan-penghargaan, dll.  Sekolah sama sekali tidak membantu masalah keuangan. Mendengar jawaban beliau, saya pun terdiam. Entah bagaimana nasib saya nanti ya, saya juga ingin menerbitkan buku tetapi mengalami permasalahan yang sama.

Kemudian pikiran saya random ke sana-kemari. Saya teringat keterangan Om Jay bahwa beliau pernah menjadi juri menulis. Maka saya menanyakan hal berikut. Sebagai juri lomba penulisan buku adakah pesan yang hendak disampaikan kepada guru-guru yang belum pernah ikut lomba menulis buku, mengenai hal apa saja yg harus diperhatikan. Mungkin kesalahan apa saja, dan apa yang harus diperbaiki para calon peserta lomba menulis buku.

Bu Emi berpesan:
1. Sebelum menuli buku. Harus banyak baca buku.
2. Ikuti petunjuk teknis dari panitia.
3. Pasrahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Kesalahan peserta lomba:
1. Banyak plagiat
2. Terburu-buru
3. Terlalu ambisi menjadi juara.


Kemudian peserta lain menanyakan batasan usia untuk mengikuti Inobel berapa tahun dan apa saja yang dinilai waktu seleksi online. Bu Emi menjawab, tidak ada batasan usia.

Tahapan seleksi awal : plagiarisme naskah.
Lalu dispaly dan presentasi.
Tapi itu seleksi pada tahun 2016. Tiap tahun bisa saja aturannya berubah. Baca saja perunjuk teknisnya, lalu ikuti.

Tiba-tiba saya teringat siswa saya, saya pun menanyakan bagaimana cara memotivasi siswa putra untuk menulis karena kebanyakan mereka kinestetik dan tidak suka tugas menulis. Beliau menjawab, tidak semua anak suka menulis. Jangan dipaksa jika mereka tidak suka. Mungkin bakatnya di bidang lain, tetapi minimal kita berikan contoh saja dulu.
Yang pernah beliau lakukan adalah memancing dengan pertanyaan. Alhamdulillah, para siswa menulis semua meskipun mereka tidak berbakat.

Contoh:
1. Apakah kalian pernah pergi ke suatu tempat? Ceritakan minimal 1 kalimat tentang tempat itu.

2. Dengan siapa kalian pergi ke sana?

3. Apa saja yang kalian lakukan di sana?

4. Apakah ada kejadian menarik yang kalian alami?
dan pertanyaan ringan lainnya.

Peserta lain pun bertanya, mengapa sebelum menulis buku harus banyak membaca buku. Kemudian dijawabnya dengan bijak, karena membaca adalah pengalaman terbaik.

Peserta lainnya bertanya, saat menulis, kata atau kalimat dari yang dibaca muncul dan tertulis apakah termasuk plagiat. Bu Emi menjawab, tidak, jika hanya 1 kata. Tapi kalau 1 kalimat sama persis, jelas plagiat. Kalau parafrase tidak masalah karena tidak sama persis.

Pertanyaan yang senada dari peserta lain datang. Kalau kita baca sebuah cerpen, kemudian kita buat cerpen yang idenya hampir sama dengan  cerpen yang kita baca, apakah diperbolehkan. Jawabnya, boleh, tapi saat menulis usahakan menutup semua buku atau cerpen yang kita baca tadi. Lalu mulai menulis di layar kosong.

Sebagai kesimpulan diskusi malam itu, beliau merumuskannya sebagai berikut:

Buku adalah bukti sejarah.  Merupakan catatan bahwa kita pernah hidup di dunia ini.  Oleh karena itu, saya ingin mengabadikan setiap jengkal perjalanan menjadi sebuah buku.  Setiap karya pasti akan menemukan takdirnya sendiri.  Semoga buku sederhana ini mengispirasi banyak orang. Nuwun nuwun.

Kamis, 23 Januari 2020

OBRAS (OBROLAN ASYIK) SEPUTAR MENULIS BUKU BERSAMA CAK LUK



Hari ke-7 Workshop Menulis Bersama Om Jay
22 Januari 2020
Narasumber: Lukman Hakim, Kepala P3G Jawa Timur

==================================

Pada hari ketujuh workshop Menulis Bersama Om Jay, Bapak Lukman Hakim atau biasa disapa Cak Luk mengawali diskusi malam itu dengan membagikan ebook Buku Catatan Harian Saya: Guru 4.0 yang berisi pengalaman selama menjadi guru. Buku itu diterbitkan oleh Razka Pustaka Yogja.

Beliau membuka diri untuk berkenalana di laman facebooknya, peserta bisa meng-add FB : https://www.facebook.com/pakne.niswah

dan follow akun channel di https://www.youtube.com/channel/UCRSNsd3kVms_bneVKetRW7g

Karena beliau tidak suka berpanjang kalam maka dibukalah sesi diskusi.

Pertanyaan pertama mengenai apa saja kesulitan yang sering dihadapi penulis dalam menyusun sebuah karya ilmiah serta bagaimana mengatasinya. Beliau menjawab bahwa kesulitan sebenarnya adalah saat permulaan menulis. Sebenarnya semua guru sudah memiliki modal menulis, hanya perlu wadah dan pendamping saja.

Ternyata ada peserta yang sempat membaca sepintas ebook yang baru saja dibagikan adalah potret keseharian kita menjadi  guru dan buku dikemas apik dengan bahasa yang bagus. Kemudian timbul pertanyaan mengenai bagaimana triknya supaya kita bisa menulis tanpa beban ketakutan dengan banyak kesalahan dan bisa mengalir apa adanya.
Beliau memberi link tulisannya

https://pakneniswah.gurusiana.id/article/2019/1/menulis-apa-1700881

berisi cara agar bisa mengalir ceritanya. Untuk itu insyaa Allah bulan Februari-Juli 2020, P3G Jawa Timur akan mengadakan pendamping #nulisPTKbareng secara bertahap salah satu cara mengatasi dengan mengikuti pelatihan-pelatihan pendampingnya yang bisa langsung selesai bukan yang 3 harian dan instan. Kalau misalnya bisa mandiri, hanya perlu mengasah diri dengan pengetahuan menyusun KTI misalnya membaca KTI orang atau dengan membeli buku tentang PTK.


Pertanyaan kemudian bergulir mengenai bagaimana mengerem nafsu kita ingin menuliskan semua yang kita tahu dan pernah kita baca, padahal tidak berkaitan dengan tema tulisan. Beliau memberi tips agar menggunakan diksi (pilihan kata), bisa meniru gaya tutur penulis-penulis profesional. Tentukan dulu yang mau kita tulis apa. Di ebook itu beliau mencoba membuat per judul: 1 judul ada 4-5 tulisan itu untuk membatasi agar tulisan kita bisa 1 tema jika menemui kesulitan dalam membuat kerangka. Sedangkan kalau menulis pengalaman kan luas, maka perlu dibatasi per judul/bab, misal bagian 1 tentang pengalaman menarik mengajar di kelas, bagian kedua: pengembangan karir guru.

Dalam ebook yang dibagikannya tulisan singkat-singkat, salah satunya supaya pembaca tidak bosan
dan bisa memberikan kesan bahwa tulisan kita kosong dari pesan. Misal, dalam tulisan beliau ini.

 https://pakneniswah.gurusiana.id/article/2017/4/kenakalan-guru-lho-1007320

Beliau ingin menyampaikan pesan yang nakal bukan hanya siswa, tetapi guru
 ini dimaksudkan agar guru tidak meniru siswanya misalnya datang terlambat atau masuk kelas terlambat jadi ada pesan yang ingin kita sampaikan. Tulisan-tulisan di FB beliau tulis langsung dari HP. Konsepnya ada ide-tulis-bagi.

Sebenarnya pembaca sudah punya mindset sendiri. Yang mungkin berbeda dengan mindset kita tapi beliau yakin, secara naluriah manusia itu akan tertarik dengan tulisan-tulisan yang dekat dengan diri pembaca dan bermakna, misalnya saya seorang guru, saya akan tulis sesuatu yang berhubungan guru khususnya tentang naik pangkat. Guru perlu dan pasti akan menyimak dan mencoba pengalaman penulis, seperti dalam tulisan berikut.

 https://pakneniswah.gurusiana.id/article/2019/1/mudahnya-naik-pangkat-asn-531412

Ini tulisan yang terbanyak dibaca di akun gurusiana beliau karena mereka perlu dan bisa jadi terpengaruh.

Lantas ada pertanyaan bagaimana cara menulis yang bernada tidak menggurui, padahal saya kan guru? Beliau menjawab, tunjukkan saja bahwa tulisan kita bagus dan bermanfaat. Istilah yang beliau gunakan adalah memantaskan diri. Dengan kita menulis dan mengasah selalu tulisan kita maka itu akan secara tidak mengajarkan kepada orang lain  bahwa menulis itu mudah.

Bagaimana kalau ada yang tersinggung dengan tulisan kita, beliau menjelaskan tentu tersinggung dalam arti positif seperti tulisan ini barangkali
https://pakneniswah.gurusiana.id/article/2017/4/kenakalan-guru-lho-1007320

Maka penulis perlu memperhalus diksi yang dipilih agar lembut ketika dibaca orang yang kontra.

 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2520936471487371&id=100007131277142&sfnsn=wiwspmo&extid=UA3370dlpga5fKVH

Seperti tulisan ini tentang etika, yang penting kita menyampaikan apa yang benar, show must go on.

Kemudian beliau menawarkan
bila ada yang ingin didiskusikan silakan menghubunginya. Bila ada peserta yang punya Naskah Buku siap terbit bisa WApri beliau. Penerbit Delta Pustaka didedikaasikan untuk Guru dan Siswa.

Mengenai PTK, beliau menuturkan bahwa selama ini kebanyakan guru hanya mengadalkan PTK untuk publikasi ilmiah, padahal banyak sekalian macam publikasi ilmiah, mulai dari jurnal, buku teks, buku pengayaan, dan lain-lain. Yang tidak banyak diketahui adalah bahwa PTK bisa dimodifikasi menjadi setidaknya 4 produk: buku, artikel jurnal, best practice dan laporan PTK. Beliau ingin teman-teman guru mengetahui bahwa buku itu tidak selama buku pelajaran atau yang sejenis. Mengapa PTK? Karena PTK sdah mewakili format buku sehingga hanya tinggal dimodofikasikan saja.
Perlu diingat bahwa dalam rubrik PTK nilai 4 itu ada 2, yaitu laporan PTK dalam bentuk Buku dan PTK yang diseminarkan.

Bagaimana dengan modul? Kalau menulis modul tidak harus ada kunci jawabannya Dikhawatirkan siswa malas berpikir, malas membaca soal dengan teliti, justru malah langsung melihat kunci. Beliau menjawab, beliau
membuat buku IPA SMK Bismen, untuk kuncinya disendirikan di 1 buku, untuk pegangan guru yang ke siswa ndak usah diberi kunci hanya yang ada di guru kunci disertakan.

Seorang guru kimia bertanya, kalau guru kimia membuat buku kumpulan puisi yang tidak ada kaitannya dengan kimia, apakah bukunya dihitung angka kreditnya?
Beliau pernah menanyakan ke koordinator penilai PAK Jawa Timur, dan tidak masalah karena puisi merupakan unsur karya inovatif bukan publikasi ilmiah sebentuk karya seni, jadi tidak boleh nulis puisi dalam bentuk antologi. Tanpa mengecilkan hati teman-teman non-PNS, menulis bukan hanya monopoli PNS, kebetulan kalau PNS menulis untuk angka kredit sebenarnya lebih dari itu.
Buku Guru 4.0 bukan untuk angka kredit karena itu adalah tulisan lepas yang beliau tulis karena ingin menulis dan berbagi tentunya. Makanya 3 buku beliau tidak dijual. Beliau juga tidak suka menerbitkan di penerbit mayor karena tidak bisa menentukan harga sendiri buku palajaran IPA SMK untuk Bismen, beliau mencetak dan menerbitkan sendiri karena ingin menjual ke anak-anak dengan harga terjangkau.

Kumpulan pantun idealnya juga dapat angka kredit. Kalau kumpulan pantun tidak dapat angka kredit, berarti ada kemungkinan penilainya yang belum paham karena Pantun termasuk salah satu jenis puisi. Puisi itu ada banyak jenisnya, bisa pantun, syair, haiku, dll.

Sebagai penutup, Cak Luk memberikan kesimpulan sebagai berikut. Tiga Pilar Publikasi Ilmiah: Lembaga Pelatihan (sebagai wadah kegiatan pengembangan profesi guru); Penerbit (menerbitkan karya hasil pelatihan dalam bentuk buku); Jurnal (menerbitkan karya artikel imiah) dengan pendukung channel youtube sebagai alat/media komunikasi untuk pelatihan menuju Diklat 4.0.

Rabu, 22 Januari 2020

PENGENALAN PENERBITAN BUKU



Hari ke-6 Workshop Menulis Bersama Om Jay

Narasumber: Sri Sugiastuti
Tema: Penerbitan Buku

Disusun oleh Rosiana Febriyanti
=================

Pada kesempatan hari keenam ini, Bu Sri berbagi pengalamannya berproses dengan istilah from upgrade to upgrade.
Beliau membuka diskusi tentang penerbit dengan power pointnya. Kemudian, peserta kelas langsung menanyakan apakah untuk penerbit mayor itu dicetak minimal 1000 buku,  benar-benar tanpa biaya. Maka beliau menjawab, Penulis cukup kirim naskah ke penerbit dan menunggu 3 bulan atau lebih baru ditanyakan lagi apakah ditolak atau dipinang. Silakan  saja kirim, siapa tau berjodoh. Menurut pengalamannya pribadi pada tahun 2010 buku yang pernah ditulis tim, beliau salah satunya, atas permintaan editor Erlangga, buku bisa cetak di atas 1000 dan 6 bulan berikutnya beliau sdh dapat royalti sesuai dengan MOU. Asal penerbit mayor yang menerbitkan penulis tidak mengeluarkan dana.

Mengenai manfaat menerbitkan buku, beliau menuturkan bahwa kita punya karya yag bisa memotivasi dan menginspirasi orang lain.
Untuk diri sendiri manfaatnya itu ada  kepuasan batin karena sudah berbagi  dan menyampaikan apa yang ingin kita bagikan. Selain itu, buku yang sudah kita terbitkan itu bisa jadi warisan juga sebagai  bukti bahwa kita pernah hidup dan menulis.

Beliau juga bercerita pengalamannya, belum lama naskahnya ditolak penerbit Andi, penerbit mayor dan sekarang masih mencoba ke penerbit lain yang fokus menerbitkan buku anak dan islami. Kalau kelak ditolak lagi berarti harus dicetak indie. Patut diacungi jempol karena ini menunjukkan kegigihan beliau yang tidak mudah berhenti di satu titik.

Tak ada kata terlambat untuk menulis, beliau sendiri baru belajar menulis saat berusia 50 tahun. Awalnya pernah menggunakan nama pena, tetapi kini beliau membranding diri dengan namanya sendiri.

Lalu pertanyaan peserta beralih ke pengurusan ISBN, beliau menjawab kalau mau agak ribet bisa urus sendiri, tetapi kita tetap harus punya wadah sebuah penerbit. Karena dalam kolom pengajuan ISBN harus dicantumkan nama penulis, judul, nama editor, juga nama penerbit. Syaratnya buku ber ISBN dan ada bukti atau surat keterangan terbit dari penerbit.

Pertanyaan bergulir kembali, Kalau utk naik pangkat PNS, apakah buku harus diterbitkan penerbit mayor atau penerbit besar? Beliau langsung menjawab, tidak harus penerbit mayor.

Mungkinkah menulis buku dalam sebulan? Pertanyaan itu dijawab dengan cerita bahwa beliau pernah 3 kali mengikuti kelas mediaguru dan 3 buku yang dihasilkannya. Akan tetapi beliau tidak memulainya dari nol alias sudah memiliki tabungan naskah yang tinggal dipoles.

Terakhir, beliau menutup diskusi malam itu dengan memberikan kesimpulan:

1. Menulis itu keterampilan  jadi  harus dilatih

2 . Semua orang bisa menulis dan dibukukan asal mau belajar  dan mengikuti aturan yang ada

3. Untuk menerbitkan buku cukup 50 hal A4 font 12. Tema bebas, apa saja yang disukai dan dikuasai asal tidak mengsndung SARA atau hoax.

4.  Tulisan bisa berupa kumpulan artikel yang sudah ditulis atau status yang berserak di Medsos

5. Jika punya ide yang belum tertangkap beliau siap membantu menemukan ide dan mengolahnya menjadi kumpulan  artikel yang siap dibukukan.

6. Jangan lupa banyak beli buku dan membacanya karena menulis dan membaca bagai Romeo dan Juliet.

Demikianlah hasil diskusi pada hari keenam. Semoga bermanfaat.

Senin, 20 Januari 2020

MEMBANGUN PERSONAL MELALUI BLOG



Resume Workshop Menulis Bersama Om Jay
Hari kelima, 20 Januari 2020
Narasumber: Namin AB Sholihin
Tema: Membangun Personal Melalui Blog
==================

Namin AB Ibnu Solihin adalah seorang founder motivatorpendidikan.com. Untuk mengenalnya lebih dekat Anda dapat searching namanya di Google atau bisa membuka link berikut ini https://motivatorpendidikan.com/index.php/2015/08/29/profil-namin-ab-ibnu-solihin/

Beliau juga telah membagikan secara Gratis lebih dari 250 materi training di slideshare.net yang sudah diunduh oleh lebih dari setengah juta kali. Linknya sebagai berikut https://www.slideshare.net/mobile/naminsekolahakhlak

Kita bisa berteman melalui media sosial yang dimilikinya, @motivatorpendidikancom, serta mengintip kegiatannya di Channel YouTube Motivator Pendidikan Com.

Dalam workshop hari kelima bersama Om Jay, beliau berbagi tips bagaimana membangun Branding melalui Blog.

Beliau mulai Ngeblog sejak tahun 2007, melalui blogspot.com, saat itu ngeblog dilakukannya untuk mengisi waktu luang saat istirahat mengajar. Tulisan di Blog juga masih sangat beragam, bahkan lebih banyak curahatan hati.

Lebih dari 10 blog pernah menghiasi blogspot.com, kini semua blog tersebut sudah dihapus semua.

Hingga akhirnya pada sekitar tahun 2013 beliau mengenal guraru.org, sebuah blog yang diisi oleh guru-guru kreatif, di antara para pemenangnya adalah yang sudah mengisi materi sebelumnya, yaitu Pak Agus Sampurno dengan Brandnya Guru Kreatif, Om Jay Wijaya Kusuma dengan Brandnya Guru Blogger, dan Bang Dedi Dwitagama.

Karena timbul keinginannya untuk menulis lebih baik lagi, akhirnya  pada tahun 2013 beliau mengikuti Teacher Writing Camp angkatan ke-3, yang digagas oleh Om Jay dan teman-teman.

Pada tahun 2014 beliau dan Om Jay bersama teman-teman menggagas berdirinya Komunitas Sejuta Guru Ngeblog, pada tahun 2014-2015 kami Komunitas Sejuta Guru Ngeblog memberikan Pelatihan Guru Ngeblog Gratis bagi guru di Jabodetabek. (sayang, saya tidak ikut saat itu)

Tahun 2014 juga awal beliau mulai membangun Branding lewat blog. Perjalanannya membangun Branding bisa dibaca di profil pada link di atas.

Singkatnya, pada akhir tahun 2015 beliau me-launching www.motivatorpendidikan.com yang seluruh konten tulisannya berisikan berbagai jenis program training yang pernah diisinya.

Sebelum website tersebut di-launching, beliau lebih banyak mencurahkan gagasannya tentang pendidikan di Blog https://motivatorkreatif.wordpress.com

Diakuinya bahwa membangun Branding memang tidak mudah, tapi jika bersungguh-sungguh Insya Allah ada kemudahan.

Menurutnya, membangun Branding juga harus sejalan dengan kompetensi yang kita miliki. Jangan coba-coba membangun Branding tertentu tapi tidak punya Ilmunya. Membangun Branding melalui blog juga harus selaras dengan kepribadian kita di Blog, Medsos dan segala aktivitas yang kita lakukan.

Menulis konten Blog dengan konsisten pada Branding yang kita miliki adalah kewajiban yang harus ditaati. Kala mau dikenal sebagai pakar pendidikan misalnya, ya sudah konsisten menulis hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.

Hingga akhirnya ketika orang berbicara "Motivator Pendidikan" mereka, akhirnya akan mengingat "Namin AB Ibnu Solihin". Ini contoh saja.

Tapi jika ada penasaran coba Anda searching di Google beberapa kata berikut ini "Motivator Pendidikan" "Pembicara Seminar Parenting" "Motivator Pelajar". Anda akan bertemu dengan siapa kira-kira?

Menulis dan membangun Branding telah mengantarkannya keliling Indonesia, saya telah mengisi training setidaknya di lebih dari 300 lembaga, sejak tahun 2014-sekarang.

Saat ditanya berapa lama yang dibutuhkan seorang Namin untuk fokus menulis di Blog  dan membangun personal branding, beliau menjawab setidaknya dari 2007- sampai sekarang kurang lebih sudah 13 tahun Ngeblog. Sementara membangun Branding agar orang tahu tentang motivatorpendidikan.com  sekitar 2 tahun.

Salah satu cara memperkenalkan branding yang dilakukannya adalah menulis di Medsos dan membagikan materi training secara gratis di slideshare.net.

Mengenai perjalanan kariernya, beliau telah memulai karir guru sejak tahun 2004, pernah menjabat kepala seksi BP, Wakil kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Kepala Sekolah, Dosen, dan Konsultan Branding Sekolah.

Tentu perjalanan itu tidak mudah, lebih dari 15 tahun dalam dunia pendidikan, selama itu pula setiap hari beliau selalu berusaha untuk berkarya.

Beliau mengenal ilmu Branding saat sedang kuliah S2. Langkah yang harus dilakukan untuk mem-branding diri diawali dengan mengasah potensi atau bakat terbaik yang kita miliki sampai menjadi orang paling ahli. Skill terbaik yang kita miliki inilah yang bisa kita jadikan sebagai Branding diri kita.

Saran beliau untuk mengenalkan diri bisa melalui tulisan di Blog kita. Sebaiknya tekuni bidang yang paling kita sukai dan ahli di bidang tersebut. Selain itu, beliau menjadikan teknologi, desain grafis, edit video, dan parenting Islam sebagai pendukung skill yang ia miliki. Konsistenlah menulis setiap hari untuk mem-branding diri. Maka, fokuslah pada hal-hal yang disukai dan ahli di bidangnya.

Menulis juga bisa berdasarkan pencarian orang di blog kita. Bisa dilihat di stastistik blog. Misal, aktivitas harian kita lebih banyak dihabiskan untuk berpuisi, orang akan mengenal kita sebagai penulis puisi.

Beliau menambahkan, menulis juga bukan sekadar menulis, tapi harus memberikan manfaat untuk para pembacanya. Misal, beliau pernah menulis sebuah artikel berjudul 10 cara menjadi pelajar berprestasi. Sekitar 4 tahun berikutnya, hanya dari artikel tersebut beliau diminta untuk mengisi acara di TV buah hatiku sayang, Anda bisa melihat https://motivatorpendidikan.com/index.php/2016/06/02/menjadi-narasumber-dalam-acara-buah-hatiku-sayang-tvri/. Jadi, menulis saja karena kelak Allah akan menghadirkan keajaiban.


Menghadapi pertanyaan tentang cara membangun branding:
1. Setelah kita tahu, tentang potensi kita lalu apa yang harus dilakukan supaya berkembang dan blog atau nama kita dikenal?
2. Langkah apa yang harus dilakukan supaya blog kita banyak yang mengunjungi?

beliau tak pelit memberi tips. Langkah yang bisa dilakukan adalah:
1. Menulis sesuai Passion
2. Hindari Copy Paste, PD aja menulis Gaya Sendiri
3. Semua jenis konten tulisan wajib sama, tidak boleh gado-gado.
4. Mainkan Keyword tertentu saat menulis artikel
5. Buatlah Branding contoh "Marzuki Guru Animasi" - berarti ahli dalam bidang Animasi.

Beliau menulis dan berbicara berdasarkan apa yang dialami langsung sehingga yang sampaikan lebih banyak kisah nyata dari pada teori. Hal itu dilakukan saat membawakan program-program training atau seminar hingga akhirnya bisa lebih menjiwai.

Untuk mengetahui passion diri sendiri beliau memberi tips berikut. Lihatlah dari aktivitas harian yang sering banyak dilakukan yang kita mau melakukannya walaupun tanpa dibayar, susah untuk menghentikannya jika sedang asyik. Yang paling bagus memang from passion to profession. Beliau sendiri lebih suka menulis apa yang dialami langsung. Jadi, mulai menulislah dari banyak hal aktivitas yang suka kita lakukan. Tentu tulisan yang baik di Blog adalah tulisan yang banyak dibutuhkan oleh orang.

Cara mengetahuinya mudah, bisa dilihat di statistik pencarian pembaca di blog kita.

Saat ini website beliau lebih banyak memuat fotonya dari pada narasi tulisannya karena yang orang butuhkan adalah bukti portofolio training, dan nyatanya menyajikan foto itu lebih menjual. Sementara video-videonya juga terdapat di channel YouTube-nya. Adapun materi panjang bisa dibaca di sildeshare.net.

Yang paling penting dari Membangun Branding adalah sesuai keahlian yang kita miliki. Jangan sampai misalkan kita membranding diri dengan sebutan "Marzuki Lely - Guru Tangguh" ketika diminta ngisi materi "Cara Membangun Guru Tangguh" tetapi cara membawakannya tidak tangguh, loyo, dan lemas. Jadi tidak sesuai dengan Brandingnya.

Bagaimana memunculkan gagasan  yang bisa kita tuliskan tiap hari? Beliau menjawab, saat ini menulis adalah sebuah tuntutan harian karena kalau tidak menulis orang tidak mengenal siapa dirinya. Jadi, gagasan menulis lahir dari berbagai aktivitas positif yang beliau lakukan. Sebelum menjadi trainer, beliau juga lebih banyak menulis aktivitas harian di sekolah.

Terakhir, beliau berpesan, yang paling penting adalah menulis saja, jangan berharap uang dan ketenaran karena pada waktu yang tepat Allah insya Allah akan menghadirkan hadiah terindah dari kebaikan-kebaikan yang kita tulis.
Jangan pernah pelit berbagi karena dengan berbagi akan ada kebahagiaan yang kita dapatkan. Mari kita isi konten positif di Blog setiap hari, karena pada waktu yang sama jutaan konten negatif akan memangsa kita dan generasi kita. Berhenti menulis di Blog, itu artinya kita membiarkan predator konten negatif merajalela yang siap menghacurkan generasi kita. Teruslah menjadi pribadi yang menginspirasi, menggerakkan dan menelandani.

7 CARA SAKTI MENJADI TRAVELLER RAMAH LINGKUNGAN



Setiap tanggal 10 Januari di Indonesia diperingati sebagai hari lingkungan hidup. Seharusnya setiap hari adalah hari lingkungan hidup. Kita harus mulai disiplin menjaga lingkungan kapan dan di mana pun kita berada, tidak terkecuali saat bepergian. Berdasarkan saran dari teman, saya dianjurkan untuk melakukan langkah-langkah sederhana sewaktu bepergian dan saya ingin sekali membagikannya kepada Anda.

1. Inspeksi kulkas dan listrik sebelum pergi
Olah semua makanan agar tidak basi, telur seandainya takut pecah saat bepergian bisa dibagikan ke tetangga, begitu juga bumbu dapur dan sayuran. Jangan lupa matikan aliran listrik untuk menghindari kecelakaan jika sewaktu-waktu korsleting karena air banjir masuk rumah atau terkena sambaran petir.

2. Efisiensi mengemas barang
Tidak semua pakaian kita bawa, atasan dan bawahan bisa dipadu-padankan dengan warna yang serasi sehingga bisa dipakai beberapa hari. Pelajari cara menggulung pakaian dan mengemas barang agar memuat banyak dalam tas yang tidak terlalu besar sehingga tidak perlu membawa banyak tas atau koper.

3. Membeli wadah khusus alat mandi
Sekarang sudah ada wadah share in jar yang dijual di online shop, bisa kita manfaatkan untuk kebutuhan mandi yang hanya beberapa hari sehingga mengurangi sampah plastik sachet sampo. Sabun batangan juga bisa menjadi pilihan para traveller. Sikat gigi berbahan bambu juga sudah ada sehingga ramah lingkungan.

4. Membawa botol dan alat makan sendiri

Sendok, garpu, piring, pisau, dan gelas yang terbuat dari gandum dan bambu juga sudah banyak dijual di online shop. Mungkin bisa digunakan. Bawalah serbet atau lap sendiri sebagai pengganti tisu.

5. Menggunakan produk ramah lingkungan
Tas handmade dari sisa kain perca bisa digunakan sebagai pengganti kantong kresek. Tas ramah lingkungan dengan harga lima ribuan juga sudah tersedia di toko waralaba. Selain itu, beralihlah menggunakan stainless straw sebagai pengganti sedotan plastik.

6. Menghabiskan makanan
Jangan lupa menghabiskan makanan yang ada di piring kita karena sisa makanan hanya akan menjadi sampah. Karena itu, sendoklah makan sesuai kebutuhan kita, bukan sesuai nafsu yang nantinya malah tidak habis.

7. Menjadi tamu hotel yang bijak
Matikan televisi jika tidak digunakan atau sekiranya sudah mengantuk, tidak membuang tisu/pembalut ke lubang WC, dan membuang sampah pada tempatnya.

Semoga bermanfaat.

RESUME WORKSHOP MENULIS BERSAMA OM JAY


Disusun oleh Rosiana Febriyanti, S.Pd.

Hari Pertama, 16 Januari 2020
Diskusi seru hari materi pertama disampaikan oleh Agus Sampurno. Beliau akan membahas:
- asyiknya ngeblog
- blog dan semangat kekinian di dunia pendidikan, dan
- menjaga konsistensi dalam menulis blog.

Beliau mengutarakan, "Blogging menjadi hal yang sangat penting untuk saya, sebagai pendidik, pemilik bisnis dan untuk kehidupan sehari-hari saya, dimana blog bisa membantu saya secara perlahan memberi waktu untuk merefleksikan diri saya sendiri dari apa yang saya pelajari dan saya lakukan. Latihan ini tidak hanya mengkonsolidasi pemikiran saya sendiri, namun juga merekam secara permanen pada pertumbuhan saya sendiri dari waktu ke waktu."

Menulis blog berarti kita bersedia untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini dikarenakan kita
secara tidak sadar akan menekuni hal baru yang diperlukan kesabaran dan kesadaran dalam berbuat. Selain itu, kita akan tersenyum saat ingat pertama kali memulai, dan akan menginspirasi orang lain.

Beberapa jenis blog yang disebutkan beliau, di antaranya:
1. Review produk
2. Memberikan tips dan trik
3. Bercerita pengalaman (personal branding)

Beliau menceritakan saat memulai menulis, motivasinya lebih pada karena beliau dilanda 'burn out' atau kelelahan menjalankan profesi sebagai pendidik. Waktu itu Facebook masih sangat baru di dunia maya. Karena Facebook belum terkenal maka belum ada istilah 'curhat di dunia maya. Kemudian mulailah beliau curhat melalui platform blog yaitu wordpress.
Namun beliau berpikir, akan sangat sayang jika isinya curhat saja, namun tidak berbagi solusi. Maka hal yang beliau lakukan waktu itu adalah:
1. Mulai dengan berpikir kesulitan apa yang dihadapinya sebagai guru.
2. Mencari atau riset  di internet mengenai solusi keluhannya itu
3. Mengujicobakan di kelas, dan
4. Menulis hasilnya di blog.

Selanjutnya, beliau mengungkapkan beberapa manfaat yang dirasakan dalam menulis di blog, seperti makin mencintai dunia pendidikan, promosi dalam bidang pekerjaan, dan bisa menjadi pembicara.

Waktu memulai menulis blog beliau adalah guru, kemudian menjadi kepala sekolah dan saat ini menjadi konsultan, pembicara, serta pemimpin program peningkatan kualitas pendidikan di beberapa provinsi di Indonesia.

Berikutnya, beliau memberikan tips-tips berikut kepada calon penulis blog, para peserta workshop.

“BAGAIMANA MENULIS BLOG DENGAN BAIK”

CONTENT (ISI BLOG)
Pada bagian ini menjadi alasan utama WHY (Kenapa) Anda melakukan kegiatan blogging dan apa yang akan Anda unggah di laman blog Anda. Bagian ini menuntut Anda untuk berpikir, merefleksikan sesuatu, berkomunikasi, dan menjelaskan ide Anda.

CHECKLIST
Bagian ini adalah keterampilan yang harus Anda lakukan sebelum menekan “publish/ terbitkan". Bagian ini mengharuskan Anda untuk teliti, self-check, disiplin, dan mengikuti langkah-langkah dalam proses pembuatan blog.

Berikut langkah-langkah membuat blog:
1. Judul yang tertulis harus menggunakan HURUF KAPITAL pada setiap tulisan
2. Unggahan memiliki satu atau lebih KATEGORI
3. Tidak lupa untuk mengecek ulang untuk COPS : Capitalization (Kapitalisasi), Organization (Penyusunan), Punctuation (Tanda Baca) , dan Spelling (Ejaan).

Seorang pembicara tidak akan menjadi seorang yang andal tanpa ia menjadi penulis.
Dikarenakan saat menulis ia akan melakukan riset untuk materi yang dibawakan sebagai pembicara menjadi bernas dan bermakna.

Ada hal yang tidak akan Anda duga saat menjadi penulis. Keterampilan Anda akan berbuah dengan tambahan profesi sebagai pemateri/pembicara dan fasilitator. Dan untuk itu kita perlu belajar mengenai andragogi (pendidikan orang dewasa).

Menanggapi pertanyaan mengapa banyak guru yang tidak suka menulis di Blog, beliau menjawab karena guru

1. Lebih senang dengan Facebook atau Instagram dikarenakan tanggapan  pembacanya langsung dan instan.

2. Kurang suka belajar sedikit lagi mengenai platform blog.

3. Merasa dirinya bukan ahli dan merasa diri tidak pantas untuk berbagi pengalaman. Padahal niatkan saja dulu untuk menulis bagi pribadi kita sendiri. Jika ada orang lain yang suka pada tulisan Anda, anggap itu bonus.

Kalau seseorang ingin lakukan branding dirinya maka disebut personal branding.
Jika sebuah sekolah ingin melakukan branding maka sebutannya menjadi school branding.

Branding erat artinya dengan pembeda dari yang sejenis. Sebuah sekolah yang sadar branding dia akan duduk bersama menentukan arah positioning-nya di masyarakat. Sementara jika guru melakukan personal branding maka ia akan fokus pada apa yang dimiliki dibanding kelemahan.
Ditambah dengan peran medsos maka personal branding guru akan semakin cepat.

Selanjutnya beliau menceritakan saat fokus dengan personal branding, beliau mulai dengan brand guru kreatif. Lalu beliau menulis hal-hal yang orang ingin ketahui lewat tips-tips atau resep-resep pengajaran terkini.

Dalam branding ada istilah reputasi dan pencitraan. Cara mendapatkan reputasi adalah dengan kerja keras dan konsistensi, sedangkan pencitraan itu mudah, tetapi cenderung tidak bertahan lama.

Branding erat kaitannya dengan pencitraan. Disarankan untuk membangun branding yang awet dengan kerja keras. Maka hal yang kita bangun bisa menjadi reputasi.

Adapun personal  branding bisa membuat guru menjelma menjadi ahli. Dunia medsos sangat terbuka dengan sosok guru yang memberikan kontribusi kepada masyarakat luas tanpa memandang umur dan masa kerja.

Karena itu, mulailah
1. Menulis hal yang dekat dengan keseharian
2. Menulis utk diri sendiri
3. Lakukan microblogging
atau menulis singkat singkat di-update status Facebook atau Twitter lalu disatukan menjadi satu tulisan di blog.

Tips lainnya ialah share (agih) tulisan kita di medsos milik pribadi, lalu arahkan ke blog kita dan tulis topik kekinian yang sedang hangat dibicarakan, misalnya
- merdeka belajar
- guru penggerak
- dll.

 "5 PELUANG UNTUK MEMPERKUAT TULISAN ANDA"

1. KEYWORD (KATA KUNCI)
2. VISUAL (VISUALISASI)
3. SOCIAL (SOSIAL)
4. HEADLINE (BERITA UTAMA)
5. HYPERLINKED (KONEKSI)

Ide ada banyak, tetapi yang sulit adalah menuangkannya. Untuk awal, hendaknya kita mencari tulisan yang kita sukai, lalu menuliskan hal yang sama. Tema dan topik yang sama, hanya saja kali ini dari sudut pandang kita pribadi.

"BEBERAPA “ATURAN” NGEBLOG YANG TIDAK HARUS ANDA IKUTI
1. Blog harus selalu sebanyak 500 kata
2. Blog mengharuskan keahlian mendongeng/menjelaskan
3. Blog diisi dengan pertanyaan
4. Blog harus sempurna sebelum akan dibagikan
5. Blog harus sepenuhnya original
6. Blog selalu untuk pembaca yang luas

Berlatih menulis membutuhkan waktu dalam setiap prosesnya. Ada istilah 10.000 jam. Istilah itu mengacu pada jika seseorang sudah melakukan suatu kegiatan selama 10.000 jam, baru ia akan
1. Fasih
2. Ahli
3. Menemukan gayanya sendiri, dan
4. Menginsipirasi orang lain.

Ketika sudah mencoba, tetapi ketika tulisan dibaca sendiri terasa ada yang kurang, sebaiknya jangan dihapus. Tunda sampai kita sudah menulis 100 tulisan. Beliau juga pernah menghapus tulisan. Namun itu dilakukan ketika sudah agak berjarak waktunya.

Beliau menyarankan kepada para peserta workshop untuk mulai menulis singkat. Ini terinspirasi dari Seth Godin yang tiap hari menulis di blognya dengan singkat namun padat pengetahuan dan intisari pengalaman. Jika sudah terbiasa menulis maka akan merasa kurang jika belum menutup hari dengan menulis. Menulislah di mana saja dan dengan alat apa saja.

Saat menulis materi ini beliau menggunakan fasilitas notes di smartphone sambil menikmati perjalanan berangkat kerja dengan komuter pada pagi hari. Jadi, tidak mesti menunggu berhadapan dengan laptop atau komputer baru menulis.

Jika demikian, mengapa bagi sebagian pendidik menulis di blog itu menjadi hal yang memberatkan, padahal dengan terampil dan menarik mereka menulis status di update media sosial mereka dengan tulisan menyentuh dan menggugah semangat? hal-hal berikut ini adalah bisa menjadi kemungkinan jawabannya

Memang, menulis di blog memerlukan waktu lama untuk bisa dikenal publik atau bahkan bisa ‘tercium’ oleh mesin pencari google. Tidak ada instant gratification seperti kita menulis di facebook yang dalam waktu sekejap bisa dapatkan ‘jempol’ atau likes.

Ada anggapan bahwa penulis blog perlu memiliki latar belakang teori, padahal tidak selalu. Blog lebih bernuansa ‘diary’ atau refleksi pengalaman. Menulis blog dianggap seperti menulis makalah ilmiah yang membuat pendidik merasa mesti tampil ‘sempurna’. Jika pendidik itu kemudian berhasil menulis biasanya kemudian blognya menjadi lama diisi kembali dikarenakan energinya habis dan menjadi kehilangan selera untuk mengisinya kembali. Lebih baik menulis singkat, padat dan jelas daripada sekali menulis sempurna lalu setelah itu hilang.

Bayangkan, jika semua pendidik berkenan berbagi pengalamannya lewat tulisan, singkat dan bersemangat, dijamin pendidikan Indonesia menjadi maju dan berkembang dalam waktu yang cepat. Hal ini dikarenakan cerita dari ‘lapangan’ bisa dibagi dan dibaca dan dijadikan inspirasi oleh si pembaca untuk diterapkan di sekolahnya masing-masing.


Hari Kedua, 17 Januari 2020
Narasumber: Dedi Dwitagama, Pemilik 12 Akun Blog

Bagi seorang Dedi Dwitagama, blog pribadi itu seperti rumah pribadi yang harus dibersihkan, diisi dan dihias dengan aksesori sesuai minatnya, semntara blog kroyokan itu seperti berada di public space yang memungkinkan bisa bertemu dengan banyak penulis dan mencari inspirasi

Menulis di blog pribadi itu seperti membuat catatan pribadi yang bisa dibaca orang sedunia. Beliau sangat menikmati blognya karena seperti melihat album foto perjalanan hidupnya, mengingatkan momen perjumpaan dengan orang-orang dimana-mana, jejak-jejak perjalanan yang memberi manfaat buat sesama, sehingga beliau membuat 12 blog, seperti
https://trainerkita.wordpress.com/ yang mendokumentasikan sesi seminar beliau
serta http://fotodedi.wordpress.com yang mendokumentasikan hobi fotografinya.

Untuk mengelola keduabelas blognya beliau menulis jika ada waktu, ada ide, kemudian ditempatkan di blog yang sesuai dengan isi tulisannya. Begitu ada ide, dituliskannya walau hanya sebaris, lalu diberikan gambar sebagai pendukung artikel. Terkadang idenya berawal dari foto yang ingin saya diunggah barulah dilengkapi dengan keterangan foto. Langkah ini sering menolong kebuntuan menulis dan membuat kata demi kata mengalir tak terasa, tanpa diedit langsung bisa beliau unggah.

Saat ide tak ada, beliau berkunjung ke blog-blog orang lain. Biasanya setelah itu muncul ide untuk menulis sesuatu. Ketika kita sudah membuat tulisan. Untuk mendatangkan pengunjung dan membuat pengunjung tidak sungkan untuk berkomentar, beliau menganjurkan untuk membuat  link di twitter, facebook, lalu mengunjungi blog orang lain, kemudian meninggalkan komentar di blog orang lain. Etikanya, jika blog kita dikomentari maka kita harus membalas komentar itu di blog kita dan mengunjungi blog orang yang memberi komentar di blog kita dengan meninggalkan komentar. Dengan demikian, pengunjung blog kita akan banyak.

Namun, kalau pengunjung blog masih sepi
tulislah artikel yang menurut kita banyak dibutuhkan dan dicari orang lain. Gunakan judul dengan kata-kata yang biasanya orang cari maka saat orang searching, akan nyangkut ke blog kita. Dahsyatnya pemilihan kata di judul posting blog atau youtube menarik pengunjung untuk mampir ke blog kita.

Berbeda dengan blog, facebook itu seperti mall besar yang isinya ramai, sementara blog itu seperti majalah yang isinya khusus berisi karya pemiliknya, yang bisa dihubungkan dengan mall seperti facebook, youtube atau lainnya dengam memasang link atau kode embed-nya. Memberi judul dengan kata kunci yang banyak di-googling orang maka tulisan itu akan berada di puncak pencarian google.

Menulis saja, tidak mesti menggunakan bahasa yang sesuai dengan PUEBI, bebas sesuai gaya kita. Seorang Raditya Dika terkenal karena gaya bahasa yang unik dan konsisten.

Selanjutnya beliau memberikan tiips menulis di kompasiana. Label di kompasiana berfungsi seperti tag di wordpress, batasnya 10 label. Setelah menuliskan label, efeknya label di tulisan yang kita unggah berwarna biru dan bisa menjadi link yang terhubung dengan tulisan kompasianer lain yang berisi label yang sama.

Hari Ketiga, 18 Januari 2020
Narasumber: Kang Dudung, Ketua PGRI yang diundang Presiden

Kang Dudung, biasa beliau disapa, mengungkapkan bahwa setiap hari ada puluhan kejadian yang bisa dicatat, minimal satu yang menarik sebagai rekaman momen atau puluhan ide yang ada di kepala yang mesti diamankan dalam tulisan agar tidak keburu hilang.

Apa yang dilihat,
Apa yang didengar,
Apa yang dibaca,
Apa yang dirasakan,
Apa yang digosipkan,
Apa yang dimimpikan,
Apa yg hadir saat di toilet,
Saat shalat,
bahkan saat bangun malam,
ide itu akan melekat dan menyukai kita bila ia melihat kita menuliskannya. Ide akan selalu hadir bila ia dihargai dengan menuliskannya. Bila Ide tidak dituliskan, Ia marah dan akan pergi menjauh. Peluk dan ikat ide dengan menuliskannya.

Beliau mengaku, sudah hampir dua bulan lebih, hanya menulis kata-kata singkat yang melintas di kepala, lalu dituliskan pada status wa, kemudian di-copy paste ke Blog.
Namun, semakin ke sini semakin sulit menemukan kata-kata untuk dituliskan, terkecuali ada masalah pada teman dan beliau terinspirasi untuk memberikan motivasi dan muncul kembali idenya tetapi tulisan tidak pernah banyak.

Cara meningkatkan kemampuan menulis dan mengeluarkan ide adalah menjaga dengan berlangganan koran dan jalan-jalan. Tulis singkat seribu kali, kumpulkan, maka jadi buku yang genuine.

Lalu beliau memberikan saran untuk mencegah kemungkinan orang salah tafsir terhadap tulisan, sebaiknya kita menghindari SARA, hoaks, dan mem-bully orang lain.

Beberapa manfaat menulis yang beliau sebutkan di antaranya adalah dapat menjauhi stres,  memenuhi kebutuhan berpikir, menjauhi stres, mendapat uang, nama (dikenal orang), beramal, memeroleh buku, dan panggilan narsum menulis, plus diundang Presiden.

Berikut tips Kang Dudung membagi waktu untuk menulis. Dalam 1 hari ada 24 jam, bila bagi 3 menjadi 8 jam-an, bilang kurang efisien bisa dibagi 4 atau 6 menjadi 6 jam-an atau 4 jam-an. Dengan begitu waktu yang sudah dibagi, paling tidak bisa digunakan untuk sedikit memaksa diri secara konsisten menulis atas dasar komitmen karena sudah secara sadar membagi waktu untuk punya waktu menulis.

Hebatnya, beliau pernah menulis Jokowi akan jadi Presiden sebelum 2014. Tulisan itu di berikannya kepada Jokowi, kemudian diundang makan bersama. Itulah tulisan ajaib.

Beliau cenderung tidak pernah malas menulis, yang agak sulit adalah membagi waktu. "Jujur menulis itu bagaikan kencing setiap hari...ia harus keluar dan dituliskan," ungkapnya.


Hari Keempat, 19 Januari 2020
Narasumber: Taufik Hidayat, Travelling dan Tulisan Bernas


Beliau memiliki beberapa blog. Namun yang pertama adalah di kompasiana. Selain itu ada detiktravel  UC News, wordpress, dll.
Contoh tulisannya mengenai perjalanan ke Rwanda yang tidak terlupakan. Melihat langsung kejamnya perang saudara genosida suku Hutu dan Tutsi. Beberapa tulisannya juga sering direferensi oleh kompas Travel dan diambil oleh media lain. Catatan perjalanannya ditulis dan dikumpulkan menjadi sebuah buku. Buku beliau yang diterbitkan Mizan berjudul 1001 masjid di 5 benua dari Amsterdam sampai Zanzibar.

Beliau juga menulis kuburan antik dan orang ternama. Banyak tulisannya ke mausoleum Lenin Ho chi Mihn Napoleon bahkan ada makam khusu pemusik seperti Beethoven dll di Vienna. Menurutnya, kita juga bisa belajar kesetiaan dari kuburan seperti makam Hachiko di Tokyo.

Alasannya menulis masjid karena sebagai muslim yang pertama dicari adalah masjid ketika berkunjung ke suatu kota atau negara. Di sana akan mudah menemukan makanan halal berkenalan dengan penduduk lokal
Misalnya di Xiamen beliau bisa mampir dan minum teh di masjid walau tidak saling kenal. Begitu juga saat berada di Panama, diantar pulang ke stasiun metro.

Menulis sudah menjadi hobinya sejak lama, bahkan sejak jadi mahasiswa dulu tahun 1980. Beliau sering menjadi kontributor majalah kampus. Tulisan perdananya di kompasiana tentang Panmunjom perbatasan Korsel dan Korut.

Berikutnya, beliau memberi tips kepada penulis pemula, yaitu coba tentukan passion mau menulis tentang apa. Kemudian fokus di sana dengan sesekali boleh rehat dan ganti supaya tidak bosan. Bisa menulis tentang pengalaman, pengamatan, atau pun observasi.  Namun, opini dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan yang universal akan membuat tulisan kita menjadi kaya. Mengenai bahasa tulisan kita lebih baik menjadi diri kita sendiri dan biarkan tulisan dan pikiran mengalir begitu saja. Sesekali menulis juga dalam bentuk listicle alias tulisan memakai angka.

Untuk memperkaya tulisan bisa dilakukan dengan teknik wawancara. Waktu di Quanzhou, misalnya, beliau mewawancara imam masjidnya. Mengajak ngobrol hingga
mencair dan keluarlah kisah-kisah di balik tempat tersebut. Sebagai tips lagi, kita juga bukan yang bercerita tentang perjalanan, tetapi tentang pernak-pernik bepergian. Misalnya, kisah tentang perangko saja bisa jadi artikel utama.

Coba saja menulis dalam beberapa tema sampai menemukan mana yang cocok.
Kalau dipadukan dengan hobi kita akan makin pas. Misalnya saja ketika jalan-jalan ke Chiangmai dan itu disponsori Silk air. Maka saya menulis tentang pengalaman naik Silk air ke negri di atas awan, Nepal. Dan tentu saja sebagai penulis kita mesti rajin membaca dahulu. Saya kebetulan hobi membaca, terutama karya sastra, baik dari dalam, maupun dari luar negri. Kisah dari zaman Pujangga Baru seperti Siti Nurbaya sampai karya-karya Pramoedya dan Motinggo Busye.
Membaca Tolstoy Anton Checkov sampai karya Cervantes.

Beliau membangun personal branding tentang perjalanan ke masjid karena ratusan artikel saya tentang perjalanan dari masjid-masjid baik di Indonesia, maupun di pelosok dunia
Maka lahirlah buku mengembara ke masjid masjid di pelosok dunia. Tentu saja tidak ada jalan pintas. Semua harus dibangun dengan pelan-pelan. Buku itu saja merupakan kisah perjalanan hampir 8 tahun.

Intinya memulai sesuatu yang baru memang terasa sulit. Namun, kita tetap harus berani memulai dan mencoba. Mencoba dan terus berusaha sampai bisa. Karena bagi yang punya kemauan selalu ada jalan. Dan ada sebuah pepatah bahasa Spanyol yang bagus untuk diingat “La verdad aun que severa es amiga verdadera“.

Jumat, 01 Maret 2019

KUNJUNGAN SANTRI PUTRI SMAIT DAN MA AL KAHFI KE IBF 2019



Pembukaan Islamic Book Fair tahun ini, 27 Februari 2019, turut diramaikan oleh santri putri SMAIT dan MA Al Kahfi. Mereka pun mengikuti pula acara talk show yang dihadiri oleh Habiburrahman El Shirazi, A. Fuadi, M. Nashih Basyarahil, Hikmat Kurnia (Ketua IKAPI DKI Jakarta).



Diskusi yang dimoderatori oleh Syahruddin El Fikri (Wakil Ketua Panitia IBF 2019) berjalan dengan seru. Terlebih lagi diramaikan oleh pertanyaan dari tiga orang santri putri SMAIT Al Kahfi, Lido, Bogor.


Pertanyaan pertama yang diajukan oleh santri putri SMAIT Al Kahfi adalah, "Bagaimana menulis tidak suntuk dan dapat inspirasi." Lalu Kang Abik sebutan untuk Habiburrahman El Shirazy (Tokoh Perbukuan Islam 2019) menjawab, "Ada dua tipe penulis, ada yang seperti nelayan yang menunggu saja sampai datang ikan yang paling besar terdampar. Ada pula yang mencari inspirasi dengan pergi ke tempat yang disukai. Tinggal pilih, yang pertama akan lebih lama datang inspirasinya, sedangkan yang kedua lebih cepat karena kreatif mencari inspirasi.


Kesempatan bertanya kedua diambil oleh santri putri kelas XII SMAIT Al Kahfi, "Bagaimana memilih buku yang baik dan berfaedah?"

Kemudian M. Nashih Basyarahil (Pimpinan Penerbit Gema Insani) menjawab, "Sebenarnya dengan mengerti mana yang baik dan yang buruk, itu sudah bisa menjadi indikator untuk menjadi penerbit selain jadi penulis. Kamu bisa menjadi penerbit yang baik!"

Pada kesempatan ketiga, santri putri SMAIT Al Kahfi lagi-lagi tak menyiakan kesempatan yang berharga ini dengan menanyakan, "Bagaimana cara agar bisa konsisten menulis di lingkungan pesantren yang peraturannya tidak memperbolehkan alat elektronik?"

Untuk pertanyaan ini,
A. Fuadi (Penulis buku Islam terbaik Fiksi Dewasa) menjawab, "Saya juga dari pesantren. Justru dengan menjadi santri, kita bisa membagi waktu kita dengan terencana. Pada saat pulang kita selesaikan tulisan dengan alat elektronik yang kita punya."

Sementara itu, santri putra baru melakukan kunjungan ke IBF pada 28 Februari 2019. Semoga kegiatan mengunjungi IBF yang secara rutin dilakukan ini dapat menumbuhkan semangat literasi di kalangan santri Al Kahfi. (rf)