Rabu, 05 Februari 2020

KE LUAR NEGERI BERKAT TULISAN



Foto: Fathur.web


Hari ke-20, 4 Februari 2020
Workshop Menulis Bersama Om Jay
Narasumber: Fathur Rachim
Disadur oleh: Rosiana Febriyanti
=======================
Semalam, narasumber diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman belajar di luar negeri. Beliau memulai dengan pengalaman berkunjung ke USA seorang diri untuk mengikuti kegiatan Intel Visionaries Ambasador. Semula ia berpikir penyebab terpilihnya beliau oleh Intel adalah karena jago TIK. Ternyata tidak, Saudara-saudara! Itu karena mereka mengenal beliau melalui tulisan-tulisan beliau yang tersebar di internet. Akan tetapi, karena banyak sekali penyedia jasa hosting, baik free maupun berbayar yang gulung tikar sehingga tulisan-tulisan beliau hilang. Kini, beliau menggunakan blogspot dengan mirror domain pribadi untuk mengantisipasi hal tersebut.

Beliau masih mempercayakan blogspot di bawah naungan Google yang masih cukup lama bertahannya, untuk menyimpan tulisan-tulisannya. Hm, nice info, saya pun begitu, Pak Fathur. Hehehe...

Mengenai tulisan apa yang membuat Intel melirik beliau juga beliau kurang paham karena begitu banyak tulisan dan kegiatan melatih yang beliau tuliskan dan dokumentasikan  saat itu. Beliau kemudian mulai menulis lagi pada tahun 2017-an. Mungkin kunci kesuksesan beliau dikarenakan menulis, melatih, dan terus berbagi seperti yang dilakukan Omjay.


Beliau mengaku, sudah dua kali ke USA dengan bahasa Inggris pas-pasan sampai hampir gagal mendapatkan visa. Beliau sempat ditanya irang asing yang mewawancarainya, "Bahasa Inggris Anda tidak bagus, bagaimana bisa berkegiatan di USA?" Kira-kira apa jawaban beliau, ya?
Kita akan terlihat dari seberapa besar "Kemampuan untuk menjual diri", tentu dengan hal yang positif. Beliau memberikan analogi seperti ini. Jika Anda dapat menjawab pertanyaan ini, "Mengapa perusahaan sebesar Go-jek, Traveloka, rokok Jarum atau sejenisnya masih harus terus beriklan?"

Beliau melanjutkan keteranganya, tentu dalam mempromosikan diri ada batasan-batasannya juga. Mungkin kesan pertama seperti riya' memuat tulisan-tulisan apa yang pernah kita lakukan, tetapi percayalah di sisi lain juga akan membuat banyak pembaca yang terinspirasi. Mulailah dengan menuangkan ide-ide Anda tentang sesuatu yang paling Anda kuasai dan dekat dengannya. Hm...nice advice, Pak.

Memang ada saja yang menganggap riya' kepada kita, padahal kita sedang membangun personal atau mem-branding diri kita dengan tulisan.
Bagaimana orang seperti beliau yang berada di tengah belantara Pulau Kalimantan bisa ikut mewarnai dunia pendidikan? Ya, hal yang bisa dilakukan adalah dari tulisan-tulisan kita salah satunya.

Beliau pernah bertatap muka dengan salah seorang manajer perusahaan besar di Indonesia, dia mengatakan, ketika Anda berhenti "menjual" atau mengiklankan perusahaan Anda maka di titik itulah keruntuhan perusahaan Anda.

Berikan inspirasi kepada orang lain dengan tulisan-tulisan Anda, sampai satu titik Anda akan merasakan manfaatnya berbalik kepada Anda sendiri. "Daya Jual" yang tinggi misalnya untuk menarik minat orang untuk membaca maka Anda bisa memanfaatkan statistik di blog Anda. Berdasarkan pengalaman beliau, tulisan-tulisan berbau politik dan kebijakan, tulisan yang mengkritisi pengambil kebijakan, tulisan yang berhubungan dengan kebijakan terbaru akan cenderung meningkatkan "nilai" Anda, baik viewernya (dolarnya) maupun impact (dampak) dari tulisan tersebut.

Dengan pengalaman beliau berkunjung dan belajar ke beberapa negara seperti USA, Korea dan India, beliau bisa menulis dan menginspirasi orang banyak. Untuk memenuhi tuntutan siswa abad 21 kegiatan menulis harus dibiasakan dan diintegrasikan di dalam kelas melalui "tools" yang bernama mata pelajaran.
Beliau juga tidak tahu tulisan yang mana dan di mana, karena tulisan beliau terserak di multiply, geocities, pendidikan-kaltim.org, wordpress, friendster (waktu belum gulung tikar), Facebook, dll. Waktu itu beliau tidak sadar dengan mengupload berbagai kegiatan beliau dan ide-ide dalam bentuk tulisan, beliau telah "menjual" diri ke "publik".

Mungkin keterlibatan beliau dalam pelatihan guru di berbagai tempat yang dituangkan dalam bentuk tulisan mengenai Indonesia Digital Learning sejak tahun 2012 juga menginspirasi pembaca. Saya pikir, tulisan Pak Fathur sangat menarik sehingga banyak yang berkunjung ke blognya. Maka otomatis akan memengaruhi statistik dan akan sering muncul di mesin pencarian Google. Beliau menambahkan, berkunjung ke luar negeri ini merupakan pengalaman paling berharga baginya, di sinilah titik beliau mulai berpikir untuk mengubah cara mengajar karena tuntutannya sudah berbeda.

Lanjutnya, ketika kegiatan "menulis" sudah menjadi karakter, dengan sendirinya hal itu akan membudaya. PR-nya sekarang, bagaimana siswa-siswa juga ikut tertular virus "menulis" ini.

Menurut beliau, menulis itu ada dua macam, menulis dengan menggunakan media dan menulis langsung di pikiran pendengar seperti kegiatan menulis yang kita lakukan sekarang, tetapi medianya adalah pikiran orang. Tentu tidak harus berbentuk tulisan, tetapi dapat berbentuk audio, yang mungkin bisa kita sebut "Public Speaking".

Saat guru berada di depan kelas, bercerita dan memberikan inspirasi secara lisan, itupun bagi beliau pribadi adalah sebuah bentuk tulisan yang jika disampaikan dengan cara-cara tepat akan "menghunjam" di benak dan pikiran siswa-siswi kita.

Kembali ke masalah standar ini, jika siswa dituntut seperti ini, bagaimana dengan gurunya? Dalam standar ini siswa dituntut menjadi seorang "Global Collaborator". Nah, bagaimana mungkin seorang siswa bisa menjadi seorang Global Collaborator jika gurunya tidak pernah melakukan kolaborasi?


Pengalaman berharga selanjutnya adalah mengenai budaya disiplin yang tinggi yang mereka miliki ternyata ditempa dari kecil dan juga ditempa oleh kondisi geografis (alam). Negara-negara seperti USA, Korea, Jepang dan sebagian India adalah negara dengan 4 musim. Kondisi alam yang mereka hadapi membuat mereka semakin tangguh. Karena untuk bisa menumbuhkan padi saja suatu hal yang sulit, tidak semudah Indonesia yang tongkat dan kayu jika dilempar bisa jadi tanaman.
Ketika beliau berkesempatan berkunjung ke Singapura di Markas Google APAC, beliau sempat bertanya kepada salah seorang manajernya, "Bagaimana Anda bisa bergabung di Google? Apakah Anda alumni Harvard dengan IPK Suma Cumloude?"

Lalu apa jawabannya? Ternyata sudah sejak 2013, Google menerapkan kebijakan dalam rekrutmen karyawan dan hal ini juga diikuti banyak perusahaan besar di dunia. Apa kebijakan itu? Mereka mencari orang yang memiliki kompetensi, public speaking-nya bagus, CT-nya bagus dan mampu bekerja baik dalam tim, maupun bekerja secara individual.


Ternyata ijazah sudah tidak menjadi persyaratan utama apalagi IPK. Kemampuan bekerja sebagai tim inilah yang dimaksud sebagai kolaborasi. Dan kolaborasi ini harus "dibiasakan" agar menjadi karakter dan budaya pada diri siswa.

Jika mengacu pada ISTE student standard maka kolaborasi yang dimaksud adalah kolaborasi global antarnegara karena hampir sudah tidak ada sekat antarnegara. Salah satu modalnya adalah literasi dan public speaking yang bagus.

Lalu, penanaman kolaborsi dalam skala kecil, misal di kelas, aplikasinya yang paling sederhana adalah diskusi kelompok dengan meberikan peran terhadap masing-masing siswa, serta model-model pembelajaran lainnya.

Dari beberapa negara yang pernah dikunjunginya yang lebih berkesan adalah Negeri Paman SAM (USA) karena berkunjung "sendiri", sesangkan ke beberapa negara lainnya ada teman bareng untuk diskusi, bertanya, dsb. Di Amerika beliau mengaku harus "PEDE", "BERANI", "NEKAT" karena jika tidak seperti itu maka tidak bisa makan dan mudah tersesat di jalan.

Pesan terakhir beliau adalah, "Juallah" diri Anda sepantasnya melalui tulisan-tulisan Anda (tercetak/lisan), melalui kegiatan-kegiatan berbagi Anda karena "Anda belum/dan tidak akan pernah menjadi orang 'besar' sebelum Anda menjadi guru. Cara terbaik belajar adalah dengan mengajarkannya, baik lewat tulisan, perbuatan, maupun lisan Anda.
Semoga menginspirasi.

=============
Karena begitu inspiratif, saya penasaran dengan beliau, saya pun mencari tulisan beliau menggunakan mesin pencarian di Google. Lalu saya menemukan cerita beliau versi lengkapnya, bisa diintip di http://www.fathur.web.id/2015/10/intel-visionaries-educator-2015-in-usa.html?m=1

KONSEP MERDEKA BELAJAR


Hari ke-19 , 3 Februari 2020
Workshop Menulis Bersama Om Jay
Narasumber : Indra Charismiadji
Disadur oleh : Rosiana Febriyanti
================================

Narasumber kali ini adalah Bapak Indra Charismiadji, direktur eksekutif CERDAS (Center for Education Regulation and Development Analisys), direktur pendidikan VOX Populi Institude Indonesia.

Menurutnya, begitu banyak problem yang dimiliki oleh dunia pendidikan Indonesia, tetapi sayangnya tidak banyak orang yang bersuara bahkan banyak yang tidak punya kepedulian terhadap dunia pendidikan. Hal itulah yang mendorong diri beliau untuk banyak bicara tentang pendidikan. Beberapa kali beliau berdiskusi dengan Mas Mentri mengenai dunia pendidikan Indonesia yang tidak bisa membedakan material learning dengan illusion of learning. Materi pembelajaran sesungguhnya dengan ilusi pembelajaran. Itulah sebabnya beliau semakin keras berbicara tentang bagaimana perbaikan-perbaikan dunia pendidikan.

Sebagai mana kita ketahui bersama, sebagai pendidik presiden kita, Bapak Joko Widodo sudah menentukan target yang cukup berat, yaitu tahun 2045 guru ditargetkan untuk menempati posisi kelima di kekuatan ekonomi dunia. Untuk mencapai hal itu banyak hal yang harus guru lakukan, salah satunya adalah pembenahan SDM. Hal ini pula yang menjadi penyebab menteri pendidikan mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajarnya.

Kemudian beliau bertanya kepada peserta workshop. Apa yang dimaksud dengan merdeka? Mengapa target di tahun 2045 pun berhubungan dengan 100 tahun kemerdekaan Indonesia, mengapa merdeka itu sangat penting. Tahukah kita arti dari kemerdekaan selalu berbicara tentang guru penggerak?


Memang tidak semua guru dapat menjadi yang guru penggerak. Memurut Everett Rogers itu disebut inovator atau early adopters. Mereka yang menjadi inovator dan juga sebagai pengadopsi. Awalnya inovator itu berjumlah sekitar dua setengah persen dari total populasi. Jadi, dua setengah persen dari guru-guru Indonesia. Misalnya, Gurun Sahara 3 juta, 20% nya early adopters sekitar 13 setengah persen. Jadi, kalau ada 3 juta guru Indonesia, ada sekitar 400.000 guru yang disebut dengan early adopter atau pengadopsi awal yang mereka mereka bisa menjadi penggerak termasuk menggerakkan.



Dari semua definisi tentang kemerdekaan atau Freedom yang paling tepat menurut beliau adalah penjabaran dari Walter, seorang Novelis dari Amerika Serikat yang mengatakan Freedom Is State of Mind kemerdekaan adalah sebuah kondisi, pikiran, dan badan. Kita tidak akan pernah mampu memahami arti kemerdekaan secara mutlak tetapi pikiran kita dapat memahami kalau kemerdekaan itu berhubungan dengan kondisi pikiran, berarti ini sangat berhubungan dengan tingkat nalar manusia. Kalau tingkat penalaran manusia yang kita bahas ini tidak akan lepas dari satu hal yang akhir-akhir ini sering menjadi pokok bahasan para guru di Indonesia yaitu revisi dari Taksonomi Bloom.



Tingkatan C1 adalah tingkat berpikir atau nalar mengingat atau menghafal. Kalau kita bandingkan sekarang dengan pola anak-anak kita belajar yang modelnya SKS (sistem kebut semalam) yang hanya menyiapkan diri menghadapi ujian atau tes atau ulangan keesokan harinya, hal itulah yang membuat tingkat pendidikan kita salah satu yang terendah di dunia dengan nalarnya tidak dipakai, hanya dipakai untuk mengingat dan mengingat mengingat jawaban untuk menjawab tes. Setelah tes selesai semuanya akan dilupakan tidak ada manfaatnya.

Tingkatan C2 itu memahami. Segala sesuatu yang kita hafalkan dan kita ingat nanti kita lakukan berulang-ulang akhirnya akan terekam di otak kita dari short term memory akan masuk ke long term memory. Di sinilah terjadi yang disebut dengan paham. Jadi, sesuatu yang kita ulang-ulang terus menyebabkan kita akan paham. Contohnya begini, kalau Anda memberikan sebuah soal kepada peserta didik Anda, soalnya begini:
Di mana kalian membuang sampah?
A. laut
B Sungai
C pinggir jalan
D tempat sampah
Apa kira-kira jawaban dari siswa-siswi Anda terhadap soal tersebut?

Dimanakah kamu membuang sampah? Dan jawabannya di tong sampah, artinya dengan model soal seperti itu nilainya 100.

Apakah dalam kehidupan sehari-hari mereka memang mampu membuang sampah di tempat sampah atau mereka hanya tahu jawaban dalam bentuk teori saja? Teorinya membuang sampah di tempat sampah, tetapi praktiknya dalam kehidupan sehari-hari mereka membuang sampah sembarangan. Di sini kita bisa tahu bedanya Nalar C1, C2 C3, C4 itu cuma dihafalkan saja. Tingkat C2 tahu teorinya saja dan bisa menjawab soal, tetapi praktiknya tidak ada, sedangkan C3 sudah aplikasinya, mereka sudah bisa melakukan apa yang mereka pelajari. Jadi itulah sebabnya level C1 itu level Nalar yang paling rendah dan C2 lebih sedikit di atasnya, C3 lebih lagi di atas C2.




Tingkat nalar manusia itu akan berhubungan dengan bagaimana kita memberikan pembelajaran di dalam kelas. Ini yang dikatakan Mas Menteri sebagai pembelajaran ilusi pembelajaran atau illusion of learning. Kelihatannya seperti belajar, tetapi sebenarnya itu hanya ilusi yang harus kita perbaiki dengan konsep Merdeka belajar.

Pada tingkat C3 artinya anak sudah bisa melakukan. Manusia bisa melakukan apa yang mereka pelajari bukan hanya sekedar teori saja. Akan tetapi, mengapa C3 ini masih ditempatkan sebagai tingkat nalar yang rendah atau lower order thinking skill? Apakah anak SD tidak boleh di level C6?


Dalam video eksperimen, terlihat bagaimana seseorang yang berada di sebuah klinik dokter setiap bunyi bel "Tiiit" orang-orang di sekitarnya berdiri. Nah kita lihat dia itu berdiri, yang yang melihat di sebelahnya berdiri akan berdiri juga tanpa tahu alasan berdiri.

Mengapa C3 tingkat mengaplikasi dianggap sebagai nalar yang rendah walaupun sudah bisa melakukan sesuatu materi. Misalnya, guru disuruh membuat RPP, begitu ditanya kenapa menyusun RPP-nya panjang-panjang, kemudian menjawab karena diperintahkan sepertu itu. Itulah konsep berpikir nalar yang masih di tingkat C3, tidak bisa melakukan tapi tidak pernah tahu mengapa melakukannya seperti itu, hanya tahu yang wajib seperti itu. 

Sebaliknya, di level C4 itu sudah melakukan, tetapi tahu apa yang dilakukan. Contohnya, anak-anak yang bisa membuang sampah di tempat sampah, kita tanya ke mereka, kenapa kamu buang sampah di tempat sampah, mereka menjawab kalau buang sampah sembarangan nanti mengurangi keindahan, akan muncul bau yang tidak sedap, nanti muncul banyak lalat, mengundang datangnya tikus, akan menimbulkan penyakit, dapat menimbulkan banjir, dan sebagainya. Jadi, mereka bisa memberikan penjelasan yang muncul dari dalam diri sendiri. Kenapa mereka sama-sama melakukan hal itu, tetapi mereka bisa menganalisis dirinya kenapa mereka melakukan hal tersebut?

Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, selama beliau berkeliling Indonesia memberikan pelatihan ke banyak guru selalu beliau bertanya ke beberapa dari mereka,  "Bapak ibu, Anda ke sini naik apa?" Sebagian besar mengatakan naik sepeda motor, ada juga yang naik mobil, sudah tidak ada jawaban jalan kaki. Kepada mereka yang naik sepeda motor beliau tanya, "Anda pakai helm?" Mereka itu menjawab "Iya kami pakai helm." "Kenapa nggak pakai helm?"

Kepada guru yang menjawab naik mobil juga ditanya, "Apa Anda pakai sabuk pengaman dan pakai seat belt?"
"Iya Pak," sahut mereka.
 "Kenapa nggak pakai sabuk pengaman?"

Selama ini semua guru yang pernah menghadapi pertanyaan tersebut akan sama jawabannya dengan mereka mengatakan saya pakai helm, "Saya pakai sabuk pengaman supaya tidak ditangkap polisi, supaya tidak ditilang," dan tidak ada yang menjelaskan kepada beliau agar kepala terlindungi dari bahaya kecelakaan.

Jadi, inilah bedanya level C3 dan C4. Walaupun sama-sama melakukan, C3 akan menjawab," Saya pakai helm biar nggak ditangkap Polisi," maka tingkat nalarnya lebih rendah. Inilah kurang lebih bedanya C3 dan C4, walaupun sama-sama melakukan.

Pada tingkatan C5 ini ada proses mengevaluasi, mereka melihat sampah bukan sekadar sampah. Sampah memang perlu dibuang di tempatnya, tetapi mereka bisa melihat sampah ini adalah sampah plastik. Plastik itu tidak bisa diurai sampai 25 tahun, untuk itu akan saya pisahkan antara sampah plastik dengan sampah kertas sampah organik dan yang sebagainya. Pada level ini orang sudah bisa mengevaluasi tindakannya. Jadi, menganalisis tindakannya, bukan tindakan orang lain. C5  adalah evaluasi tindakan yang ada cara yang lebih baik dari devaluasi tindakannya.

Sedangkan, C6 tingkat berpikir manusia yang paling tinggi adalah menciptakan. Dalam konteks membuang sampah, anak melihat sampah bukan sekadar sampah, tetapi sudah berpikir bagaimana caranya kita bisa membuat pupuk kompos, bagaimana caranya bisa didaur ulang atau tidak harus dalam bentuk produk. Misalnya, membuat sebuah gerakan kita mau bikin gerakan sekolah bersih sampah atau gerakan kampung bersih dari sampah, ini sudah levelnya C6. Jadi, yang disebut C6 itu tidak selalu harus punya produk yang baru, tetapi membuat sebuah gerakan membuat sebuah perubahan itu juga sudah levelnya mencipta. Inilah bedanya tingkat berpikir C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. Tingkat C6 adalah tingkat nalar tertinggi atau orang yang paling cerdas adalah orang bisa menciptakan, sedangkan tingkat nalar terendah adalah mereka yang hanya bisa menghafal.

Apa yang terjadi kalau proses belajar hanya sampai menghafal?



Orang-orang yang bernalar rendah antara C1 sampai C3 adalah orang-orang yang merasa mereka tidak punya pilihan mereka wajib harus melakukan ini tanpa paham, sedangkan orang-orang di level C4, C5, dan C6 selalu punya pilihan karena mereka bisa menganalisis. Analisis pun tidak tidak biner yang tidak satu dan nol bukan hanya pilihannya, hanya mau melawan dan tidak melakukan tetapi bisa menjelaskan mengapa saya melakukan ini. Nah, itulah orang-orang yang merdeka.

Dengan demikian, konsep merdeka belajar adalah konsep berpikir minimal di level C4, bukan hanya menghafal, bukan hanya bisa menjawab soal teorinya saja, bukan juga bisa melakukan, tetapi tidak tahu mengapa mereka melakukan hal tersebut. Itu bukanlah orang-orang yang merdeka karena orang-orang yang merdeka selalu punya penjelasan. Kenapa mereka melakukan hal ini tidak pernah terpaksa tidak pernah merasa wajib ada ketakutan, tetapi mereka bisa bergerak tanpa menunggu perintah. Inilah yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini, berhubungan dengan tantangan di era 4.0 yang semakin banyak pekerjaan yang hilang karena digantikan oleh teknologi oleh robot dan pekerjaan. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan pekerjaan yang menggunakan tingkat nalar yang rendah bisa kita lihat listnya. Contoh pekerjaan administrasi mengetik, memesan tiket, memesan makanan, menjawab telepon, itu semua tingkat nalarnya rendah bisa digantikan oleh teknologi. Ini tantangan kita. 

Beliau menambahkan, ada kajian yang mengatakan, 65% dari siswa yang berada di bangku SD saat ini nantinya akan bekerja di bidang yang hari ini belum tercipta. Dengan kata lain, 65% dari anak-anak kita ini dituntut untuk bukan menjadi pencari kerja, tetapi menjadi pencipta lapangan pekerjaaan karena mereka akan bekerja di bidang yang sangat baru, yang saat ini belum ada, dan sangat mungkin karena era beliau sekolah dulu belum ada. Beliau punya cita-cita mau bekerja di Google, di Facebook, di go-jek, dan lain sebagainya ada zaman belum ada semakin modern. Ini akan semakin mungkin untuk munculnya bidang-bidang baru. Nah inilah kenapa kita bahkan butuh anak-anak kita tidak berhenti di level C1 tapi mereka dituntut untuk di level C6 karena pekerjaan yang ada bidang yang ada tinggal tersisa 35% saat mereka waktunya bekerja nanti. 


Jack Ma mengatakan, kita tidak bisa mengajarkan anak-anak kita untuk berkompetisi, untuk bersaing dengan mesin karena kemampuan mesin itu lower order thinking skills hanya sampai C3 saja karena mereka hanya menjalankan perintah tapi level C3, C2, C1 nya jauh lebih hebat dalam berkompetisi dengan mereka.



Kesimpulannya adalah kalau manusia manusia itu ingin sukses di abad 21 ini mereka tidak bisa berhenti di tingkat Nalar C3 karena C3 itu akan mudah tergantikan oleh mesin. Mungkin kita sering mendengar konsep artifisial intelijen machine learning dan sebagainya yang menjelaskan seakan-akan teknologi komputer mereka. Memang bisa mengambil data begitu banyak dan cepat sebegitu presisi tapi tidak ada satupun mesin teknologi komputer yang bisa menjawab mengapa melakukan ini. Mereka tidak tahu, mereka hanya melakukan ini karena perintahnya. 




Kurikulum 2013  bertujuan untuk menciptakan atau menumbuhkan keterampilan abad 21, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, komunikasi, dan kreatif. Ini sudah berjalan 6tahun. Kita tidak akan mungkin bisa berpikir kritis kalau kita nalar masih rendah. Di level C3 tidak mungkin orang bisa berpikir kritis, tidak bisa berkolaborasi kalau level nalarnya juga baru sampai C3 walau masih bisa komunikasi dengan baik. Kalau levelnya hanya 3 apalagi kreatif, itulah tantangannya. Kemampuan berpikir tinggi, minimal di C4 bisa menumbuhkan keterampilan abad 21 dan kolaborasi.

Ada sebuah informasi menarik, tahun lalu beliau diajak berapa kali oleh komite ekonomi dan industri nasional berbicara tentang persiapan atau desain SDM di era digital. Beberapa narasumber diundang, salah satunya beliau mewakili ide-ide asosiasi e-commerce Indonesia seperti Bukalapak, Tokopedia. Ada asosiasi di toko-toko online. Menariknya, dari mereka mengatakan ternyata Indonesia itu kekurangan programmer. Walaupun kita punya banyak sarjana komputer, punya banyak anak lulusan SMK, ternyata kekurangan programmer. 
Perusahaan-perusahaan digital saat ini justru lebih banyak menggunakan programmer dari India atau dari Cina dan ini secara resmi ada di websitenya kominfo kalau Indonesia darurat programmer. Ini fakta yang benar, kita punya banyak lulusan SMK.

Beliau bertanya ke teman-teman di asosiasi, mengapa kita kekurangan programmer, apa ilmunya yang salah? Jawaban dari mereka sangat mengagetkan, mereka mengatakan bahwa bukan karena anak Indonesia yang mampu jadi Superman, tetapi sayangnya tidak ada yang mampu menjadi supertim. Artinya mereka bisa mampu secara hebat bekerja sendiri, tetapi ternyata saat diminta untuk bekerja dalam tim anak-anak kita tidak mampu karena mungkin tidak biasa di sekolah diajarkan untuk bekerja dalam tim untuk berkolaborasi dan hal ini mungkin juga harga karena para guru juga tidak mampu berkolaborasi.

Beliau  melihat dengan mata kepala sendiri saat beliau memberikan tugas kepada para guru dan tugas kelompok, terlihat sekali banyak guru yang tidak terbiasa, tidak tahu caranya bagaimana bekerja dalam kelompok misalnya saya memberikan sebuah tugas hampir tidak ada pembagian tugas. 

Ada kelompok yang terdiri dari 3 orang, satu kelompok 3 orang yang mengerjakan hal yang sama tiga-tiganya, padahal yang dikerjakan adalah hal yang sama sehingga waktunya habis terbuang. Di situ juga ada kelompok yang kerja satu orang, yang dua orang lagi hanya menonton temannya bekerja. Ada lagi yang mengobrol, yang satunya kerja jadi tapi tidak pernah beliau temui berkolaborasi. Bagaimana 3 orang atau lebih ini bisa membagi tugas bisa saling mengisi hasil yang sangat baik, lebih baik dari kerja sendiri, dan lebih cepat. Ini tidak akan terjadi di Tokopedia dan di Facebook, karena pekerjaan ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang programmer, ini bisa membutuhkan puluhan, bahkan ratusan programmer yang bekerja bersama-sama. Tentunya mereka harus mampu memiliki kemampuan untuk berkolaborasi, bekerja sama dengan yang lain, bukan sama-sama bekerja. Bekerja sama menghasilkan satu yang lebih cepat lebih baik karena punya otak untuk berpikir, pekerjaan juga dibagi bersama-sama. 

Ini menunjukkan betapa kemampuan berpikir pada tingkat penalaran tinggi itu memang yang dibutuhkan untuk kita bisa berpikir kritis. Jadi kalau menurut Edward De Bono, berpikir kritis itu juga disebut convergent thinking atau logical thinking atau vertikal thinking. Pada dasarnya, dia punya beberapa pilihan, tetapi bisa menentukan mana yang terbaik. Jadi disini adalah faktor intrinsiknya, faktor dari dalam diri sendiri, untuk melakukan sesuatu jauh lebih dominan daripada faktor ekstrinsik atau faktor dari luar yang memaksa dihasilkan.

Sebagaimana contoh sebelumnya, mereka yang membuang sampah di tempat sampah dengan memberikan penjelasan. Kalau tidak buang sampah nanti menimbulkan penyakit, bau, yang nanti cara berpikir nalarnya minimal di level C4. 

Guru-guru penggerak adalah guru-guru yang bisa bergerak tanpa perintah-perintah tanpa ada juknis, tanpa ada Permendikbud, tetapi bisa menjalankan langkah untuk bagaimana membawa anak-anak Indonesia ini menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 terbesar di dunia pada tahun 2045.

Mengenai kolaborasi secara singkat beliau menjelaskan, kalau kita mau menganalis tidak ada karya manusia yang diciptakan sendiri, artinya semua ciptaan manusia itu adalah hasil kolaborasi atau ada sentuhan orang lain. Jadi orang yang berada di level C6 pasti orang yang bisa berkolaborasi. Inilah pentingnya berkolaborasi, apalagi hubungannya dengan kita harus menjadikan anak-anak kita adalah pencipta kerja bukan pencari kerja lagi sesuai dengan tantangan industri 4.0. Anak dapat memiliki skill kreatif atau disebut juga Divergent thinking yang kalau dia diberi soal-soal, dia punya banyak jawaban yang disebut dengan creative thinking. Untuk bisa ke sana, tentunya nalarnya harus tinggi. Tidak mungkin orang yang kreatif berpikir rendah. Sayangnya, pendidikan itu justru membunuh kreativitas, hasil kajian Andrian menunjukkan semakin tinggi siswa belajar, semakin lama siswa belajar, semakin mereka tidak kreatif, dan itu yang harus kita perbaiki.

Mengenai bagaimana pemanfaatan nalar tinggi dalam memecahkan masalah sehari-hari dimulai dari berpikir kritis dulu, melihat apa masalahnya, kemudian mencari jawabannya, menentukan jawaban secara divergen, bisa berasal dari kolaborasi, bisa kreativitas sendiri, bisa juga hasil komunikasi, dan kemudian menentukan jawabannya dengan convergent thinking lagi atau berpikir kritis. Inilah konsep pendidikan pembelajaran abad 21. Konsep merdeka belajar itu sebetulnya adalah buah pikiran dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro. Mas menteri meluncurkan konsep Merdeka belajar karena yang pertama adalah ini target dari presiden kita, pada tahun 2045 Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 5 di dunia, penghasilan masyarakat Indonesia harus 27 Juta perbulan secara rata-rata seluruh Indonesia, dan konsep belajarnya harus diubah harus di level nalar tingkat tinggi, minimal C4 dan didorong untuk sampai C6. 

Kesimpulannya adalah merdeka belajar itu diawali kondisi pikiran, yang dimaksud dengan kemerdekaan adalah tingkat berpikir di level tinggi, minimal C4 atau menganalisis, C5 mengevaluasi, dan yang terakhir menciptakan C6. Yang harus kita dorong adalah pembelajaran yang berbasis nalar tinggi. Lupakanlah model pembelajaran hanya menghafal, hanya tahu teorinya atau bisa melakukan, tetapi tidak tahu mengapa harus melakukan hal tersebut, karena di sisi lain tantangan industri 4.0 harus menjadikan anak kita bahkan berada di level C4.

Tulisan di atas saya tulis seperti yang dituturkan dalam voice note Whats App oleh Pak Indra Charismiadji dalam workhop dengan beberapa perubahan. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan tik karena keterbatasan saya dalam menangkap pesan beliau secara lisan melalui voice note, mungkin ada informasi yang terlewat atau faktor human error dari saya. Menurut beliau, penuturan itu baru membahas yang luarnya, belum mendalam. Kalau ada hal yang ingin didiskusikan beliau bersedia untuk diundang ke sekolah-sekolah untuk menjelaskan konsep Merdeka Belajar.



Selasa, 04 Februari 2020

RESENSI BUKU "WARNA-WARNI KASIH BUNDA"


Judul buku: Warna-Warni Kasih Bunda
Penyusun: Momshols
Penerbit: SIP Publishing
Cetakan: Pertama
Tebal buku: 240 halaman


Membaca buku ini membuatku terus mengenang kasih mama yang tak berbatas. Baru beberapa halaman saja ku baca, air mata sudah menggenang.

Walau sekilas-sekilas dan aku hanya tertarik pada cerpennya saja (karena buku ini campuran sesuai judulnya warna-warni), tetapi aku tetap salut pada momshols (mommy-mommy sholihah) yang berusaha keras menyusun buku ini di tengah kesibukannya masing-masing. Menginspirasiku agar tidak beralasan sibuk, alih-alih malas menulis. Malu benar aku pada mommy yang usianya setengah abad tapi tetap produktif.

Bab awal ditulis oleh mom Syafrani Anida, tulisannya sangat menyentuh. Sampai halaman ke-40 aku sudah banjir air mata. Lanjut ke bab berikutnya kuikuti hingga sampai ke bab ke-4 yang ditulis mom @heninovitasari1 yang menyusun warna-warni perjuangan ibu. Sungguh aku bangga menjadi seorang ibu.

Aku pun bertahan membacanya sampai bab terakhir. Walau masih terdapat kesalahan ejaan di sana-sini, tetapi cerita-ceritanya masih tetap menarik untuk dibaca. Sampai bagian akhir cerita Gisel, sepertinya itu masih bisa dikembangkan menjadi novel sehingga alurnya tidak meloncat-loncat dan cepat habis. Geregetan, kok cepat selesai sih. Hehehe...maafkan ya, momshols. Tak disangka, penulis cerita bab terakhir tentang Gisel itu ternyata mom @ayudaushariani, mommy-nya @andikaismailf
dan Aditya, muridku di kelas 12. Terkesan aku tuh. Padahal, buku ini aku pinjam dari wali kelasnya Aditya. Begitu lihat buku ini, aku langsung membacanya. Dan benar, isinya sangat menyentuh. Terima kasih Bu @husnul.indra yang sudah meminjamkan buku ini.

Senin, 03 Februari 2020

MENULISLAH SESUAI PASSION-MU



Hari ke-18, 2 Februari 2020
Workshop Menulis Bersama Om Jay
Narasumber: Johan Wahyudi. 
Disusun oleh: Rosiana Febriyanti
========================

‘Renjana’ atau ‘Passion’ mengandung makna “Perasaan Atau Niat Yang Sangat Kuat Untuk Melakukan Sesuatu”. Semalam, telah hadir sosok penulis bernama Johan Wahyudi yang terlahir penuh talenta pada tanggal 4 Agustus 1972 di Sragen.

Apa saja pengalaman beliau? Berikut senarai pengalamannya.
1. Pengembang Silabus Kurikulum 2013 Kemdikbud 
2. Penulis Buku Teks Kurikulum 2013 Kemdikbud 
3. Penulis Modul Pasca UKG di PPPPTK Bahasa Kemdikbud 
4. Penulis Buku di Tiga Serangkai Solo 
5. Penulis Buku di Balai Pustaka Jakarta 
6. Penulis Buku di Pustaka Bandung 
7. Penulis Buku di Wangsa Jatra Lestari Sukoharjo 
8. Penulis Buku di Aviva Klaten 
9. Penulis Buku di Reka Cipta Pustaka Jakarta 
10. Penulis Buku di Griya Pustaka Publishing di Bekasi 
11. Pengelola Jurnal Ilmiah Dwija Sukawati Sragen 

Sudah ratusan buku dan ribuan artikel yang pernah ditulisnya. Sekarang konsentrasi beliau tertuju pada pelayanan bimbingan penulisan dan penyuntingan naskah. Jika ada yang perlu dikonsultasikan dengan beliau bisa menghubungi nomor 085867145612.  

Berikut adalah tulisan beliau mengenai passion.

*MEMPERTAHANKAN PASSION*
Oleh Johan Wahyudi 

Jika Anda pernah ke dokter, pasti ada perbedaan tarif ketika bertemu dokter umum dan spesialis. Tarif dokter umum berkisar 50 ribuan, sedangkan dokter spesialis minimal 300an ribu. Mengapa berbeda? Karena passion alias keahlian khusus yang dimilikinya. 

Dunia menulis mirip dunia medis. Penulis umum berkhayal sukses dengan segala jenis tulisan yang dibuatnya. Apakah laku? Jarang sekali laku dijual karena pembaca pasti jenuh. Tentu saja bosan. Mosok guru menulis politik. Nggak spesifikasi dong.

Berbeda halnya penulis spesialis. Mungkin spesialis puisi, cerpen, artikel, modul, buku, jurnal dan lain-lain. Secara umum bisa dibedakan menjadi dua, yakni spesialis penulis fiksi dan nonfiksi. 

Jika mampu bertahan dan mempertahankan passion pada jenis tulisan, pasti harganya mahal. Mahal sekali. Mungkin jauh lebih dari ekspektasi Anda sebagai penulisnya. 

Sebaliknya, jika keblinger dengan segala jenis tulisan, jangan mimpi pembaca tertarik. Melirik pun malas. Boro-boro membeli. 

Kepada peserta workshop beliau mengatakan, "Sekarang kembali kepada Anda. Mau dihargai mahal atau sekadar recehan. You have many choice, saat Anda menulis dan teman kagum dengan kualitas tulisan Anda, itulah passion Anda. Ibarat anak kecil, eksplorasi potensi yang dimiliki hingga ada teman yang kagum."

Menulis non fiksi khususnya buku pelajaran dirasakan lebih sulit dari menulis fiksi karena harus mengikuti kaidah baku yang tak boleh dilanggar. Berbeda dengan menulis fiksi yang bebas karena ada asas _licentia poetrica_ atau kebebasan berekspresi.

Menurut beliau, agar tidak pernah kehabisan ide menulis kita harus banyak mendengar, banyak membaca, dan banyak berinteraksi dengan banyak orang, khususnya orang-orang yang punya nilai lebih.

Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi penulis spesialis bergantung pada seberapa sering berlatih linear dengan kecepatan menguasainya. Sebaiknya, guru menjadi penulis spesial yang dekat dengan bidang atau tugas keseharian dan mencari sesuatu yang istimewa. Itulah keistimewaan penulis spesialis.

Guru dapat mengumpulkan cerita itu selagi masih mengingat peristiwanya. Koleksi sebanyak-banyaknya. Suatu saat, pilah dan pilih sesuai topiknya sampai dapat tersusun menjadi buku kompilasi cerita.

Demikianlah pesan Pak Johan yang telah memotivasi saya untuk mengejar passion saya, menulis. Satu yang masih menjadi PR saya, yaitu menemukan spesialisasi untuk tulisan saya sendiri. Keingintahuan saya begitu besar sehingga ingin menulis banyak hal. Apa itu salah? Tidak, semua dikembalikan lagi kepada kita karena hidup ini adalah pilihan. Sebagaimana seorang yang baru lulus kuliah kedokteran, ia dapat memilih spesialisasi di gigi, kandungan, atau yang lainnya. 

Yang saya ingat dari materi-materi sebelumnya adalah, tulislah apa yang kamu sukai dan yang kamu kuasai, menulislah setiap hari, menulislah yang dekat dengan keseharianmu, jangan takut salah karena bisa diedit kemudian, dan banyak membaca sebagai bahan bakar tulisan. Alhamdulillah, akhirnya lunas utang tulisan saya untuk materi semalam. 

Minggu, 02 Februari 2020

PELUK EMBUN PADA DEDAUN


Hari ini aku mencoba belajar menulis puisi tanka. Polanya 5-7-5-7-7, biasanya tentang keindahan alam.

Satu bait terdiri dari 5 baris:
Baris pertama 5 suku kata
Baris kedua 7 suku kata
Baris ketiga 5 suku kata
Baris keempat 7 suku kata
Baris kelima 7 suku kata

Pada puisi di atas, aku menyusunnya menjadi puisi 5 bait. Silakan mencoba, teman-teman.

Sabtu, 01 Februari 2020

BELAJAR MENYUNTING DENGAN BAPAK M. KHOIRI




Hari ke-17, 1 Februari 2020
Workshop Menulis Bersama Om Jay
Narasumber: Much. Khoiri
Disusun oleh: Rosiana Febriyanti

================================
Lahir di Desa Bacem, Madiun 24 Maret 1965, Much. Khoiri kini menjadi dosen dan penulis buku dari FBS Universitas Negeri Surabaya (Unesa); pengurus Pusat Literasi Unesa, serta Ketua Satuan Kehumasan Unesa. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993) dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996) ini  juga trainer untuk berbagai pelatihan motivasi dan literasi. Ia masuk dalam buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa (2014). Pernah menjadi Redaktur Pelaksana jurnal kebudayaan Kalimas dan penasihat jurnal berbahasa Inggris Emerald. Pernah menjadi redaktur Jurnal Sastra dan Seni. Selain menghidupkan beberapa komunitas penulis, kini ia mengomandani kegiatan Ngaji Sastra di Pusat Bahasa Unesa bersama para sastrawan. Karya-karyanya (fiksi dan nonfiksi) pernah dimuat di berbagai media cetak, jurnal, dan online—baik dalam dan luar negeri. Ia telah menerbitkan 34 judul buku tentang budaya, sastra, dan menulis kreatif—baik mandiri maupun antologi. Buku terbarunya antara lain: Jejak Budaya Meretas Peradaban (Jalindo-SatuKata, 2014), Rahasia TOP Menulis (Elex Media Komputindo, 2014) yang kini best seller, Pagi Pegawai Petang Pengarang (Genius Media, 2015), Much. Khoiri dalam 38 Wacana (Unesa University Press, 2016), SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (Unesa University Press, 2016), kumpuis Gerbang Kata (Satu-Kata, 2016), Bukan Jejak Budaya (Pagan-Press, 2016), Mata Kata: Dari Literasi Diri (Pagan-Press, 2017),  Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (Pagan-Press, 2017), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (Pagan-Press, 2017), dan Writing Is Selling (2018). Sekarang dia sedang menyiapkan naskah buku-buku tentang menulis dan karya sastra (puisi dan cerpen). Dia cukup aktif menulis di  www.kompasiana.com/much-khoiri sejak 27 Februari 2012 dan muchkhoiri.gurusiana.id


Beliau berbagi tentang bagaimana menjadi editor yang "baik", baik untuk naskah sendiri maupun naskah orang lain. Bagaimana cara kita menjadi editor buku yang baik?

Sebagai contoh beliau membagikan salah satu artikel dari bukunya yang bertajuk *Writing Is Selling* (2018).



Serial 'Teori' Menulis (30)
*MENYUNTING TULISAN*
Oleh MUCH. KHOIRI

JIKA kita sudah membuat draf pertama tulisan kita, tugas menulis kita belumlah selesai. Jangan _terburu_ publikasi ke media cetak atau medsos. Itu sembrono. Ada satu langkah penting lagi dalam proses menulis, yakni menyunting (editing) draf atau naskah tulisan kita. Nah, apa yang perlu kita lakukan dalam menyunting naskah?

Kita harus baca ulang draf kita, mungkin tidak hanya cukup sekali, bisa dua atau tiga kali. Dalam hal ini kita harus berdiri sebagai pembaca, dan karena itu harus objektif memberikan penilaian. Intinya, proses membaca naskah sendiri ini untuk menemukan kekurangan atau kelebihan dari draf kita--baik menyangkut ide, pengorganisasian, maupun penggunaan bahasa.

Secara umum kita bisa bisa menambahkan variasi, penekanan, koherensi, transisi, dan detail (rincian). Kita juga bisa mengurangi kalimat bertele-tele (mubasir), irelevansi, dan inkonsistensi. Bagaimana praktiknya?
Terkait dengan penyuntingan ide, jika kekurangan keluasan dan kedalaman, kita harus menyisipkan atau menambahkan ide ke dalamnya. Misalnya, kita belum memasukkan contoh, kasus, kutipan, anekdot, dan sebagainya; karena itu, kita harus segera melunasi semua kekurangan itu.

Sementara itu, jika naskah kita kelebihan ide, misalnya terlalu rinci, atau terlalu banyak contoh kasus, kita harus segera menyeleksi mana yang paling relevan dengan topik bahasan. Selain itu, mungkin contoh-contoh yang kita ajukan tidak relevan; dan karena itulah, mereka harus diganti contoh yang baru dan relevan.

Pengorganisasian ide tidak kalah pentingnya. Kita cermati bagian-bagian tulisan, apakah sudah ada pembuka (lead) yang memikat, penjelasan atau uraian yang proporsial, dan penutup yang mengesankan atau mengejutkan? Mungkin ketiga bagian ini tak berlaku kaku untuk puisi. Namun, hakikatnya, sebagaimana siklus hidup, tulisan seharusnya mengandung ketiga bagian itu.

Selain itu, sudah runtutkah ide-ide yang kita tuangkan di dalam naskah kita? Apakah klasifikasi ide telah tercermin di dalam tulisan? Apakah sudah ada kepaduan dari keseluruhan ide? Apalagi yang masih perlu ditambahkan atau dikurangi? Pertanyaan semacam ini perlu dikemukakan saat mencermati pengorganisasian tulisan.

Menyunting juga perlu membenahi penggunaan bahasa yang kita gunakan di dalam draf kita. Pertama hubungan subjek-predikat, kemudian pemilihan kata (diksi), dan penggunaan konteks yang tepat. Tentu saja, kita harus selalu berusaha untuk menggunakan kalimat-kalimat efektif, bukan hanya untuk melancarkan penyampaian maksud, melainkan juga untuk menunjukkan kecintaan kita berbahasa Indonesia: benar sesuai kaidahnya, baik sesuai konteksnya.
Lebih lanjut, proses penyuntingan juga diarahkan untuk membenahi ejaan, tanda baca, dan mekanika (tata tulis) tulisan. Nama orang, instansi, organisasi, kota, dan sebagainya harus dimulai dengan huruf kapital. Ada aturan-aturan main yang harus ditaati bersama, agar tertib berbahasa bisa diwujudkan. Ketelitian penulis bisa dilacak dari sisi ini.

Singkatnya, revisi dan menyunting dimaksudkan untuk memoles, mengasah, melengkapi, menyempurnakan naskah, baik isi (content) maupun struktur pengembangan. Tak terlewatkan adalah membenahi mekanika (tata tulis), tata bahasa, diksi, ejaan hingga akurasi karya pun akan tampak meyakinkan.

Dengan demikian, menyunting itu bukan pekerjaan mudah. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan kebahasaan intralinguistik dan ekstra linguistik, agar hasil suntingan kita memenuhi standar penyuntingan. Yang terpenting lagi, melakukan penyuntingan! Sebagai penulis, kita perlu (belajar) menjadi penyunting.
Setelah mencoret-coret, memotong, menambah, atau melengkapi draf kita, maka tibalah saatnya kita menyempurnakan draf itu.

Penyempurnaan draf dilakukan, bisa ditambah dengan membaca-ulang, guna memperoleh draf final yang siap diserahkan atau dikirimkan kepada pembaca lain.

Dalam mengerjakan penyuntingan, sangat boleh jadi bahwa kita akan mendapati perbedaan-perbedaan antara draf awal dan draf final, entah isi maupun organisasi dan bahasanya. Jangan panik; itu wajar. Maksudnya, saat kita menyunting, kita bisa berpikir lebih baik dibanding saat menulis draf awal, dan karena itu, kita berpeluang membenahinya.

Saya pernah membaca sebuah buku bagus berjudul _In Transitions_ (1990) yang memuat draf-draf awal penulis hebat dunia. Draf-draf itu masih penuh coretan, koreksi, dan sisipan--baik bentuk (struktur generik) maupun isi (ide, gagasan). Ada proses penyuntingan serius di sana. 
Ketika saya bandingkan draf yang ada di dalam buku _In Transitions_ dengan draf final di buku lain (buku referensi mengajar), terdapat perbedaan yang signifikan. Itulah bukti bahwa para penulis telah merevisi (menyunting) bentuk dan isi karya mereka. Artinya, para penulis kelas dunia pun juga menempuh pembelajaran untuk memperbaiki karya mereka.

Jadi, begitulah, bagi penulis, menyunting itu bagian tak terpisahkan dari pembuatan draf (drafting). Menyunting juga tugas penulis. Jika ada penulis enggan melakukannya, itu semata akibat kepercayaan diri yang terlalu besar akan kelayakan karya yang telah dihasilkannya; atau karena dia memiliki tim penyunting sendiri. Padahal, soal kualitas tulisan bukanlah kita sendiri yang menilainya, melainkan masyarakat pembaca.
*Much. Khoiri 'hanyalah' penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 34 buku dari Unesa Surabaya. Artikel ini pendapat pribadi.

Kapan waktu yang tepat kita mengedit tulisan kita? Bergantung urgensinya; tapi ada jeda waktu antara menulis dan mengedit, sehingga ada jarak emosional agar objektif melihat tulisan sendiri.

Jika tulisan segera digunakan, ya setelah istirahat sejenak, kita bisa langsung bisa edit tulisan sendiri. Tapi jika tidak buru-buru, ya tunggu beberapa saat.
Menjadi penulis, harus siap menjadi editor. Itu prinsip beliau, setidaknya menjadi editor utk tulisan diri sendiri.

Menjadi editor dimulai sejak beliau belajar menulis tahun 1986. Untuk karya orang lain, beliau menjadi editor sejak tahun 2010-an.

Yang paling penting dalam mengedit
adalah konten, pengorganisasian, dan bahasa. Yang paling duluan adalah konten.
Wewenang editor hanya sampai pada "membantu penulis menyampaikan maksud". Parafrase baik, mengubah kalimat yang tidak teratur menjadi efektif. Karena itu, editor kadang perlu menghubungi penulis untuk mengklarifikasi apa maksudnya. Dengan begitu, akan ketahuan mana yang bolong atau kelebihan, mana pula bahasa yang komunikatif atau tidak. Kalau konten sudah direview dan tidak ada masalah, tugas editor lebih sederhana, yakni mengurusi bahasanya saja.

Kepada peserta workshop beliau menjelaskan pula hal yang perlu dilakukan untuk mengedit cerita anak, editor perlu memasuki dunia anak karena memerlukan pendekatan tersendiri. Termasuk pilihan bahasa yang bisa dipahami. Seringlah kita observasi bahasa anak.

Kemampuan mengedit akan terasah selama kita mengedit kasus-kasus di dalamnya. Kita akan tahu bagaimana membantu logika penulis, termasuk bagaimana menata gagasan. Ada hubungan erat antara logika (pikiran) dan bahasa. Jika logika kurang tertib, bahasanya juga kurang tertib. Tampak sekali dari kalimat-kalimat yang dibuat, apakah jelas mana Subjek, Predikat, dst. Kalimat tidak perlu lengkap, yang penting jelas Subjek-Predikatnya.

Kalimat panjang, jika jelas subjek-predikatnya sih tdk apa. Dua baris-lah. Tapi kalau tidak jelas subjek-predikatnya, yang terdiri atas klausa-klausa membingungkan, ada baiknya dipotong jadi kalimat yang lebih sederhana. "Terakhir ini saya mengedit buku yang kalimatnya panjang-panjang menghabiskan napas. Satu paragraf satu kalimat run-on. Maka, ya hrs disederhanakan menjadi 3-4 kalimat."
Sebelum mengedit tulisan penulis pemula, sedapatnya editor mengontak penulis, untuk meminta izin dilakukan editing secukupnya. Lalu,  mengatakan kepada penulis untuk membandingkan teks aslinya dan hasil editing (ini terutama saat cek dummy). Untuk berkomunikasi dengan editor, kita sadari saja, andaikata kita di posisi mereka, apa yang kita harapkan dari editor, yaitu perlakuan yang manusiawi, bersahabat, didampingi.

"Saya punya dua lapis editor, lapis "halus" dan "kasar" (raw). Lapis "kasar" itu yg bekerja awal, dengan rambu-rambu yang sudah saya tetapkan. Dari mereka saya dan asisten inti saya lakukan editing halusnya. Beruntung saya jika saya ketemu partner editor yang mampu melakukan kasar dan halus.

Dengan semangat literasi, kita perlu membantu penulis pemula untuk berkembang. Kita editkan naskahnya, kita minta mereka belajar dari hasil editan kita (bandingkan dengan teks aslinya), kita minta mereka beri kesan-kesan. "Saya punya tim dengan jumlah lumayan. Tinggal jawil saja."

Sebenarnya, ada syarat mendasar utk jadi editor. Selain punya wawasan yang cukup luas, editor HARUS memiliki kemampuan kebahasaan yg mumpuni. Jika kenceng-kenengan, jadi editor harus memenuhi SKOR mahir ke atas dalam UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia). Menjadi sulit, agaknya, ketika syarat tersebut kurang terpenuhi. Agar berangsur-angsur terasa enteng, ya harus meningkatkan kemampuan kebahasaan diri, plus meluaskan wawasan. Kita bantu menertibkan sumber referensinya atau kita tawarkan agar penulis agar menulis ulang jika hanya terdiri dari copas-copas.


Resep bersabar dalam mengedit ala Pak Khoiri adalah mendasari diri dengan ungkapan, "Apa yang kauberikan adalah apa yang bakal kauterima."

Pengalaman yang membanggakan beliau adalah saat mengedit bukunya sendiri yang berjudul SOS (Sapa Ora Sibuk): Menulis dalam Kesibukan. Mengapa? Ini pernuh perjuangan habis-habisan dan hasilnya pun luar biasa. Beliau membuat draf (membuat draf) buku dalam 8 malam (karena siangnya bekerja), lalu beliau mengedit dan revisinya dalam sehari, dan di ujung malam kesembilan (alias dini hari ke-10) beliau sudah mengirimkannya ke penerbit.
Buku itu pun sukses dalam penjualannya.

Untuk naskah yang keluar dari tema beliau tawarkan kepada penulis untuk memperbaikinya atau ditinggal jika tidak mau, misalnya tidak menyertakannya dalam penulisan antologi. Kita dekati secara khusus orang yang demikian.

Wah, mata saya mulai mengantuk. Saya sudahi dulu ya sampai di sini. Semoga bermanfaat. Semoga peserta workshop lainnya bisa memahami ya, bahwa pekerjaan editor itu memang sungguh-sungguh bukanlah perkara mudah. Butuh ketelitian paripurna, lihat saja kacamatanya yang kian tebal. Hehe, ampun, Pak Khoiri. Karena saya juga guru bahasa Indonesia yang tugasnya tidak jauh dari mengoreksi tulisan murid-murid, setidaknya saya seperdelapannya atau sepersepuluhnyalah mengerjakan kegiatan edit-mengedit kalimat yang rumit.

Terakhir, Pak Khoiri berharap peserta workshop dapat bertindak sebagai editor, di samping sebagai penulis. Untuk berlatih menjadi editor yang baik, kita mulai dengan mengedit karya sendiri, dengan fokus kualitas gagasan/konten, pengorganisasian, dan penggunaan bahasa.

"Apal kaji karena diulang, apal jalan karena ditempuh."

Semoga sukses. Salam literasi.


MEMBANGUN KELUARGA MASA DEPAN



Resume seminar Parenting pada 1 Februari 2020, disusun oleh Rosiana Febriyanti
Pukul: 08.00-12.00
Tempat: Aula Darul Arqam, Pesantren Al Kahfi
Narasumber : Ustadz Yana Lukmanul Hakim Lc.
=============

Apa itu generasi Qurani?
Generasi terbaik yang istimewa sepanjang sejarah manusia. Generasi yang menjadikan Alquran sebagai tuntunan dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Generasi yang mencari perintah Allah untuk diri, keluarga, komunitas, lalu segera melaksanakannya.

Ibnu Masud berkata Sesungguhnya kami sulit menghafal al-quran tapi dimudahkan dalam mengamalkannya dan orang yang datang setelah kami mereka itu mudah menghafal al-quran tetapi sulit dalam menghafalkannya. Faktanya orang yang fasih berbahasa Arab saja tetapi orang Mesir tidak mengerti bahasanya.

Tujuan pendidikan adalah mengeluarkan manusia dari menghamba kepada selain Allah dan dari kesesatan. Tujuan pendidikan adalah: pertama, membaca atau menghafal yaitu tilawah dengan makna yang luas belajar Tahsin, Tafsir, tadabbur, dan memahami perintah larangan, serta hukumnya. Kedua proses berikutnya adalah Tazkiatun Nafs atau mensucikan jiwa. Ini adalah proses pengokohan hati. Alquran merasuk ke dalam jiwa dan menjadi suatu kenikmatan, dan inilah yang hilang pada hari ini.

Tahapan berikutnya, dengan jiwa yang bersih memahami dan langsung mengamalkan Alquran dan hadis dengan mencari hikmahnya. Alquran mewarnai kehidupan, sampai setiap keputusan-keputusan pribadi, keluarga urusan sehari-hari sampai urusan negara, semua diukur dengan Alquran. Perintah membaca sudah termasuk di dalamnya menghafal al-quran ada proses tadabbur atau memahami isinya. Dengan hati yang bersih kita mampu dan siap melaksanakan Alquran contohnya pada zaman Rasulullah ketika turun ayat Alquran tentang haramnya khamr maka para sahabat dengan taat dan ikhlas membuang semua persediaan khamrnya.

Contoh lainnya ada pada kisah yang terdapat dalam surat al-mujadilah saat itu nabi tidak memiliki jawaban yang kemudian dijawab oleh Allah. Nabi Muhammad menyerahkan urusannya dan bersabar menanti turunnya ayat mengenai permasalahan yang menimpanya.

Apabila setiap orang yang di dalam hatinya terdapat Alquran maka setiap urusannya akan diukur dengan Alquran. Contohnya, Ibnu al-jazari. Dia seorang ahli robotik dalam bukunya ditulis kaidah pembuatan robot yang mengingatkan kapan khalifah harus berwudhu dan sholat. Al-khawarizmi juga orang yang merumuskan aljabar menemukan angka nol yang kemudian memudahkan orang untuk berhitung. Bayangkan, apabila di dunia ini tidak ada angka nol, tetapi malah yang terkenal adalah orang Romawi  dengan angka romawinya yang sulit dibaca.

Oleh karena itu, Alquran harus ada di dalam jiwa setiap Mukmin dengan jiwa yang bersih manusia akan dapat memahami dan siap sedia mengamalkan Alquran dan hadis yang mewarnai kehidupannya sehingga Setiap keputusan keputusan pribadi keluarga sampai pada urusan negara berlandaskan Alquran.

======

Narasumber: Ust. Drs. H. Bahrain Suryantara, MR.

Surga hanya dapat dimasuki oleh orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah serta orang dalam. Orang dalam yang dimaksud dalam hal ini adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Syafa'at itu adalah ID card masuk surga. Kita bisa masuk surga apabila berdiri di belakang Rasulullah dan di belakang kita Insya Allah Adalah anak-anak kita.

Tugas kita dalam mendidik anak-anak adalah dalam rangka meneruskan risalah Rasulullah, yaitu berdakwah. Sesuai kaidah fiqih kalau kita tidak bisa meneruskan risalah Rasulullah jangan ditinggalkan semuanya kalau kita tidak bisa berdakwah kepada orang-orang di sekitar kita maka yang patut kita dakwah adalah anggota keluarga kita.

Kita tidak bisa memberi kalau kita tidak punya, sedangkan kalau kita tidak punya maka tugas kita adalah mencari apa yang tidak kita punya, karena syarat memberi cuma satu, yaitu punya.

Menjadi guru harus banyak membaca dan banyak berkarya jangan banyak gaya dan banyak lagak. Orang yang pura-pura sholeh akan beranggapan bahwa kalau saya menyampaikan hal yang benar dikhawatirkan riya', tetapi kalau saya menyampaikan yang salah, takut dosa.

Mengajar anak-anak adalah mengatakan apa yang kita lakukan dan lakukan apa yang kita katakan. Dalam Quran Surat Ar Radu ayat 21-24 disebutkan adalah bahwa kita akan masuk surga Adn sekeluarga.

Siapakah anak itu? Yang dimaksud anak itu bisa anak kandung, anak angkat, anak didik, dan anak mantu. Sementara yang disebut orang tua bisa orang tua kandung, guru mertua, dan orang tua angkat.

Apakah kita percaya bahwa sekecil apapun kebaikan di dunia yang kita lakukan untuk anak-anak akan dikembalikan kepada kita berikut bonusnya? Mengapa kita bisa mempercayainya? Karena Allah Maha baik maka Allah tidak membutuhkan kebaikan kita. Kebaikan anak-anak kita 100% dari kebaikan yang telah kita berikan kepada anak-anak.

Pahala terbesar seorang guru bukan karena mengajarnya, tetapi karena melanjutkan tugas Nabi yang belum selesai, yaitu mengajak ke jalan Allah. Begitu pula dengan orang tua, karena pendidikan itu merupakan kewajiban orang tua di rumah, dikembangkan di sekolah dan dipraktikkan di masyarakat. Motivasi mendidik anak adalah karena kita yakin bahwa masa depan adalah pengembalian dari masa lalu.

Tetapi ingatlah anakmu bukanlah milikmu. Didiklah anak sesuai zamannya. Investasi terbesar kita adalah melanjutkan tugas kenabian.

Mengapa sampai Setua ini kalau nilai ulangan dapat nilai 10 perasaan yang muncul adalah bahagia? Karena indikasi yang kita kerjakan itu benar bukan karena mendapat nilai yang tertinggi kalau unbk saja mendapat nilai 6 itu juga bisa menjadi nilai yang tertinggi.

Yang membuat kita bahagia adalah karena benar. Bermain tebak-tebakan saja yang tidak ada pahalanya kalau berhasil kita menjawab teka-teki itu dengan benar, perasaan yang muncul adalah bahagia. Kalau kita tidak bahagia Berarti ada sesuatu yang salah.

Ustad Abah mengacungkan ke dua jarinya ke arah peserta sambil menanyakan berapa jumlah jari saya? Kemudian ada yang menjawab 5 dan ada pula yang menjawab 2. Orang yang menjawab 2 berarti dia hanya menyimpulkan dari apa yang dia lihat. Begitu pula dengan anak atau murid-murid yang menjawab dua karena dia tahu dari apa yang dia lihat muka dari apa yang dipikirkannya sebelum menjawab.

Orang tua harus bisa masuk ke dunia anak-anak dan dunia anak-anak adalah bermain-main, karena kebahagiaan anak kecil adalah permainan. Akan tetapi mengajar anak kecil bukanlah pekerjaan main-main materinya harus serius, ajarkanlah hal yang benar. Contohnya, guru mengajarkan doa setelah membaca Alquran menggunakan lagu yang dinyanyikan, bukan nyanyian yang berisi doa. Maka, sekalipun harus bernyanyi doa harus benar dibaca sesuai tajwidnya dan fasih makhrajnya.

Ketika orang tua memarahi anaknya sambil membaca istighfar itu artinya mengomel dengan versi sholeh. Padahal anak itu titipan suci dan tidak punya dosa Kalau kita berhasil mendidik anak menjadi sholeh, hafiz, pintar kita bisa mendapatkan pahala berikut bonus-bonusnya. Hal tersebut dikarenakan Allah tidak mau berhutang budi kepada hamba-hambanya.

Ada kisah mengenai pengikut Firaun yang selamat dari hempasan laut ketika ditanya, mengapa kamu selamat dan dikeluarkan dari laut ia berkata saya juga tidak tahu. Ternyata dikarenakan ia suka kepada topi yang dipakai Nabi Musa walaupun orang itu benci sekali kepada Nabi Musa.

Dalam kisah lain disebutkan mengenai pelacur yang memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan kemudian pelacur itu bisa masuk surga. Warna anjing tersebut tidak bisa mengungkapkan rasa Terima kasih maka Allah lah yang berterima kasih kepada pelacur itu dengan memasukkannya ke surga.

Nah kalau mau menjadi guru yang baik maka nikah lah dengan orang yang baik agar mendapat keberkahan, doa yang diminta sewaktu muda sama, risaunya sama seiring doanya maka akan mempermudah keberkahan doanya.

Orang tua yang mengajar seperti mengajar di masa lalu, menggunakan cara-cara 20 tahun yang lalu, berarti menghancurkan masa depannya anak itu akan kehilangan 40 tahun usianya. Maka siapkan lah anakmu untuk 20 tahun yang akan datang.

Siapakah orang tua yang biasa-biasa saja orang tua yang biasa-biasa saja adalah orangtua yang biasa-biasa saja Allah tidak pernah salah menitipkan anak kepada orang tuanya karena Allah sudah percaya. Demikian pula Allah juga tidak pernah salah memberikan orang tua kepada anaknya. Tidak ada anak yang bodoh dan tidak ada orang tua yang bodoh.

Misalnya, ketika anak tidak bisa menghafal Alquran Berarti orang tua atau gurunya berhasil membuktikan kepada seluruh orang di dunia ini bahwa cara mengajarnya lah yang menjadikan anak itu tidak bisa menghafal Alquran. Anak yang luar biasa tidak pernah terlahir dari orang tua yang biasa-biasa saja, melainkan dari orang tua yang usahanya luar biasa. Maka Jadilah orang tua yang bukan biasa-biasa saja.

Jika ada yang salah pada anak biasanya orang tua hanya bisa saling menyalahkan padahal yang salah adalah kedua-duanya. Anak menjadi manja luar biasa dan kurang disiplin.

Standar kesuksesan orang bergantung pada lingkungannya. Pada abad ke 18 orang dikatakan sukses apabila bekerja sebagai petani, pada abad ke-19 orang sukses adalah orang yang bekerja di pabrik. Pada abad ke-20 orang yang sukses adalah orang yang ahli komputer dan informasi, sedangkan orang yang paling sukses pada abad ke-21 adalah orang yang kreatif dan berakhlak mulia.




Cara menanamkan akhlak mulia.
 1.  Kalau orang tua langsung menyahut dan menghampiri ketika anak memanggil sesibuk apapun maka anak akan belajar dari orang tua dan gurunya, anak langsung datang memenuhi panggilan orang tua dan gurunya.
 2. Orang tua yang tidak bosan mengusap-usap punggung anak sampai anaknya tertidur mengusap-usap kepala sampai anaknya tenang maka anak akan memijat membantu orang tua atau guru saat orang tua atau guru nya membutuhkan bantuan anak.
 3. Orang tua yang berusaha membahagiakan anak anaknya maka anak di masa depan akan selalu menahan emosi saat ia disakiti orang di sekitarnya.
 4. Orang tua yang bisa menahan emosi saat anak melakukan kesalahan yang besar sekalipun maka anak akan tumbuh menjadi orang yang mempunyai perhatian, menyenangkan dan bertanggung jawab. Anak akan belajar cara mengomel yang benar, dia langsung teringat wajah orang tuanya yang tetap tersenyum sabar walaupun disakiti orang lain.
 5. Orang tua menjadikan anaknya seperti raja atau ratu, memberikan pujian kepada anaknya dengan pujian yang tepat.

Fitrah manusia hidup dalam agama. Abdurrahman bin Auf adalah seseorang yang pandai kaya dan Saleh tetapi terkenal sebagai orang yang suka mengeluh Ya Rasulullah, mengapa saya diberi kekayaan terus padahal saya banyak memberi. Mengapa Allah memberi saya kekayaan.
Berbahagialah apabila anak datang menghampiri sambil mengeluh, kenapa kalau tidak mengaji bawaannya tidak enak kenapa kalau tidak salat saya merasa berdosa. Hal ini menandakan bahwa fitrahnya manusia adalah hidup dalam agama.

Siapa yang menunjukkan kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala. Orang tua dan guru adalah jalan kebaikan bagi anak-anaknya. Tugas orang tua dan guru adalah meneruskan risalah Rasulullah, mengajak ke jalan Allah, dan di sanalah letak pahala yang besar, yaitu surga Adn yang dijanjikan-Nya.

Wallahu A'lam Bishawab.