Tampilkan postingan dengan label Materi Menulis Bersama Om Jay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Menulis Bersama Om Jay. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2020

KIAT OM JAY MENJADI TRAINER


Menjadi seorang trainer itu tidak mudah karena dibutuhkan stamina yang prima. Sekali tampil ia harus tahan berbicara sekitar 8 jam sehari. Oleh karena itu, Om Jay selalu menjaga stamina tubuh dengan berolahraga. Mengelola waktu dengan baik, salah satunya dengan cara menulis dapat menyehatkan jiwa dan raga kita. Mereka yang suka menulis akan jauh dari berbagai penyakit asalkan tahu caranya.

"Mulailah menulis dari apa yang disukai dan kuasai. Menulislah dari hatimu maka engkau akan temui hati para pembaca setia tulisanmu." Itulah yang diajarkan guru blogger Om Jay, Bapak Dedi Dwitagama dan Pak Agus Sampurno. Pak Dede menulis di pak dedidwitagama.wordpress.com, sedangkan Pak Agus menulis di gurukreatif.wordpress.com. Tentu kedua blog itu selalu ramai pengunjungnya karena mereka adalah trainer hebat yang mahir dalam menulis dan berbicara.

Cara Om Jay menjaga stamina tubuh adalah dengan menyayangi istri sepenuh hati dan sepenuh jiwa untuk saling melengkapi dalam hidup ini. Tak terasa hari ini adalah hari pernikahan Om Jay  yang ke-22. Mereka menikah pada 8 Maret 1998 di Bandung, kemudian dikaruniai dua anak, Intan dan Berlian.

Rutin minum madu dan tidak meninggalkan sarapan membantu stamina beliau sehingga dapat membagi waktu untuk membaca dan menulis.  Om Jay membagi waktunya dalam 3 waktu, yaitu dunia nyata, dunia maya, dan dunia mimpi. Menurutnya, kita harus membaginya secara proporsional. Waktu di dunia nyata jelas harus lebih banyak daripada dunia maya dan dunia mimpi. Kalau ketiga waktu itu bisa kita kelola dengan baik maka kita akan sukses di dunia dan di akhirat.

Apakah atasan Om Jay selalu mendukung kegiatan Om Jay sebagai trainer? Mereka sangat mendukung asalkan tidak meninggalkan kelas. Oleh karena itu, beliau hanya menerima undangan mengisi training pada Sabtu dan Minggu atau setelah pulang sekolah sehingga tidak meninggalkan kewajiban saya sebagai guru. Menjadi trainer itu harus mampu memberikan keteladanan yang baik. Pimpinan sekolah dan istri di rumah juga mendukung. Om Jay selalu berkomunikasi dulu dengan istri ketika menerima pekerjaan sebagai trainer. Ketika istri kita ikhlas dan ridha melepaskan kepergian kita maka rezeki akan lancar dan tidak ada yang merasa dirugikan. Jangan lupa, beli oleh-oleh buat pimpinan sekolah dan rekan sejawat sehingga mereka juga senang mendengarkan cerita kita.


Terakhir, Om Jay memberikan artikel mengenai kebiasaan sukses setiap hari. Inti artikel itu ialah amal yang paling disukai Allah adalag yang rutin walaupun sedikit. Selamat hari pernikahan ke-22, Om Jay. Keberkahan berumah tangga semoga senantiasa meliputi Om dan istri tercinta.

Minggu, 08 Maret 2020

ROSIANA BERBAGI TIPS RESUME WORKSHOP (3)

Hadiah kejutan
dari workshop

Semalam adalah ketiga kalinya saya diberikan kesempatan oleh Om Jay untuk berbagi tips yang bersifat teknis mengenai bagaimana menulis resume di workshop menulis daring gelombang ketiga yang dikelola Om Jay yang terdiri dari 256 peserta grup What's App.  Saya menuliskan langkah-langkah praktis yang sangat sederhana. Berikut langkah-langkahnya.

Tulislah judul dengan huruf kapital agar langsung dikenali mata. Lalu, boleh tambahkan subjudul dan hal-hal detail lain di bawahnya. Misal,


TIPS MENULIS RESUME ALA ROSIANAFE

Workshop Menulis Bersama Om Jay

Hari, tanggal:

Tema:

Narasumber:



Pertama, untuk menulis resume dengan efektif, gunakan kata-kata yang mudah dipahami. Tentukan sendiri simbol atau singkatan yang ingin digunakan agar mencatat dan belajar terasa lebih mudah.

Kedua, tulis kata kuncinya. Kalau narasumber menyampaikan dengan pesan suara, tulis kata kuncinya saja. Jika ada kata-kata yang ketinggalan biar saja, nanti kita sambungkan dengan kalimat sendiri.

Ketiga, siapkan beberapa baris kosong di lembar catatan untuk digunakan kemudian. Saat mencatat kata kunci dan informasi, sediakan bagian kosong di antara dua baris agar bisa digunakan untuk melengkapi catatan.

Keempat, sebisa mungkin kita menjadi pendengar yang aktif saat mengikuti diskusi. Jangan asyik dengan akun media sosial membuat perhatian kita teralihkan supaya kita bisa mencatat dengan baik, memahami materi yang dijelaskan, dan mengingat informasi dalam jangka panjang.

Kelima, catatlah informasi yang disampaikan setelah terdengar kata atau frasa berikut:

Pertama, kedua, ketiga

Terutama atau khususnya

Peningkatan besar

Di sisi lain

Contohnya

Sebaliknya

Selanjutnya

Akibatnya

Ingatlah bahwa.

Keenam, tulis ulang catatan sesegera mungkin. Saat mencatat, tulis setiap informasi sejelas mungkin. Biarlah tulisan sedikit tidak rapi, yang penting tulisan masih jelas terbaca oleh mata kita.

Setiap pokok pembicaraan dalam kalimat dirangkai menjadi paragraf yang runtut dan padu (nyambung). Kalimat-kalimat tersebut disusun sesuai dengan urutan kejadian atau sebab akibat. Kalimat yang digunakan kalimat sederhana.

Nah, sekarang bagaimana kalau narsumnya dari awal sampai akhir menggunakan voice note? Hal ini cukup memusingkan saya sebab saya orang yang visual, bukan auditori. Saya lantas meminjam hp suami yang sudah didownload aplikasi Writer Plus. Sebelum mengenal aplikasi Writer Plus saya menggunakan aplikasi voice note yang ada di WA dengan cara yang sama dengan Writer Plus.

Cara menggunakan Writer Plus juga demikian. Saat video/audio diputar, saya menekan simbol mic di Writer Plus yang ada di HP suami, kalau sudah ada tulisannya, saya tekan titik tiga di pojok kanan atas, lalu share pilih text, pilih WA, kirim ke WA saya. 

Jika mau menggunakan aplikasi di WA juga bisa, caranya sama. Tes dulu dengan menekan tombol mic selagi warna mic-nya hijau. Kalau warnanya berubah menjadi abu-abu, tekan lagi sampai warnanya hijau hingga muncul kata-kata yang tertangkap oleh mic-nya.

Karena saya menggunakan 2 buah HP, saat video/audio HP saya diputar maka HP yang satunya lagi merekam dengan cara tekan lambang mic yang ada di WA suami, lalu kalau sudah ada tulisannya dikirim ke WA saya.

Dalam membuat resume workshop memakai aplikasi WA juga bisa. Klik mic-nya sampai mic berwarna hijau sewaktu video Youtube diputar, nanti suara dari Youtube yang tertangkap akan tertulis di WA. Begitu pengalaman saya. Tentu saja menggunakan dua buah HP.

Resume terkadang disamakan dengan Ikhtisar. Padahal, keduanya sama-sama memiliki perbedaan. Resume atau ringkasan sendiri merupakan penggalan kalimat yang mengandung gagasan pokok atau intisari. Biasanya, Resume memiliki isi yang hampir sama dengan gagasan pokok kalimat dalam sebuah teks, sedangkan ikhtisar merupakan ringkasan yang lebih pendek. Bedanya, ikhtisar tidak memperhatikan urutan gagasan pokok adalah sebuah kalimat. Intinya, ikhtisar lebih bersifat bebas. Itu karena ikhtisar dibuat menggunakan kalimat dan pemahaman sendiri ketika menjelaskan sebuah bacaan. Kalau kita sudah menyalin tempel materi yang sudah dibintangi tadi, baca ulang sampau kita paham maksud narasumber. Cari alat bantu seperti KBBI V, aplikasi yang dapat diunduh di Play Store. KBBI itu Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Cari kalimat-kalimat pentingnya. Kalimat penting itu biasanya sudah merangkum beberapa gagasan utama. Kita dapat melakukannya dengan menulis ulang kalimat penting tersebut. Dalam menulis resume tidak boleh menambah pendapat pribadi. Pendapat pribadi akan mengakibatkan ketidaksesuaian antara pendapat pribadi dengan naskah asli. Jadi, cukup tulis gagasan pokok dari kalimat yang telah kita baca. Untuk mempermudah pembaca, gunakan bahasa yang mudah.

Selesai menulis naskah, periksa kembali dengan membaca ulang resume yang telah dibuat. Ini merupakan antisipasi bila terdapat kesalahan dalam penulisan. Diantaranya yang bisa kita lakukan seperti: periksa ejaan yang benar, periksa tanda baca, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan periksa ulang kesesuaian isi naskah asli dengan resume.

Hasil mengikuti workshop sangat bermanfaat untuk disampaikan kembali kepada para siswa yang membutuhkannya. 

http://rosianafebriyanti.blogspot.com/2020/03/menulis-di-medsos.html


Semoga bermanfaat.

Selasa, 03 Maret 2020

ROSIANAFE BERBAGI TIPS MENULIS RESUME (2)



Semalam saya berbagi tips menulis resume workshop. Berhadapan dengan guru-guru hebat membuat saya deg-degan. Oleh karena itu, saya mulai materi menulis resume dari persiapannya yang ringan. Untuk persiapan mengikuti workshop, singkirkan hal-hal yang sekiranya mengganggu. Kalau anak menangis hendaknya digendong dulu anaknya, sambil membintangi materi yang telah disampaikan narsum di grup WA. Kalau mengantuk sedia kopi dan siapkan cemilan dulu, kecuali kalau sudah mengantuk sekali sebaiknya tidur saja.

Kalau "sajen" seperti kopi, cemilan, Writer Plus, dll. sudah siap, catatlah hal-hal mendetail di bagian atas kertas/note di HP.

Kuaci, cemilan murah meriah

Kopi dan mendoan

Kalau ada, sekoteng juga nikmat disantap kala cuaca dingin.

Sekoteng

Selanjutnya, usahakan menulis judul dengan huruf kapital agar langsung dikenali mata. Lalu, boleh tambahkan subjudul dan hal-hal detail lain di bawahnya. Misal,

TIPS MENULIS RESUME ALA ROSIANAFE

Workshop Menulis Bersama Om Jay
Hari, tanggal:
Tema:
Narasumber:
(silakan jika mau ditambahkan hal mendetail lain)

Karena yang saya sampaikan ini termasuk jenis tulisan "How to" maka saya memilih kata imperatif (kata perintah) di awal kalimat. Maaf, jika tulisan ini terkesan menggurui, saya hanya diminta berbagi tips menulis resume workshop oleh Om Jay. Ini kali kedua saya diberikan kesempatan sebagai narasumber. Terima kasih, Om Jay.

Pertama, untuk menulis resume dengan efektif, gunakan kata-kata yang mudah dipahami. Tentukan sendiri simbol atau singkatan yang ingin digunakan agar mencatat dan belajar terasa lebih mudah.

Kedua, tulis kata kuncinya. Kalau narasumber menyampaikan dengan pesan suara, tulis kata kuncinya saja. Jika ada kata-kata yang ketinggalan biar saja, nanti kita sambungkan dengan kalimat sendiri.

Ketiga, siapkan beberapa baris kosong di lembar catatan untuk digunakan kemudian. Saat mencatat kata kunci dan informasi, sediakan bagian kosong di antara dua baris agar bisa digunakan untuk melengkapi catatan.

Keempat, sebisa mungkin kita menjadi pendengar yang aktif saat mengikuti diskusi. Jangan asyik dengan akun media sosial membuat perhatian kita teralihkan supaya kita bisa mencatat dengan baik, memahami materi yang dijelaskan, dan mengingat informasi dalam jangka panjang.

Kelima, catatlah informasi yang disampaikan setelah terdengar kata atau frasa berikut:
Pertama, kedua, ketiga
Terutama atau khususnya
Peningkatan besar
Di sisi lain
Contohnya
Sebaliknya
Selanjutnya
Akibatnya
Ingatlah bahwa

Keenam, tulis ulang catatan sesegera mungkin. Saat mencatat, tulis setiap informasi sejelas mungkin. Biarlah tulisan sedikit tidak rapi, yang penting tulisan masih jelas terbaca oleh mata kita.

Setiap pokok pembicaraan dalam kalimat dirangkai menjadi paragraf yang runtut dan padu (nyambung). Kalimat-kalimat tersebut disusun sesuai dengan urutan kejadian atau sebab akibat. Kalimat yang digunakan kalimat sederhana.

Bisa juga dengan mengubah kalimat langsung menjadi tak langsung selagi kalimat itu masih bertujuan yang sama. Kalimat yang maksudnya sama digabungkan supaya lebih ringkas.

Nah, sekarang bagaimana kalau narsumnya dari awal sampai akhir menggunakan voice note? Hal ini cukup memusingkan saya sebab saya orang yang visual, bukan auditori. Saya lantas meminjam hp suami yang sudah didownload aplikasi Writer Plus. Sebelum mengenal aplikasi Writer Plus saya menggunakan aplikasi voice note yang ada di WA dengan cara yang sama dengan Writer Plus.

Writer Plus bisa diunduh di Play Store


Cara menggunakan Writer Plus juga demikian. Saat video/audio diputar, saya menekan simbol mic di Writer Plus yang ada di hp suami, kalau sudah ada tulisannya, saya tekan titik tiga di pojok kanan atas, lalu share pilih text, pilih WA, kirim ke WA saya. Ribet memang, tapi baru sebatas itu yang saya bisa lakukan. Terima kasih pada Bu Melni yang mengajarkan tentang penggunaan Writer Plus.

Jika mau menggunakan aplikasi di WA juga bisa, caranya sama. Tes dulu dengan menekan tombol mic selagi warna micnya hijau. Kalau warnanya berubah menjadi abu-abu, tekan lagi sampai warnanya hijau hingga muncul kata-kata yang tertangkap oleh mic-nya.


Saat video/audio hp saya diputar maka hp yang satunya lagi merekam dengan cara tekan lambang mic yang ada di WA suami, lalu kalau sudah ada tulisannya dikirim ke WA saya.

Dalam membuat resume workshop memakai aplikasi WA juga bisa. Klik mic-nya sampai mic berwarna hijau sewaktu video Youtube diputar, nanti suara dari Youtube yang tertangkap akan tertulis di WA. Begitu pengalaman saya. Tentu saja menggunakan dua buah HP.

Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Sekalipun tidak ada aplikasi Writer Plus, jika sudah terbiasa tulisan tangan tidak masalah, yang penting kita enjoy dan tidak terbebani.

Agar blog saya menarik maka saya tambahkan foto atau video yang di-share oleh narasumber. Sedangkan untuk foto narasumber saya akali dengan melakukan screen shoot dari foto profil WA-nya. Maaf ya, suhu-suhu. Selama mengikuti program belajar menulis bersama Om Jay, semua materinya menarik karena masing-masing narasumber memberikan pengalaman unik dan terbaiknya.

Jangan khawatir jika perbendaharaan kata kita masih terbatas. Tulis saja, nanti kita bisa meminta saran kepada rekan kerja/suami. Tunjukkan tulisan kita dan tanya, apa tulisan saya sudah enak dibaca atau belum.

Bagaimana caranya agar kita bisa membagi waktu sehingga dapat rutin mengikuti materi dan segera menulis? Ikuti saja, kalau mengantuk atau kecapean sebaiknya tidur saja. Yang bagian pentingnya kita bintangi. Nanti di-copy paste ke note HP/Writer Plus, lalu kita modifikasi dengan kalimat sendiri. Usahakan sebisa mungkin jangan sama persis. Untuk ini saya juga masih harus banyak belajar. Oh iya, mengedit bisa kapan saja, saat ada jam kosong/jam istirahat di sekolah, atau saya sempatkan menjelang subuh. Jangan menunda-nunda untuk menulis karena semakin menunda semakin menumpuk juga potensi stres saya.

Di akhir diskusi, ternyata ada peserta workshop yang menanyakan pengalaman saya dalam menulis cerita anak dan meminta tipsnya. Saya menjawab, sering-seringlah berinteraksi, mengobrol, dan bermain dengan anak. Kalau anak kita sudah besar, bermainlah dengan anak tetangga yang masih balita. Mereka lucu dan menyenangkan. Terkadang, dari celoteh mereka bisa memberi ide dan mengembangkan daya khayal saya.

Ada pula yang menanyakan mengapa saya tidak membeli buku antologi saya. Kemudian saya menarik napas panjang dan berat menulis jawabannya. Saya akui, tidak semua buku antologi yang ditulis bersama itu saya beli dari penerbit indie. Karena dulu saya gila menulis, hampir semua "sayembara atau lomba menulis" (yang sebenarnya itu adalah kegiatan menulis bersama dan patungan beli buku) saya ikuti sewaktu jadi fesbuker. Satu buku harganya 60-75 ribu, dari kumpulan puisi, cerpen, cernak, quotes, pengalaman mengajar, kisah motivasi, dll. Saya tidak punya uang untuk membeli buku lebih dari satu. Biar sajalah, yang penting jejak nama saya masih ada di google walaupun hanya sebagai penulis antologi. Saya menulis untuk menyalurkan hobi. Jika ada yang ingin melihat secuil biodata dan aktivitas saya silakan mengintip tulisan saya di
http://rosianafebriyanti.blogspot.com/2020/02/rosianafe-berbagi-tips-resume.html

Jangan lupa, sering-sering mengunjungi blog teman ya, tinggalkan komentar apa saja. Nanti teman kita juga melakukan hal yang sama. Itu sudah menjadi semacam etika blogger yang tidak tertulis. Menjalin silaturahmi konon bisa memperpanjang umur. Stres hilang, sakit kepala menjauh, sedang mengobrol tiba-tiba dapat inspirasi/ide, dan lain-lain. Percaya tidak percaya, itu rezeki juga namanya, kan?

Kemudian ada yang bertanya tentang menulis cerita anak. Apakah anak-anak zaman sekarang masih tertarik dengan dongeng? Saya menjawab berdasarkan sependek pengetahuan dan pengalaman saya. Di tingkat SD-SMP perlu diubah strateginya, bukan dibacakan dongeng. Akan tetapi, anak-anak diminta membaca dongeng, lalu menceritakan kembali dengan gaya story telling di depan kelas seperti lomba story telling bahasa Inggris, pakai kostum, pakai properti, dan ceritanya monolog.

Santri putri kelas X mementaskan
drama Malin Kundang

Saya pernah mengajar SMP kelas 7 dan kelas 10 SMA dan kebetulan materinya sama-sama cerita rakyat, lalu saya minta mereka mengonversinya ke naskah drama yang nantinya akan mereka perankan. Ah, saya merindukan masa-masa mengajar di SMP dulu. Syukuri aaapa yang adaaa, hidup adaalah aanugerah. 🎵🎵🎵 yah, jadi nyanyi dah tuh.

Tanpa terasa sudah lewat setengah jam dari batas akhir workshop, pukul 21.00 WIB maka diskusi saya tutup dengan pantun.

Pohon rambutan cabangnya patah
Kalau menepi hati-hati
Kalau ada kata yang salah
Jangan simpan dalam hati

Buah rambutan buah duren
Enak di lidah terasa manis
Di sini tempat guru-guru keren
Mari kita belajar menulis

Batik lurik di baju cokelat
Hingga terlukis gambaran manis
Jadikan kritik pelecut semangat
tetap optimis dan rajin menulis



Wasalam, semoga menginspirasi.


Minggu, 01 Maret 2020

SRI YAMINI CEGAH SAKIT KEPALA DAN PIKUN DENGAN MENULIS

Sri Yamini


Ibu Sri Yamini telah membuktikan sejak menulis pada 2016 sampai saat ini beliau jarang terkena sakit kepala. Beliau belajar menulis karena melihat sebuah buku di akun fb hasil tulisan dari Master Dr. Idris Apandi, M.Pd, Widyaiswara LPMP Jawa Barat yang berjudul "Saya Guru Saya Bisa Menulis".

Awal Januari 2016 beliau mengikuti workshop menulis artikel dan PTK di KBB Padalarang bersama Master Idris Apandi dan Pak Cece Sutia. Karena penasaran bagaimana cara menulis itu beliau mengikuti pelatihan menulis di LPMP Jawa Barat dan menghasil sebuah buku antalogi berjudul " Guru Menyemai Benih Literasi (Sebuah Karya Para Guru Pembelajar) yang diikuti guru-guru dari Jawa Barat, bahkan ada pula guru dari Yogyakarta. Itulah buku perdana yang beliau tulis. Beliau bertemu dengan Erni Wardhani, guru SMK dari Cianjur, Bu Ade guru SMP dari Cianjur, dkk.

Karena penasaran ingin bisa menulis, beliau lalu mengikuti pelatihan menulis dengan tema Sagusaku (Satu Guru Satu Buku) bertempat di P4TK IPA Bandung. Buku beliau yang kedua dihasilkan dari pelatihan Sagusaku (Satu Guru Satu Buku). Di sinilah beliau tertantang harus bisa menulis buku sendiri dan buku antalogi.

Pada akhir bulan Desember 2016- awal Januari 2017 beliau mengikuti pelatihan di grup TWC Batch 6 bersama Pak Wijayakusuma, Pak Namin guru SD Muh Cileungsi,⁩ dkk. Lalu beliau bertemu dengan Bu Nuraeni di wisma UNJ. Hasil dari workshop menulis buku adalah buku antalogi berjudul "Bukan Guru Biasa".

Tidak sampai di situ, beliau lalu mengikuti pelatihan menulis Sagusaku bersama IGI Cimahi dan IGI Surabaya. Selain itu, beliau juga bergabung di grup KPLJ (Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat). Kebetulan beliau pengurus untuk wilayah Bandung. Lanjut lagi menulis buku secara online karena para pengurus dan anggota kebanyakan berasal dari luar daerah. Jadi, mengadakan pelatihan online.

Menulis telah menjadi hobi beliau walaupun memiliki banyak tugas dari sekolah. Beliau selalu mengikuti pelatihan, kadang-kadang ikut pula pelatihan yang tatap muka. Sekali-kali kopdar (bertemu) dengan teman-teman dan pengurus lainnya. Setelah bertemu dengan teman-teman. Perasaan beliau  sangat senang karena memiliki hobi yang sama, menulis.

Petualangan beliau dalam menulis berlanjut dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh grup KGPJB (Komunitas Guru Penulis Jawa Barat). Di grup tersebut beliau mengasuh grup menulis untuk SD dari kelas 4-6. Ternyata anak-anak sangat antusias. Para anggotanya bukan saja berasal dari Jawa Barat melainkan ada juga yang dari luar Jawa Barat.








Selain itu, beliau mengikuti pelatihan menulis bersama Master Adhan Chainago asal Solok, Sumatra di Grup Komunitas Guru Masa Depan di grup AWC Batch 2 (Adhan Writing Camp Batch 2). Pesertanya dari seluruh guru-guru se-Indonesia. Buku tersebut buku karya tunggal yang kedua selain Sagusaku.

Petualangan menulis beliau selanjutnya merambah ke wilayah Bogor. Beliau mengikuti pelatihan menulis di grup PIPP ( Pendidik Indonesia Pelopor Perubahan) bersama Bu Nina dan Bu Nanda dari Bogor. Selain buku-buku tersebut, masih ada lagi yang sedang dicetak oleh penerbit yaitu:

1.Tokoh Pendidikan Dunia jilid 1 dan jilid 2 dari grup KGPJB 

2.Kumpulan menulis puisi akrostik Grup KGPJB Wilayah Tasikmalaya 

3. Buku kumpulan puisi, pantun, cerpen antalogi dari grup Menulis SD kelas 4-6 KGPJB (sebagai editor/kurator ) 

4.Buku Mengenal tingkah laku manusia dengan Grafologi KGPJB 
dll.

Menulis baginya sangat menyenangkan. Apalagi ada tema yang sangat disukai, pasti proses menulisnya menjadi lancar. Apa yang dikatakan Pak Wijayakusuma mengenai "Menulis setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi" sangat benar. Itulah yang beliau rasakan. 

Dari buku-buku yang beliau pesan dari penerbit, semuanya belum pernah beliau jual. Beliau menulis hanya ingin mengumpulkan ide-ide tulisan tersebut sebagai arsip. Pernah juga bertukar buku dengan teman untuk saling berbagi pengalaman. Mungkin dari pengalaman orang lain bisa jadi sebuah ide yang ingin ditulis dengan versi kita sendiri.

Menurutnya, kalau kita ingin bisa menulis harus rajin membaca buku karya orang lain/karya penulis ternama. Dari pembaca buku tersebut ada sesuatu yang akan masuk ke dalam ide-ide kita. Mengapa harus banyak membaca buku? Tujuannya untuk meningkatkan pembendaharaan kata serta kalimat supaya lebih baik dan sesuai dengan EYD/Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Beliau lebih suka membeli buku-buku karya orang lain, selain membaca buku di perpustakaan atau di google.

Selama belajar menulis, beliau sendiri guru asal Bandung, tetapi beliau tetap bersemangat ingin bisa menulis. Walaupun tempat pelatihannya jauh tetap dikejar, yang terpenting suami dan anak-anak mengijinkannya untuk berangkat ke tempat jauh.

Di grup "Menulis Bersama Om Jay" kebanyakan narasumbernya adalah trainer yang luar biasa dengan berbagai prestasi hasil lomba. Berbeda dengan dirinya sewaktu muda kurang update informasi mengenai lomba. Kalau ada informasi dari kepala sekolah beliau hanya coba membuat PTK untuk lomba gurpres, dll. Akan tetapi, beliau tidak tahu informasi selanjutnya, hanya tahu pengumuman pemenangnya.

Lalu bagaimana cara beliau mengelola waktu antara belajar dan mengajar? Beliau mengatur waktu, misalnya belajar pada saat istirahat di sekolah, di rumah saat sudah bangun subuh, selain melaksanakan sholat sunat, beliau membuka hp/laptop sampai pukul 05.00 sisa waktu sebelum ke dapur. Beliau juga meluangkan waktu untuk bangun pukul 02.00/03.00.

Suami dan anak-anak selalu mendukung karena sebelum berangkat beliau sudah menyiapkan makanan, bekal anak sekolah, dan kebutuhan lain-lainnya. Kebetulan suami masuk kerja pukul 07.00-19.00, kalau ada kerja malam pukul 19.00-08.00 pagi, kadang-kadang suami dinas ke luar kota/keluar provinsi sekitar 1-2 minggu. Jadi, sewaktu suami dinas beliau mempergunakan waktu setelah anak-anak mengerjakan PR. Mulai pukul 21.00-24.00 bangun pukul 02.00/03.00 pagi. 

Mengenai biaya pelatihan beliau menggunakan uang sertifikasi. Uang sertifikasi selain digunakan untuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak, beliau gunakan untuk membeli ATK, komputer/laptop.

Mengapa menulis membuatnya tidak sakit kepala? Karena selama belajar menulis sampai saat ini beliau merasakan isi kepala terasa ringan karena curahan hati keluar begitu saja, beban dalam hati terasa plong/terbebas dari beban yang berat seperti kita mengangkat batu yang besar. Sejak belajar menulis, tahun 2016-saat ini tahun 2020, buku yang sudah diterbitkan 2 buku karya tunggal dan 13 buku antalogi, total semuanya ada 15 buku.

Simpulan dari materi malam ini adalah:

1. Jangan berhenti belajar dalam mencari ilmu

2. Jangan merasa puas dengan hasil kerja kita yang diperoleh, tetapi harus lebih semangat lagi dalam mencari ilmu 

3.Dengan menulis terasa beban yang ada dlm hati terasa ringan/plong.

4. Menulis merupakan suatu hiburan /hobi/refresing otak dengan kegiatan rutinis yang sangat menyita waktu. 

Semoga menginspirasi.

Sabtu, 29 Februari 2020

EDI ARHAM, GURU BEJO DARI DAERAH TERPENCIL



Edi Arham adalah penerima satya lencana dari Presiden Jokowi tahun 2019 di HUT PGRI. Beliau bertugas di daerah terpencil.  Jaraknya 68 km dari ibukota kabupaten. Saat ini tinggal 28 km yang berstatus  jalan tanah, yang ketika musim hujan berlumpur dan saat musim kemarau berdebu.

Beliau menceritakan, saat itu yang lolos lomba guru ada 11 orang untuk 8 sekolah yang ada di kecamatan terpencil itu. Saat ini yang bertahan tinggal tiga orang guru saja karena 8 orang guru sudah meminta mutasi ke kota termasuk guru-guru yang diangkat PNS setelah beliau.

Edi Arham sebenarnya bukan asli dari daerah tempatnya bertugas, tetapi saat ada seleksi untuk menjadi guru terpencil 2008 beliau tertarik untuk mengikutinya. Beliau tertarik karena memang diperuntukkan untuk sekolah-sekolah daerah terpencil di kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Di tempat itu semula tidak ada jaringan listrik dan baru beberapa minggu lalu mendapat bantuan internet pedesaan atau orang menyebutnya internet satelit bagi daerah terpencil yang berasal dari kementerian Kominfo. Sebagai penerang pada saat malam tiba biasanya digunakan pelita atau lampu minyak, atau kadang bisa menggunakan lampu yang energinya berasal dari accu motor. Baru-baru ini juga daerah itu mendapat bantuan lampu tenaga surya dari panel kecil.

Untuk mencapai sekolah beliau harus menempuh jarak sekitar 143 km dari rumah.  Rumah beliau terletak di kabupaten lain. Beliau ke sekolah pada hari Senin subuh dan biasanya pulang pada hari Jumat setiap minggunya. Bayangkan, beliau harus meninggalkan keluarga selama 4 sampai 5 hari setiap minggunya.

Sekarang beliau ingin sedikit berbagi pengalaman tentang keberuntungan (bejo) yang didapatnya selama tiga tahun terakhir. Keberuntungan yang bisa mengantarnya ke ibukota negara dan beberapa kota lain di Indonesia, bahkan bisa sampai pula ke negeri Belanda.

Saat ini beliau masih menjabat PNS masih IIIa, padahal sudah hampir 12 tahun mengabdi. Itu karena beliau masuk PNS menggunakan ijazah diploma II. Status sarjananya saat mendaftar PNS tahun 2008 tidak berpengaruh karena tidak sesuai jurusan guru yaitu sarjana perikanan.

Bejo pertama itu terjadi di awal tahun 2017 beliau beruntung mengenal Facebook dan mendapat konfirmasi pertemanan dari guru-guru di berbagai daerah di Indonesia. Dari mereka, beliau mendapat solusi atas permasalahan tunjangan daerah terpencil yang dihadapi oleh guru-guru terpencil di daerah, bahkan seluruh guru-guru terpencil di daerah lain di Indonesia. Teman-teman mengarahkan beliau untuk menulis permasalahan tersebut kemudian mengirimnya ke web Kesharlindung Dikdas. Saat itu pula beliau mengetahui bahwa Kemdikbud memiliki program-program unggulan di kesharlindung dikdas, program yang melibatkan guru secara terbuka.

Sebenarnya sejak terangkat 2008 sebagai guru hingga awal 2017, beliau termasuk juga guru yang tidak banyak ambil pusing dengan urusan pengembangan kompetensi diri, selain mengajar secara monoton. Artinya, beliau termasuk guru yang senang pada zona nyaman. Hingga akhirnya tibalah keberuntungan pertama.

Pertama, setiap niat baik kita tentu akan dibalas dengan kebaikan pula oleh Allah. Berbekal semangat dan keprihatinan terhadap diri dan teman-teman sesama guru terpencil beliau mencoba menulis sebuah artikel yang berisi nasib guru-guru terpencil akibat adanya regulasi baru. Beruntung, tulisannya yang berjudul “ Selamatkan Nasib Guru Terpencil, Ironi kebijakan Tiga Kementerian” lolos dalam kegiatan tersebut dan ikut terpanggil sebagai peserta seminar nasional guru berprestasi tahun 2017 di Jakarta. 

Kedua, saat kita dekat dengan orang-orang baik maka mereka akan selalu menunukkan jalan kebaikan kepada kita. Ketiga, kita tidak akan pernah berhasil tanpa mau mencoba, ini untuk proses belajar menulis. tulislah apa yang kita benar-benar rasakan tanpa ada rekayasa sehingga tulisan kita akan membawa berkah juga bagi kita. Keempat, saat mulai mencoba menulis, jangan pernah malu untuk bertanya kepada orang yang kita nilai lebih berpengalaman dalam menulis. jangan pernah merasa harga diri kita akan jatuh bila belajar dari orang lain.

Adapun bejo kedua terjadi pada saat beliau mengikuti kegiatan seminar guru berprestasi Kesharlindung. Pada ajang itu beliau beruntung bisa mengenal guru-guru hebat dari seluruh Indonesia. Beliau beruntung bisa mendapat informasi tentang ajang-ajang peningkatan kompetensi guru termasuk berbagai lomba tingkat nasional

Beberapa saat setelah kegiatan seminar, ajang di P4TK itu dibuka dan beliau mencoba mengirim artikel rencana pengembangan salah satu media pembelajaran. Rencana pengembangan media pembelajaran yang beliau beri nama Ma Kokar (halma koordinat kartesius) lolos dalam seleksi itu. Beliau terpanggil untuk mengikuti kegiatan yang dibagi dalam tiga tahapan yaitu in1 on dan in2.

Beberapa poin penting yang beliau ambil dari bejo kedua ini di antaranya: pertama, sebagai seorang guru idealnya senang berbagi ilmu dan pengalaman dengan guru lainnya. Hal itu terlihat dari guru-guru yang beliau temui di kegiatan tersebut. Mereka dengan senang hati memberikan pemahaman kepadanya atas setiap pertanyaan yang beliau sampaikan.

Kesempatan pelatihan tersebut beliau gunakan dengan baik. Tak lupa juga menyedot informasi, ilmu dan pengalaman dari guru-guru peserta lain. Dari ajang itu beliau diperkenalkan oleh guru-guru lain tentang kegiatan PKB 2in1 yang digelar P4TK Matematika. Beliau beruntung mendapat petunjuk dan dukungan teman untuk mencoba seleksi ajang tersebut. Syaratnya harus mengirim rencana produk pengembangan media pembelajaran.

Poin penting kedua, tidak ada satupun guru peserta yang merasa bahwa dirinya memiliki ilmu dan pengalaman lebih dari yang lainnya. Padahal, dengan nyata beliau melihat mereka memiliki banyak kelebihan. Mereka selalu bersikap merendah dan tidak menggurui. Ketiga, lahirnya perasaan bahwa ilmu dan pengalaman yang kita miliki saat ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ilmu dan pengalaman yang belum kita miliki. Perasaan ini mendorong kita untuk selalu banyak belajar, tidak cepat puas atas pencapaian kita.

Bejo ketiga, beliau beruntung bisa ikut kegiatan PKB 2in1 di Jogja karena dari kegiatan itu beliau mendapat banyak pengetahuan dari para widyaiswara P4TK Matematika Yogyakarta. Dalam kegiatan itu pula beberapa widyaiswara mengajak guru-guru peserta untuk mengikuti ajang Olimpiade nasional inovasi pembelajaran matematika ONIP Matematika. Bejo keempat, ternyata kota Yogyakarta itu indah dengan segala keindahannya dan warga-warganya itu sangat baik.

Berbebekal pengetahuan dan pengalaman dari teman-teman guru dan widyaiswara beliau mencoba mengikuti seleksi ajang ONIP Matematika pada akhir tahun 2017 dengan karya inovasinya yang bernama Algamusi balistik (alat peraga multi fungsi bahan limbah plastik" dan lolos sebagai finalis dalam ajang tersebut. 

Bejo kelima, saat mengikuti seleksi ajang guru berprestasi dan berdedikasi di daerah khusus tingkat nasional, beliau beruntung menjadi juara kedua. Dalam ajang guru berdedikasi dan berprestasi itu beliau menyampaikan kondisi nyata daerah tempat tugas saya serta apa saja yang telah beliau lakukan untuk memberi motivasi kepada teman-teman guru yang menjadi peserta di ajang itu.

Beliau menyampaikan bahwa keterbatasan fasilitas jangan mengkerdilkan usaha kita tetapi justru harus menjadi cambuk untuk lolos dari keterbatasan itu. Pertama, keterbatasan dan kekurangan kita di daerah terpencil tidak boleh membatasi kreatifitas kita. Bagi teman-teman yang ingin mengikuti ajang ini, tunjukkan inovasi-inovasi kita yang merupakan solusi dari keterbatasan yang kita hadapi. Jangan hanya menonjolkan kesulitan-kesulitan akses dan fasilitas karena pada dasarnya peserta-peserta yang mengikuti ajang ini adalah guru-guru yang memang berasal dari daerah-daerah terpencil yang kondisinya sama-sama sulit.

Sejumlah media dan strategi pembelajaran yang telah beliau lakukan tersampaikan pada ajang tersebut dan ternyata cukup menginspirasi teman-teman guru terpencil lainnya. Prinsip yang beliau tanamkan kepada mereka adalah menjadi guru daerah tertinggal jangan mau ketinggalan, menjadi guru daerah terbelakang tapi jangan mau di belakang, dan guru daerah terpencil tapi jangan mau dikucilkan. Dalam memilih produk media, model, strategi atau produk pembelajaran lainnya, hendaknya menyesuaikan tema dan perkembangan isu pendidikan yang trend saat itu.

Bejo keenam terjadi saat menjadi juara 1 lomba inovasi pembelajaran (inobel) Kemdikbud tahun 2019. Selain mengikuti kegiatan lomba, berbagai kegiatan seminar dan pelatihan sempat beliau ikuti dan pernah menjadi pemakalah terbaik dalam seminar guru berprestasi kesharlindung. Saat itu beliau beruntung karena memilih media pembelajaran berbasis kearifan lokal yang sangat mudah dibuat dan digunakan. Namanya media pembelajaran Robam (Rotan bambu).

Poin penting yang ingin beliau sampaikan bahwa benda-benda yang ada di sekitar kita pada prinsipnya bisa dijadikan sebagai media dan alat pembelajaran. Kedua, lagi-lagi jangan malu bertanya pada orang-orang yang telah pernah mengikuti ajang inobel ini, terlebih bagi teman-teman guru yang baru pertamakali mengikuti seperti beliau saat itu.

Ketiga, berusaha mendapatkan info termasuk naskah-naskah karya tulis yang lolos tahun sebelumnya, utamanya yang lolos hingga tahap finalis. Ini memang berat karena tidak semua juga teman-teman guru mau berbagi. Alasannya tepat karena mereka ingin mempublikasikan dulu dalam bentuk buku atau jurnal.

Keempat, dalam pengembangan ide, kita jangan cepat puas dengan ide pertama kita, tetapi cobalah untuk selalu berpikir bagaiman ide kita itu dikembangkan untuk menjadi ide yang akan kita ikutkan lomba.




Bila karya-karya tersebut dikembangkan lagi maka beliau yakin, Mega Sigra (Media Peraga Simulasi gerhana) ini tidak akan beruntung menjadi pemenang karena belajar dari pengalaman inobel pertama beliau itu, karya-karya teman yang lain juga luar biasa, hanya saja sebenarnya masih bisa dikembangkan lagi sehingga menjadi karya yang lebih luar biasa.


Misal, saat anak sulit mengenal konsep skala beliau berusaha menciptakan pembelajaran yang membantu anak memahami konsep skala dengan cara menggunakan hp android beliau.

Akan tetapi dalam tatap mode offline, dengan cara memotret benda-benda dari atas kemudian meminta siswa mengukurnya, baik itu area yang difoto (kamera) maupun yang ada di foto android.

Menurut pengalaman beliau, ide itu biasa hadir saat beliau melihat benda-benda baru yang menarik. Ini khusus untuk media pembelajaran. Ada beberapa memang yang sederhana lahir dari permasalahan saat pembelajaran. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat media pembelajaran yang dibuat bervariasi, dari yang gratis hingga yang paling mahal sekitar 300 ribu, khusus untuk lomba. Karena jarak yang jauh serta bahan-bahan penunjang yang sulit diperoleh maka beliau biasanya membawanya dari rumah, seperti kertas dan bahan-bahan yang harus dibeli di kota.

Motivasinya yaitu bagaimana anak bisa lebih mudah memahami materi yang kita sampaikan. Sebelum mengikuti aneka kegiatan, ada beberapa media juga sudah saya kembangkan, walaupun masih sederhana. Yang paling berkesan yaitu saat menjadi pemulung botol air minum mineral, media algamusi balistik.


Tantangan paling berat selama bertugas yaitu dari menghadapi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hampir semua warga berpenghasilan rendah sehingga terkadang melibatkan anak-anak mereka mencari nafkah. Para siswa terkadang meninggalkan sekolah karena mengikuti orang tuanya masuk hutan mencari rotan, kayu, dan madu.

Teman-teman guru di sekolah biasanya beliau libatkan dalam proses pembuatan media pembelajaran dan penilaian dan evaluasi karya beliau. Mereka sering beliau jadikan sebagai mitra yang menggunakan produknya sambil memberikan pemahaman kepada teman-teman guru yang masih berstatus honorer yang memang warga setempat. Dampaknya memang kurang maksimal karena pola pikir masyarakat yang masih sering mementingkan kepentingan ekonomi mereka yang terbatas. 


Sangat ironis, tetapi hal-hal seperti itu tidak membuat mereka patah semangat melakukan pendekatan melalui teman-teman guru yang mempunyai hubungan secara garis keluarga dengan orang tua siswa. Sebagai contoh, dalam program PIP, tidak semua siswa mendapat bantuan sehingga yang tidak mendapat bantuan melakukan protes dengan cara menyuruh anaknya tidak usah bersekolah. Orang tua siswa diberikan pemahaman oleh beliau dan teman-teman guru yang masih ada hubungan keluarga.

Beliau mendapat apresiasi yang baik dati sekolah sejak 2017, saat ikut kegiatan nasional dan kepala sekolahnya sudah berganti tiga kali.
Pada dasarnya sekolah mendukung, terutama dalam pemberian izin.

Terakhir, beliau berpesan jangan pernah merasa cukup dengan ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang kita capai saat ini, karena ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang belum kita ketahui jumlahnya masih jauh lebih banyak. Sering-seringlah bersedekah ilmu dan pengalaman karena hal itu justru akan menambah ilmu dan pengalaman kita.

Rabu, 26 Februari 2020

SUHARDIN, JUARA INOBEL DARI BUMI RINDANG




Sebagai pembuka diskusi malam ini, marilah kita membaca tulisan pengantar dari sebuah kisah klasik Bapak Suhardin dalam mengajar di SMPN 17 Kendari berikut ini.


=================================
MENGAJAR, MENANTANG JAMAN
Suhardin


Bumi Rindang, julukan tempat saya bekerja. Menjadi guru adalah takdir kebaikan. Namun mengajar harus sesuai jamannya. Bila tidak kekinian, maka akan tertinggal jauh. Itulah alasan kuat, seorang guru harus terus berpacu dengan waktu, Agar tetap menjadi idola di tengah siswanya. 

Milenial menjadi simbol pembelajaran abad ke-21. Fasilitas teknologi menjadi sebahagian syarat bersosialisasi. Tidak mengenal tempat dan waktu. Informasi maupun komunikasi tetap bisa diakses. Inilah tantangan mengajar dan membimbing siswa di jaman new. Sedikit saja saya tertinggal malah balik diajar. Namun bagi saya, lumrah dan tidak perlu malu.


Memanfaatkan komunitas maya mereka, menjadi sebuah solusi. Saya harus berbaur sambil membimbing dan mengajar. Bahasa mereka kadang diluar nalar. Beberapa kadang menyimpang ataupun tidak dimengerti. Tetapi itulah mereka, anak yang tumbuh dijamannya. Fungsi guru kadang terlupakan, jika terlarut arus kata dalam layar sentuh. Seiring waktu, akhrinya terbiasa dan memahaminya. Saya pun menjadi remaja di saat umur hampir setengah abad.


Mengajar sesuai jaman tidak harus meninggalkan budaya. Mengenalkan teknologi jangan sampai menghilangkan adab dan kehidupan keluarga. Memacu pengetahuan dan keterampilan jangan melupakan karakter siswa. Bagimana meramunya menjadi daya tarik siswa? Inilah menjadi tantangan guru dalam medesain teknik maupun strategi pembelajaran yang digunakan.
Saya telah melakukan semampunya. Belum tentu ini yang terbaik. Tidak pula menjadi solusi yang ampuh. Namun inilah sebagian kisah mereka. Menggambarkan alur yang dipilih. Hingga mereka mampu belajar dari keadaannya sendiri.


Banyak kendala yang perlu pertimbangan, namun ini sebuah proses. Kadang berbentur aturan sekolah maupun keinginan orang tua. Saya hanya berucap “masukannya diterima dengan senang hati.” Hal itu merupakan proses belajar,  memahami mereka walaupun mata dan hati kadang menantang kata ucapan.
Fasilitas yang minim membuat potensi siswa harus dieksploitasi maksimal. Melibatkan keluarga dalam sebuah proyek merupakan salah satunya. Meminimalisir pengaruh kehidupan perkotaan yang semakin sibuk. Ikut menggaungkan kembali kehidupan pendidikan keluarga, melalui tema kebersamaan dengan orang terdekat.


Bukan hanya berbicara sarana, persoalan waktu di sekolah juga menjadi pertimbangan. Mengajarkan sebuah teks prosedural keterampilan memerlukan jam belajar yang banyak. Gerakan literasi sains dan geliat komunikasi komunitas menjadi pilihan. Arahan dan Tanya jawab dituntaskan dalam waktu berbeda.
Berkompetisi menjadi cara lain dalam belajar. Berpacu dengan waktu dan nilai adalah hal biasa. Mengajak mereka berwira usaha kecil-kecilan menjadi warna lain dalam belajar. Butuh desain promosi yang menarik untuk bisa menjual produk di dunia maya. Semua harus terkontrol, oleh karena itu ada beberapa kesepakatan dalam menjalankan bisnis. 
Mangajak kawan, keluarga maupun tetangga merupakan cara mereka bekerjasama. Apalagi jika produk dikerjakan berkelompok. Mencari untung bukan hal yang penting. Keceriaan dan kemampuan berkomunikasi serta kerjasama menjadi tujuan utama. Akhirnya semua bermuara pada kebanggaan pada diri sendiri.


Taraf mencipta dalam belajar merupakan tingkatan tertinggi. Bukti yang realistis adalah sebuah buah tangan. Produk yang baik harus kualitasnya bagus. Oleh karena itu ketelitian dan kreativitas menjadi hal yang terpenting. Semuanya memiliki kebebasan yang bersyarat. Hal ini untuk menjaga kompetensi yang harus dicapai. Setiap kriya harus melalui pengamatan proses, produk dan presentase. Tidak semua dilakukan di dalam kelas. Boleh siang maupun malam. Inilah kecanggihan teknologi saat ini.


Beberapa kisah mereka terurai dalam tulisan ini. Saya menghargai semua yang dirangkai dalam kalimat bermakna ini. Saya pun paham ini belum tentu sempurna. Tetapi inilah yang terbaik dari yang pernah ada. Itulah mengapa harus saya hargai untuk menjadi catatan sejarah mereka. Tulisan ini adalah bukti kerja dari sebuah usaha. Tidak semua siswa ingin dan mampu dalam berbuat hal yang sama. Saya pun berani berkata “Kalian adalah siswa luar biasa.” 


Menuntun mereka untuk mau menulis, bukanlah perkara mudah. Saya mengakui masih sedikit dangkal dalam berbahasa yang baik maupun benar. Namun sebutir kelebihan akan menjadi buih keberhasilan, jika dibagi dan diajarkan. Berawal dari kisah belajar, menjalani sebuah proses hingga ungkapan perasaan mereka. Semuanya menyatu dalam lembar testimony sederhana ini. Cerita ini menyangkut tantangan dari sebuah perjuangan menuju jalan keberhasilan. 
Kesempatan memang harus dimanfaatkan. Dikala bersua dengan orang tua mereka, saya pun bertutur dengan singkat untuk beberapa hal. Bercerita tentang apa yang pernah dan akan kami lakukan. Semuanya bertujuan untuk kebaikan bersama.

Dikutip dari
Pengantar cerita dalam buku antologi
Prakarya di Bumi Rindang, halaman 1-3, 2019
Penulis : Komunitas Menulis Seventeen
==================


Setelah kita membaca tulisan di atas, beliau melemparkan tulisan lainnya. Inilah kisah singkat dalam "Merajut Media Bekal Terasi dalam Lomba Inobel Guru Tahun 2018"

MERAJUT BEKAL TERASI  PRAKARYA  DALAM LOMBA INOBEL GURU

Mengajar di zaman new memang penuh tantangan yang berat. Apalagi guru seperti saya? Terlahir di era tujuh puluhan yang jarang mendengar bunyi pesawat. Mesin ketik yang sangat mutahir saat itu, kini hampir tidak berguna lagi. Telepon kabel, surat kabar dan radio mengalami nasib yang sama. Kini banyak manusia bekerja pada jaringan dalam genggaman. Sungguh saya telah berada di dunia yang berbeda.
Kecanggihan teknologi seiring dengan perkembangan pembelajaran. Issu sentral yang sering menggema adalah teknologi informasi, kearifan lokal, litereasi dan pendidikan keluarga. Semua kegiatannya erat kaitannya kodrat hidup manusia, sebab bergantung pada kebutuhan dan keadaan.

Saya memilih istilah “mahluk sosial” untuk mengungkapnya. Saya berpikir, hubungan antar manusia harus terus terjalin. Budaya pun jangan sampai tersingkirkan. Inilah tantangan saya dalam pembelajaran di sekolah.

Awalnya, cara berpikirnya sangat sederhana dan biasa saja. Tujuannya hanya ingin mengajarkan prakarya dengan cara yang berbeda. Mencoba menggunakan lingkungan di luar kelas sambil melibatkan kehidupan sosial para siswa. Namun hal itu, bukan tanpa masalah.

Beberapa kendala internal menjadi pertimbangan untuk menjawab tantangan itu. Tidak tersedianya ruang keterampilan, alat dan bahan praktik yang minim serta tuntutan kekinian pembelajaran merupakan tiga masalah yang mendasar. Kondisi itu sangat nyata di sekolah. Saya pun harus bekerja ekstra untuk menutupi kekurangan itu.

Saya hanya mengungkapkan sepintas sebuah keinginan. Bagaimana   mencari cara yang tepat? Menggabungkan pemanfaatan kearifan lokal dan teknologi informasi akhirnya menjadi solusi yang dipilih. Semua dikemas melalui media BEKAL TERASI. Dua kata itu merupakan akronim dari berkearifan lokal dan teknologi informasi. Penerapannya melibatkan kegiatan literasi dan keluarga. Strategi itulah yang mengantarkan rahmat Illahi ke panggung lomba inovasi pembelajaran bagi guru SMP tingkat nasional tahun 2018. Usaha yang saya anggap sederhana ini membawa berkah yang tidak terduga. Allah SWT menetapkan saya sebagai juara pertama melalui penilaian dewan juri.

Bagaimana merajut pemanfaatan teknologi, kearifan lokal, literasi dan keluarga dalam pembelajaran? Pertanyaan ini bisa terurai menjadi beberapa rumusan masalah. Apa jenis teknologi informasi yang dimanfaatkan? Bagaimana memasukan kearifan lokal dalam pembelajaran? Mengapa literasi menjadi langkah penting menilai keterampilan? Mengapa keluarga harus terlibat dalam kegiatan siswa?
Saya mengarahkan penelitian pada aspek keterampilan siswa. Walaupun dalam pembelajaran, aspek pengetahuan tetap dilakukan penilaian. Fokus pengamatannya pada kegiatan unjuk kerja, produk dan proyek. Memulainya dari rumah sendiri.
Kerajinan khas, motif daerah, perabot hias berenergi listrik hingga olahan makanan menjadi bahan untuk menggali permasalahan dalam balajar. Satu jenis produk yang dibawa siswa, ruang kelas pun bisa menjadi pajangan display produk yang meriah. Mungkin saja ini biasa, namun ada hal tidak biasa saat pembelajaran berlangsung.

Sarapan pagi bersama digagas saat memasuki aspek pengolahan. Makanannya bertajuk “menu cinta di keluarga.” Setiap olahan merupakan kerja siswa dan orang tuanya. Banyak kisah yang terungkap dari testimoni saat bersama anaknya. Ini catatan penting bagi pembelajaran berikutnya. Bukan hanya produknya, tetapi ulasan singkat para ibu maupun bapak menjadi lembaran berharga. Fokus permasalahan pembelajaran akan menjadi mudah.

Minimnya waktu pembelajaran di kelas menjadi penyebab utama memanfaatkan teknologi. Ada komunitas kelas dalam WhatsAap. Ini bimbingan di luar kelas melalui diskusi virtual. Penggunaan handphone bagi siswa tidak bisa terelakkan. Saya hanya membantu untuk memanfaatkannya secara bijak. Hal itu berdasarkan hasil survei awal pembelajaran. Berbagai sumber belajar bisa di peroleh dari genggaman. Sebahagian bisa dilakukan melalui belajar mandiri.

Tidak hanya sebatas literasi digital. Ponsel dapat pula digunakan untuk membuat rancangan desain produk maupun promosi. Teknik dasar edit gambar serta disain pemasaran bisa dilakukan melalui program Picart. Memanfaatkan media sosial dalam berwirausaha juga dilakukan. Ini kegiatan terbimbing, jadi semua ada aturan yang disepakati. Jejaring sosial ini mengundang guru, orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar siswa untuk berperan serta. Mereka dapat bertindak sebagai pengawas di dunia maya. Grup ini bernama Prase Suhardin Shop.

Mengetik laporan singkat maupun menjawab pertanyaan angket bisa dilakukan melalui handphone. Inilah cara yang diajarkan untuk melakukan hal praktis namun tetap efektif. Beberapa program bawaan windows maupun internet harus dipelajari. Untuk diketahui, kegiatan ini diterapkan pada siswa kelas IX.
Terdapat proyek wirausaha internal. Kegiatan penjulan produk dalam lingkungan sekolah dilakukan. “Buka lapak” istilahnya. Sebagian pemesanan melalui kegiatan on line. Hal kecil ini telah menuntun siswa untuk belajar menata laporan keuangan. Mereka dapat mempelajari excel dalam menghitung laba ataupun rugi. Berdagang berarti mengejar untung. Mereka harus berkompetisi secara sehat. Beberapa produk memiliki keunikan. Ada yang berkesempatan untuk mengikuti pameran besar.

Banyak kolaborasi yang terjadi. Bukan hanya antar manusia, tetapi juga berkaitan dengan alam. Tidak sebatas kerajinan bermotif lokal dan miniatur rumah adat berinstalasi listrik. Beberapa makanan khas daerah mulai dikenalkan kembali. Ayam tawoloho dan perende dibuat sendiri oleh siswa. Ada yang telah mengaploudnya melalui youtube.

Setiap orang memiliki kisah. Inilah yang dirajut dalam komunitas menulis siswa. Walaupun setiap angkatan memiliki istilah sendiri, namun saya menyebutnya Komunits Menulis Seventeen. Sebenarnya nama itu muncul semenjak buletin sekolah digagas. Media itu mengambil nama maupun pembina kegiatan yang sama. Pembimbingannya sarat dengan pemanfaatan teknologi.
Kini telah melewati tiga generasi. Lima buah buku antologi telah diterbitkan. Cara menulis siswa semakin berubah. 
Maklumlah, saya bukan guru Bahasa Indonesia. Kadang kala harus bertanya keorang berlimu, baru bisa menjawab pertanyaan mereka. Saya menempuh cara itu sambil belajar menulis.

Bukunya menjadi dagangan. Tidak sedikit uang yang dihasilkan. Banyak yang bisa dilakukan. Mereka dapat membiayai praktek selanjutnya dari keuntungan penjualan. Baju kaos untuk kelas pun menjadi lebih ringan untuk dibeli.
Warga kota memiliki kesibukan yang tinggi. Itulah mengapa keluarga diajak dalam pembelajaran. Berpartisipasi dalam kebersamaan. Menjadi pengawas serta penilai. Walapun caranya harus melalui anaknya sendiri. Saya hanya menyiapkan lembar observasinya. Tanggapan negative memang ada, namun sikap positifnya jauh lebih banyak. Pada akhirnya semunya bisa memakluminya. “Belajar itu harus sesuai jamannya,” itulah kesimpulannya.
Inilah cara yang saya tempuh dalam mengejar berkah. Walaupun kadang tersandung jaman. Tetapi belajar bukan hanya pada yang lebih dewasa. Saya tetap membuka diri, karena masa kini merupakan dunia mereka. saya hanya berlari kecil agar tidak jauh tertinggal. Berupaya agar pesan panca indra bisa tersampaikan. Menjaga agar kompas dan peta dapat berfungsi.

Saya hanya berusaha menjadi pengamat setia, selebihnya mereka yang menjalankannya. Walaupun menurut orang, itu kecil dan sederhana. Saya hanya ingin menuntun mereka, kearah jalan yang bercahaya.
Kendari, 26 Februari 2020
Suhardin (Guru SMPN 17 Kendari) – Sulawesi Tenggara

==============================

Video yang merupakan ringkasan jalan membuat media hingga mengikuti lomba Inobel Guru Tahun 2018 dapat kita saksikan di link berikut.

Bagaimana Merajut Media Bekal Terasi Prakarya itu? Mekanisme penelitian dalam peta konsepnya seperti ini.






produk buku antologi siswa yang telah diterbitkan dalam pemanfaatan media ini sebanyak 5 buah untuk tiga tahun terakhir.



Beliau memberi pamlet singkat tentang media bekal terasi itu.



Berikut video buatan siswa tentang pengolahan daging berkearifan lokal "Ayam Tawauloho"

Masih banyak yang tersirat sebenarnya, tetapi ia mengakui keterbatasannya.
Hal yang membuatnya tertarik membuat media adalah karena media ini lahir dari keterbatasan yang ada dan menjawab tantangan pembelajaran yang makin berkembang. Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang biasa, tetapi ada beberapa aspek yang menjawab permasalahan yang ada, di antarannya pemanfaatan ponsel secara bijak, menutupi kekurangan sekolah, merajut hubungan keluarga, melatih diri siswa untuk mau menulis dari hal yang dialaminya, merangsang cara berpikir kritis serta adanya sebuah wirausaha kecil-kecilan. Kata kuncinya, adanya keinginan untuk membuat mereka menyukai suasana pembelajaran.

Adapun video wirausaha internalnya bisa kita intip di link berikut.
https://youtu.be/2lw1AeTmdxE

Cara membuat anak senang dengan media buatannya adalah mengerjakan hal yang mereka senangi karena itu memang menarik. Anak sekarang dengan ponsel pintarnya bagai saudara saja. Berbagai fitur dapat mereka gunakan. mulai dari belajar mandiri, diskusi virtual, mencari produk yang sesuai dengan pikirannya, membuat desain, menjalankan bisnis kecil hingga melakukan penjualan. kisah mereka juga dapat dimuat menjadi buku. mereka sangat senang bisa menulis bersama, melalui komunitas kelas. semua diketahui melalui angket yang dibagi setiap usai aspek yang diajarkan.

Adapun rahasia beliau bisa meraih  juara pertama lomba inobel yaitu dengan mengikuti aturan mainnya. Setiap lomba memiliki tata cara tersendiri yang harus dipenuhi. Persiapan maksimal dalam kegiatan display dan presentasi, tetapi semua itu karena kodrat dan rezeki dari-Nya.

Kesulitan yang dialami Pak Suhardin selama membuat laporan penelitian
adalah waktu katena mengajar adalah tugas utama.  Beliau teringat waktu membuat penelitian ini masih mengajar dua hingga tiga sekolah. Untuk mencari literatur juga cukup menguras energi karena mencari buku referensi yang sesuai di daerah cukup rumit. Ketentuan mencantumkan buku terbitan 5 tahun terakhir untuk daftar pustaka memang memberatkan.


Tentu perasaan senang dan bersyukur beliau rasakan ketika hasil penelitian inobelnya masuk tingkat nasional dan membawanya terbang ke Jakarta. Lolos sebagai finalis saja sudah cukup membuatnya sangat terharu, apalagi masuk dalam 34 orang dari ratusan yang ikut lomba menjadi sebuah anugerah terindah.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara mengawinkan pembelajaran dengan media sosial, sementara fasilitas handphone terbatas (jumlahnya). Dari hasil survei awal memang ada anak yang tidak memilikinya. Namun, kedua orang tuanya punya. Jadi, ada beberapa anak yang menggunakan nomor orang tua dalam kegiatan pembelajaran, tetapi saat kegiatan di kelas selalu dalam kelompok kerja. Ini juga sangat berguna agar kegiatan anak di media sosial bisa terawasi. Dalam pemanfaatan Prase Suhardin Shop dan Expamnes ada keterlibatan orang tua. Untuk mendapatkan nomor handphone orang tua dilakukan melalui paguyuban kelas.

Menurutnya, cara menajamkan intuisi untuk menemukan sesuatu hal yang bernilai kebaruan sebagai solusi dari permasalahan yaitu mengikuti perkembangan jaman, manfaatkan kearifan lokal yang sifatnya khas, mengatur alur pembelajaran yang berbeda dari guru lain, bertanya apa keinginan anak didik, sering menyatu dengan mereka, jangan paksakan pikiran sendiri, bertanya pada pakar tentang hal yang akan dilakukan, kerjasama dengan teman sejawat serta sering gunakan angket untuk mengetahui segala tindakan yang diambil. Begitu muncul ide, cepat tulis walaupun hanya sepenggal kalimat, saat luang pikir untuk melakukannya, sering buat catatan kecil karena ide tidak muncul terus menerus.

Senin, 24 Februari 2020

OM JAY: MENULIS ONLINE SEBAGAI BENTUK EKSISTENSI DIRI



Kemarin Ikatan guru TIK patut bergembira karena dapat bekerjasama dengan kawan kawan pengurus PGRI dan rektor di Nusa Tenggara Timur dalam pelatihan e-learning. PGRI baru saja menandatangi MOU dengan Pak David rektor di NTT di sela-sela acara konkernas PGRI.


Ini MOU yang telah ditandatangani bersama.




Ikatan guru TIK PGRI juga akan roadshow ke 12 kota berikutnya setelah sukses di 55 kota lainnya bersama Epson Indonesia. PGRI bisa bertahan sampai ke 55 kota dan akan roadshow ke 12 kota karena menulis online ternyata telah membawa guru-guru berkeliling Indonesia.


Ide ini diawali oleh Pak Onno Widodo Purbo. Pakar e-learning Indonesia. Beliaulah yang membangun server e-learning dan salah satu pembina di ikatan guru TIK PGRI. Beliau banyak memberi masukan dalam mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran kembali. Saat itu posisi mendikbud masih dijabat oleh Pak Muhajir Effendy.

Perjuangan demi perjuangan telah lakukan agar TIK kembali sebagai mata pelajaran dan tidak diganti dengan prakarya. Ikatan guru TIK yang berjuang lewat tulisan online bersama PGRI menemui mendikbud Muhadjir Effendy pada saat itu.

Menulis online itu ternyata dahsyat sekali. Tulisan Om Jay banyak dibaca orang lain. Termasuk juga pejabat di kemdikbud. Selama ini Om Jay mengajak rekan-rekan guru berlatih menulis online, baik melalui WA group atau media sosial lainnya sehingga guru-guru dapat menjadi konten kreator dan mampu menciptakan informasi baru lewat internet. Paradigma guru sudah harus berubah dari yang hanya sekadar unduh menjadi unggah.

Menurut Om Jay, belajar menulis bisa kita lakukan setiap hari dan setiap saat. Kita dapat memulainya dari apa yg kita sukai dan kuasai. Perjuangan kita lakukan tidak hanya melalui menulis online tapi juga bertemu langsung dengan mendikbud Anies Baswedan saat itu. Perwakilan guru TIK PGRI diterima secara resmi di kantornya setelah mereka melakukan demonstrasi di media sosial.

Dahsyatnya kekuatan kata-kata dalam poster yang dibuat oleh Pak Namin telah berhasil menggerakkan lebih dari 14 ribu guru ke Jakarta. Padahal hanya 7 orang guru TIK yang siap menghadap mendikbud. Lebih dari tiga juta guru, tetapi yang bersuara lantang hanya sedikit. Oleh karena itu, Om Jay dan rekan-rekan guru memcari akal untuk bertemu mendikbud. Menulis online di media sosial menjadi salah satu cara kami dalam menyampaikan pesan perjuangan.

Tidak sekadar bimbingan, Pak Onno juga banyak memberikan inspirasi kepada guru TIK. Kemudian, bantuan dan dukungan mengalir dari berbagai kalangan. Menulis online menjadi alat perjuangan mereka. Sampai suatu ketika Om Jay diundang makan siang bersama Presiden Jokowi di istana negara. Hal itu terjadi berkat Om Jay dan teman-teman blogger yang menulis di kompasiana.com.

Menurut Om Jay, dengan menulis online  dapat menunjukkan eksistensi diri dan kita pasti akan terkejut setelah tahu tulisan kita dibaca banyak orang. Terlebih lagi jika kita menuliskannya di blog karena blog adalah alat rekam ajaib yang keajaibannya akan kita rasakan seiring lamanya kita mengelola blog pribadi di internet.

Keuntungan menulis di blog pribadi, kita bebas mengelolanya karena kita sebagai adminnya. Satu lagi, blog tersebut gratis di internet. Kita bisa mencari tahu di google.com dan youtube.com mengenai cara membuat blog gratis di internet, seperti di blogger.com dan di wordpress.com. Caranya sangat mudah kalau kita mau membaca panduannya dan belajar secara mandiri.

Perbedaannya adalah yang satu gratis, sedangkan yang satunya berbayar sekitar Rp300.000 untuk domain dan hostingnya per tahun. Namun, Omjay menyarankan sebaiknya pakai yang gratisan saja dulu. Kalau sudah mahir mengelola blog barulah kita pindah ke blog berbayar untuk menunjukkan eksistensi diri di dunia maya.
Blog Om Jay yang masih ada sampai saat ini ada di wijayalabs.com dan wijayalabs.blogspot.com. Bahkan, Om Jay sudah mulai mengembangkannya lagi di blog http://wijayalabs.com. Tentu itu dilakukan setelah Om Jay paham tentang blog dan hosting. Tahun ini beliau mulai mengembangkan lagi dua blog gratis baru yang isinya tulisan rekan-rekan di wa group yaitu omjaylabs.wordpress.com.

Menulis online itu banyak manfaatnya. Satu di antaranya adalah banyak orang yang akhirnya mengenal kita setelah mereka membaca tulisan kita di internet. Kita bisa menulis di media sosial, seperti di facebook, twitter, instagram, blog, dll. Om Jay sendiri lebih banyak menulis di blog. Oleh karena itu, orang banyak mengenalnya sebagai blogger daripada sebagai guru TIK.

Hidup adalah sebuah anugerah, kita tidak akan pernah mengetahui betapa berharganya apa yang sudah kita miliki, *sampai kita kehilangannya.* Begitu juga dengan sebaliknya, kita tidak akan pernah mengetahui apa saja yang hilang dalam hidup, *jika sesuatu itu tidak pernah datang.* Maka dari itu, *syukurilah apa yang ada sebelum semuanya menghilang.*

Kesimpulan materi hari ini adalah menulis online sangat membantu kita untuk lebih eksis dalam menulis dan langsung dibaca banyak orang bila tulosan kita informatif dan menarik. Blog bisa dijadikan sebagai salah satu media untuk merekam atau mendokumentasikan tulisan kita.

Apa yang dilakukan Om Jay menginspirasi saya sebagai blogger. Semoga apa yang saya tulis di blog ini menjadi jalan kebaikan bagi pembaca untuk menemukan hikmah serta manfaat di dalamnya. Jika saya belajar ikhlas menulis tanpa mengharapkan imbalan, ingin terkenal atau ingin menambah follower, dan karenanya pembaca terinspirasi, saya yakin Allah akan memudahkan segalanya untuk saya. Aamiin.